Ganti Sendi, Gerak lebih Leluasa

Penulis: Eni Kartinah Pada: Rabu, 30 Mei 2018, 02:15 WIB Kesehatan
Ganti Sendi, Gerak lebih Leluasa

OPERASI penggantian sendi menjadi satu-satunya solusi untuk masalah osteoartritis (pengapuran sendi), mengingat sampai saat ini belum ada obat maupun terapi yang bisa memulihkan bantalan sendi yang aus/menipis.

Namun, hasil operasi penggantian sendi itu kadang menimbulkan ketidakpuasan pasien pascaoperasi, antara lain gerak sendi menjadi tidak seleluasa dulu. Sebagai solusi, para ahli mengembangkan teknologi pergantian sendi baru, yakni penggantian sendi sebagian.

"Osteoartritis disebabkan oleh ausnya bantalan sendi. Ketika bantalan sendi itu menipis bahkan menghilang, tulang-tulang pembentuk sendi pun beradu hingga timbul nyeri dan penderita sulit bergerak," ujar dokter spesialis ortopedi dan traumatologi Franky Hartono, pada diskusi kesehatan di Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ), Jakarta, pekan lalu.

Osteoartritis bisa mengenai semua sendi. Namun, yang paling sering kena ialah sendi yang menopang beban berat tubuh, yakni lutut.

Sampai saat ini, lanjutnya, tidak ada obat maupun teknik terapi yang bisa memulihkan bantalan sendi yang aus itu. Karenanya, satu-satunya jalan mengatasi osteoartritis ialah mengganti sendi lutut dengan sendi buatan (implan). Prosesnya disebut total knee replacement (TKR).

Prosesnya, seluruh bagian sendi lutut dipotong dan dibuang, lalu dipasang implan yang terbuat dari logam titanium dan polietilen. Prosedur itu menjadi solusi untuk membebaskan penderita dari gangguan nyeri dan memungkinkannya untuk bergerak kembali.

"Sayangnya, meski nyeri teratasi dan bisa bergerak kembali, 20% dari pasien yang menjalani TKR tidak puas dengan hasilnya," ujar Franky yang juga Kepala Divisi Hip, Knee, and Geriatric Trauma (HKGT) Orthopaedic Center SHKJ itu.

Ketidakpuasan itu terutama karena gerak lutut tidak seleluasa dulu. Misalnya, tidak bisa menekuk sempurna sehingga penderita sulit untuk salat, bersila, atau berkebun.

Itu terjadi antara lain karena seluruh sendi lutut diganti dengan sendi buatan.

"Bagaimana pun, sendi buatan Tuhan jauh lebih sempurna daripada buatan manusia," ujar dokter spesialis ortopedi dan traumatologi dari Orthopaedic Center SHKJ, Karina M Besinga, pada kesempatan sama.

Sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut, para ahli mengembangkan teknologi unicompartmental knee arthroplasty (UKA) atau penggantian sendi sebagian. "Berbeda dengan TKR, pada teknik ini hanya bagian sendi yang rusak yang diganti dengan implan," kata Karina.

Jadi, lanjut dia, teknik UKA mempertahankan bagian-bagian sendi asli yang masih berfungsi baik, termasuk ligamen-ligamennya. Dengan demikian, hasilnya lebih alami, termasuk keleluasaan gerak pasien pascaoperasi.

Keuntungan lain, waktu pemulihan lebih cepat karena pembedahan lebih kecil dan sendi yang diganti hanya sebagian.

Kondisi khusus
Namun, Karina menekankan, metode UKA hanya bisa diterapkan untuk kasus osteoartritis dengan kerusakan bantalan sendi di bagian dalam/tengah sendi lutut, bukan keseluruhan bantalan sendi (lihat grafik).

"Untuk menentukan apakan pasien lebih cocok menjalani penggantian sendi sebagian atau total, sebelumnya dilakukan pemeriksaan seksama, antara lain pemeriksaan sinar X (rontgen) dan MRI," jelas Karina.

Dengan pemeriksaan MRI, lanjutnya, kondisi jaringan lunak (nontulang) di dalam sendi bisa diketahui, termasuk ligamen. "Kalau ligamennya masih bagus, dipilih operasi penggantian sendi sebagian, kalau sudah rusak juga, dipilih penggantian sendi total."

Pada kesempatan sama, dokter spesialis ortopedi dan traumatologi dari Orthopaedic Center SHKJ, Daneil Marpaung, menjelaskan sejatinya pasien tidak perlu kecewa ketika dokter memilih untuk melakukan operasi penggantian sendi total. Meski ada risiko 20% pasien tidak puas dengan hasil akhirnya.

"Tim dokter tentu mempertimbangkan dengan saksama dalam memilih jenis operasi terbaik yang akan dilakukan, disesuaikan dengan kondisi pasien. Pasien pun akan diajak berdiskusi tentang pilihan tersebut," katanya.

Terkait dengan risiko ketidakpuasan pasien, menurut Daniel, antara lain disebabkan harapan pasien yang terlampau tinggi. Misalnya, ingin pulih sempurna seperti dulu sebelum terkena osteoartritis. Padahal, sendi implan buatan manusia tentu punya kekurangan.

"Di sinilah pentingnya sesi konsultasi dokter-pasien sebelum operasi sehingga pasien paham bahwa solusi terbaik juga memiliki kekurangan." Misalnya, kata Daniel, sesudah operasi nanti ada risiko lutut tidak dapat menekuk atau diluruskan secara maksimal. Tapi itulah solusi terbaik yang ada yang bisa mengatasi nyeri pasien dan memungkinkannya untuk bisa berjalan kembali tanpa kursi roda.

"Pasien perlu memahami hal itu," pungkas Daniel. (H-1)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More