Bunga Nasional

Penulis: Ronal Surapradja Pada: Minggu, 27 Mei 2018, 16:08 WIB celoteh
Bunga Nasional

MI/ROMMY PUJIANTO

APRIL saya berkesempatan memenuhi janji kepada orangtua untuk mengajak ke Jepang menikmati keindahan bunga sakura. Karena membawa orangtua, saya menggunakan jasa tour and travel supaya mudah segala sesuatunya. Rombongan kami jumlahnya 25 orang dan saya menjadi yang paling muda hehe.

Rata-rata usia mereka sekitar orangtua saya dan tujuan mereka hanya satu, melihat bunga sakura. Lucunya ketika sampai Jepang, isinya orang Indonesia semua. Saya kira orang Jepang yang sedang piknik di bawah pohon sakura, lah kok logatnya Jawa Timuran haha. Pokoknya di mana ada pohon sakura di sana ada orang Indonesia berfoto. Pindah lokasi objek wisata, kalau ada pohon sakura, ya foto lagi, padahal menurut saya sama saja hehe.

Saya berpikir apa kelebihan bunga sakura hingga bisa menarik wisatawan dari berbagai belahan dunia untuk datang ke Jepang, padahal di musim itu harga tiket pesawat dan penginapan lebih mahal daripada musim lain. Saya kira yang menjadi alasannya ialah saat bunga sakura mekar (cherry blossom) di Jepang memang membuat pemandangan jadi indah. Yang membuatnya unik ialah waktu mekarnya hanya sekitar dua pekan karena sakura hanya bisa tumbuh di suhu tertentu. Itulah yang membuat harga yang mahal menjadi tidak masalah bagi wisatawan yang ingin melakukan hanami (melihat bunga sakura) karena jika tidak bisa menyaksikannya tahun ini, mereka harus menunggu setahun.

Sebetulnya ada banyak negara yang identik dengan bunga nasional, seperti Belanda dengan tulip, Prancis dengan Iris, atau moogoonghwa yang dalam bahasa Inggrisnya rose of sharon yang merupakan bunga nasional Korea Selatan yang bentuknya mirip dengan bunga sepatu yang ada di Indonesia.

Namun, rasanya tetap tidak ada yang menyaingi kepopuleran bunga sakura. Rasanya belum pernah ada teman yang sengaja ke Belanda hanya untuk melihat bunga tulip.

Bagaimana dengan Indonesia yang terkenal akan keindahan alamnya. Jangan salah, Indonesia memiliki bunga nasional bukan hanya satu, melainkan tiga. Nah kalau selama ini kita hanya tahu melati sebagai puspa bangsa, ada juga anggrek bulan sebagai puspa pesona, dan bunga padma raksasa (Rafflesia arnoldii) sebagai puspa langka.

Saya kira untuk urusan makna filosofis dan fungsi, melati tidak kalah oleh sakura. Namun, melati yang bisa tumbuh dan mekar sepanjang tahun membuatnya kurang spesial jika dibandingkan dengan sakura. Bagaimana dengan anggrek bulan sebagai puspa pesona? Mungkin karena sifatnya yang epifit, anggrek bulan memang mudah tumbuh sehingga bukan hanya Indonesia yang memilikinya, melainkan juga Malaysia, Filipina, dan Australia.

Nah jika sakura hanya mekar selama rata-rata dua minggu dalam setahun, sebetulnya bunga padma raksasa (Rafflesia arnoldii) bisa jadi lawan karena hanya mekar sempurna dalam 5-7 hari sebelum layu dan mati.

Wajar ia disebut sebagai puspa langka karena jumlahnya sedikit dan biasanya tumbuh di dalam lebatnya hutan dan sedikit orang bisa berfoto dengannya. Coba ingat-ingat ada berapa temanmu yang pernah berfoto dengan Rafflesia arnoldii? Langka bukan? hehe

Sambil melihat foto-foto pemandangan indah mekarnya bunga sakura di Ueno Park Tokyo, Takayama, dan di Shirakawa-go saat ke Jepang kemarin, saya berkhayal suatu hari nanti banyak wisatawan asing yang sengaja datang ke Indonesia untuk melihat keindahan bunga melati, anggrek bulan, dan padma raksasa.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More