Puasa Memupuk Kesabaran

Penulis: Syarief Oebaidillah Pada: Minggu, 27 Mei 2018, 16:10 WIB Tausiah
Puasa Memupuk Kesabaran

ANTARA/YUSUF NUGROHO

SABAR merupakan fenomena kejiwaan yang solid dalam menangkal dan menghadapi tantangan kehidupan. Kesabaran itu bukan lemah dan putus asa, melainkan kemampuan untuk membentengi diri dari kemungkinan putus harapan.

Berbagai ayat dalam Alquran menegaskan urgensi sabar. Bahkan, secara spesifik Alquran memerintahkan umat untuk mencari pertolongan Allah SWT melalui sabar dan salat.

Lebih jauh Surah Al Ashr menyimpulkan kesuksesan hidup itu hanya dapat dicapai dengan iman, amal saleh, saling mengingatkan pada kebenaran, dan kesabaran. Para ulama menyebutkan, iman, amal saleh, dan wasiat kepada kebenaran hanya dimungkinkan jika dibangun di atas kesabaran.

"Puasa merupakan upaya menahan diri dari dorongan nafsu manusia. Karenanya, di sini terjadi korelasi antara puasa dan sabar. Bahwa dunia hanya akan bisa dikontrol dengan kekuatan sabar dan puasa adalah jalan terefektif untuk membangun kesabaran itu," kata Imam Islamic Center of New York, 2001-2010, Shamsi Ali, kepada Media Indonesia, Jumat (25/5).

Ia menjelaskan, Ramadan disebut juga sebagai syahrus shobar atau bulan kesabaran. Bagaimana tidak, puasa yang identik dengan menahan diri itu justru menjadi substansi kesabaran. Sesungguhnya salah satu bentuk kesabaran ialah sabar menghadapi godaan-godaan nafsu duniawi kita.

Sebagian ulama, kata Shamsi, membagi sabar pada empat kategori. Sabar menghadapi musibah-musibah hidup, sabar dalam melaksanakan ajaran Allah dan Rasul-Nya, sabar dalam meninggalkan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya, dan sabar dalam menghadapi bunga-bunga semerbak keindahan duniawi.

Dari keempat kategori itu , lanjutnya, para ulama sepakat sabar menghadapi godaan dunia ialah tingkatan kesabaran tertinggi. Sebabnya, kenyataannya memang banyak manusia gagal menghadapi musibah atau gagal melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, atau gagal meninggalkan larangan agama karena pengaruh dan godaan dunia.

"Di sinilah puasa memainkan peranan kunci dalam membangun kesabaran itu. Sebab, puasa memang sejatinya melatih diri untuk menahan diri dari godaan-godaan dunia yang dahsyat. Al-imsak atau menahan diri itu adalah melatih jiwa untuk tidak terbuai atau jatuh dalam perangkap perbudakan nafsu duniawi kita," kata Shamsi yang juga kerap berbicara tentang toleransi juga dialog keagamaan di Amerika Serikat itu.

Makin ganas

Ia menegaskan, puasa yang kita lakukan hendaknya mampu membangun jiwa kesabaran sehingga siap menghadapi tantangan hidup yang semakin ganas. "Materialisme dan kecenderungan hidup hedonistik yang didorong oleh lingkungan yang penuh kompetisi memerlukan kesabaran besar," tuturnya.

Shamsi mencontohkan Nabi Ayub yang digelari ni'mal 'abdu (hamba yang terbaik) karena kesabaran-kesabarannya dalam menghadapi semua tantangan hidup. Dari musibah-musibah hingga godaan-godaan dunia dilalui dengan jiwa yang tegar dan penuh kesabaran.

"Mengutip Alquran menjelaskan bahwa sesungguhnya hanya Allah yang akan memberikan pahala kepada orang-orang yang bersabar di hari akhir nanti," kata Shamsi.

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 20 Okt 2018 / Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dhuha : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK

Read More