Jadikan Masjid untuk Syiar Ilmu

Penulis: Bayu Anggoro Pada: Rabu, 30 Mei 2018, 10:54 WIB Tausiah
Jadikan Masjid untuk Syiar Ilmu

MI/Bayu Anggoro

MASYARAKAT jangan ragu menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat di Tanah Air, dan tidak hanya sebagai tempat ibadah. Rumah Allah SWT ini harus berfungsi sebagai syiar keilmuan lainnya termasuk politik dan ekonomi.

Ketua MPR Zulkifli Hasan mengatakan itu saat memberi ceramah di Masjid Al Latiif, Bandung, Jawa Barat, Minggu (27/5) malam. Di hadapan para jemaah yang dikenal dengan sebutan Pemuda Hijrah tersebut ia berkali-kali mengajak generasi muda agar mau menghidupkan masjid dengan banyak kegiatan di luar salat, zikir, dan mengaji.

Zulkifli lalu menceritakan perjalanan Rasulullah SAW yang menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan muslim, termasuk untuk politik dan ekonomi. "Masjid tempat menyiapkan SDM (sumber daya manusia) yang andal. Dari masjid itulah peradaban yang paling maju saat itu berhasil ditaklukkan. Dari situlah muslim menaklukkan peradaban Romawi, Persia," katanya.

Ia juga menegaskan agar masyarakat tidak ragu menggunakan masjid sebagai tempat berpolitik agar muslim di Tanah Air bisa berdaulat. Terlebih, saat ini memasuki tahun politik, sehingga muslim harus lebih bersemangat lagi untuk berkegiatan di masjid, termasuk politik.

Ia kembali mencontohkan Rasulullah SAW pada masanya. "Maka lahirlah pada zaman itu ulama-ulama yang intelektual. Juga ulama yang saudagar, sekaligus ulama yang juga politikus andal. Jadi tidak ada pisah-pisah," katanya.

Zulkifli lalu mengkritisi adanya upaya pihak tertentu yang ingin menjauhkan masjid dari kegiatan selain ibadah. "Orang bilang di masjid enggak boleh ceramah politik. Di kita saja enggak boleh, di tempat lain boleh," katanya, seraya menyebutkan bahwa muslim harus sadar akan pentingnya menguasai perpolitikan.

Menurutnya, generasi muda harus sadar tentang pentingnya berdaulat secara politik. "Politik harus kita kuasai. Enggak bisa diminta. Harus direbut. Mari kita kembali sebagaimana dulu Rasullallah di Masjid Nabawi menggembleng dan mendidik para mujahid dengan ilmu agama, politik, ekonomi," tegasnya.

Dalam kesempatan itu ia mengungkapkan tentang banyaknya negara berpenduduk mayoritas muslim yang dirugikan akibat warganya minim kesadaran berpolitik. "Umat Islam dininabobokan bahwa masjid hanya untuk zikir. Ekonomi, politik, enggak boleh. Itu juga yang terjadi di Timur Tengah. Makanya Timur Tengah porak poranda," tuturnya.

Meski begitu, dia merasa bersyukur atas semakin banyaknya muslim di Indonesia yang sadar akan keislamannya. "Sekarang di kampus-kampus banyak yang berjilbab. Di Masjid Al Latiif, yang anak muda banyak. (Saya) merinding," katanya.

Jaga persatuan

Di tempat terpisah, Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto Muridan mengatakan bulan suci Ramadan merupakan momentum untuk menjaga persatuan dan kesatuan.

"Karena salah satu tujuan berpuasa yaitu supaya bisa mewujudkan komunitas yang takwa," katanya di Purwokerto, akhir pekan lalu.

Ia mengingatkan, dalam Alquran juga disebutkan mengenai pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan. Yakni Surah Ali Imran 103 yang berbunyi, 'Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai'.

Larangan bercerai-berai, kata Muridan, mengindikasikan mengenai pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan. Bila dikaitkan dengan bulan Ramadan, logikanya adalah puasa di bulan Ramadan diwajibkan secara kolektif. Kolektivitas mengharuskan persatuan.

Maka, dalam ibadah puasa, spirit persatuan harus senantiasa dijaga.

Oleh karena itu, tegasnya, Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk persatuan umat yang juga harus tetap dijaga pada bulan-bulan berikutnya.

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 20 Okt 2018 / Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dhuha : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK

Read More