Mendaras Alfurqan di Tiongkok Kecil

Penulis: Furqon Ulya Himawan Pada: Selasa, 29 Mei 2018, 15:04 WIB Islam Nusantara
Mendaras Alfurqan di Tiongkok Kecil

MI/YAYA ULYA

MALAM masih panjang. Jarum jam baru menunjuk pukul 22.00 WIB. Puluhan santri putra di Pondok Pesantren Kauman, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, pada akhir pekan lalu, Minggu (20/5), masih meriung di halaman pondok. Mereka bersarung dan berpeci hitam dan baru saja menyelesaikan ngaji kitab. Di depan halaman Pondok Pesantren Kauman terdapat bangunan mirip joglo. Di bagian depan bangunan tergantung lampion bundar berwarna merah di kanan dan kiri. Di lantainya terdapat karpet hijau bercorak kubah masjid. Sebuah perpaduan antara Jawa, Tiongkok, dan Islam. Bangunan itu merupakan musala Pondok Pesantren Kauman.

Seorang lelaki masuk lewat pintu samping, mengenakan sarung, dan berpeci hitam. Pengeras suara musala menyala, lamban, dan tidak terlalu keras. Suara lantunan ayat-ayat suci Alfurqan mulai mengalun di malam yang gerimis.

Qomarudin, nama lelaki itu. Dia salah satu santri Pondok Kauman. Ia mendaras dengan khidmat dan suara lirih. Sudah menjadi adat setiap malam di Ramadan, santri Pondok Pesantren Kauman mendaras di musala. Waktunya sehabis ngaji kitab, mulai pukul 22.00-23.00 atau sampai tengah malam. Biasanya yang ikut mendaras ialah pengurus pondok. "Kalau hari biasa, waktunya sehabis salat Subuh," kata Muhammad Dhiyauddin, pengurus pondok yang berbincang kepada Media Indonesia.

Pondok Pesantren Kauman berada di lingkungan kampung pecinan. Tepatnya di Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Desa itu merupakan perkampungan Tionghoa. Jika ditilik dari sejarah, Lasem merupakan wilayah pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa dan tempat mendaratnya armada besar Laksamana Cheng Ho di Jawa.

Ajaran kerukunan

Dari sejarah itu, Bupati Rembang ingin Lasem selalu dikenang sebagai Tiongkok kecil dan mencanangkan Lasem sebagai Kota Pusaka. Sebuah kota yang dulunya menjadi kota pelabuhan dan perdagangan yang mempertemukan dan mempersatukan kaum santri, Tionghoa, dan Arab. KH Zaim Ahmad Ma'shoem, pengasuh pondok itu, pun selalu mengajarkan kerukunan dan saling menolong sesama umat manusia. Meski berbeda agama, manusia harus saling menolong dan tidak boleh melakukan tindakan kekerasan karena Islam itu merahmati seluruh alam semesta. Begitu juga petuah kiai yang selalu diingat para santri. Ajaran itu bisa terlihat dari lampu gantung di musala yang terbuat dari lampion berwarna merah. "Pesantren ini berada di perkampungan pecinan. Abah (KH Zaim Ahmad Ma'shoem) selalu mengajarkan untuk toleransi kepada siapa saja," kata Dhiyauddin.

Dia duduk di samping Qomarudin, membuka Alfurqan lalu ikut mendaras bersama Qomarudin. Mereka berdua sangat khidmat. Saling menyimak. Malam itu mereka mendaras juz 30. Tak banyak yang ikut mendaras, seperti kata Dhiyaudin. Yang rutin mengikuti hanya pengurus dan jumlahnya sekitar 3-5 orang. Santri lain mendaras sendiri bersama santri lain di kamar pondok atau di teras musala.

Benar. Di sebuah bilik yang menjadi kamar santri dan letaknya di samping musala. Seorang santri sedang mendaras. Di luar musala, juga terdapat seorang santri yang sedang mendaras. Malam semakin larut, gerimis masih turun, dan para santri terus mendaras. Suasana malam Ramadan di Pondok Kauman yang terletak di Tiongkok Kecil memang khidmat, damai. Semoga kedamaian dan toleransi yang diajarkan Pondok Kauman terus lestari dan memberikan kedamaian kepada seluruh semesta. (H-5)

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 20 Okt 2018 / Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dhuha : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK

Read More