Derek Manangka dan Militansi Wartawan

Penulis: Gantyo Koespradono, Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta Pada: Sabtu, 26 Mei 2018, 21:25 WIB Opini
Derek Manangka dan Militansi Wartawan

Ist

SEPANJANG hidupnya hingga Tuhan memanggilnya pulang hari ini (Sabtu, 26 Mei 2018), Derek Manangka mengukuhkan dirinya sebagai wartawan militan.

Segala sesuatu yang dimiliki, semua ditujukan untuk memperkaya batinnya sebagai seorang wartawan.

Setahu saya, ia tidak pernah (maaf) "melacurkan diri" atau tergiur sebagai politikus menjadi anggota DPR misalnya, meskipun kemampuan dan pengalamannya memungkinkan untuk itu.

Apa yang tidak ada pada Derek Manangka? Dunia belantara jurnalistik pernah dijajakinya, sehingga ia benar-benar layak kalau mendapat predikat sebagai wartawan super tangguh.

Tidak berlebihan rasanya kalau saya menyebut Derek adalah generasi wartawan berkelas pasca Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, Adinegoro, atau Goenawan Mohamad.

Militansinya sebagai wartawan sudah terlihat saat ia masih aktif sebagai mahasiswa di Perguruan Tinggi Publisistik (PTP) yang sekarang bernama Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta.

Waktu itu ia merangkap sebagai jurnalis di surat kabar Sinar Harapan.

Tak cukup berbekal ijazah SMA, ia merasa perlu menempa dirinya sebagai jurnalis di kampus itu, apalagi PTP yang kemudian berganti nama menjadi Sekolah Tinggi Publisistik sebelum berubah menjadi IISIP didirikan oleh wartawan senior koran Abadi, Ali Mochtar Hoeta Soehoet, rekan Mochtar Lubis.

Pada era 1970-1980-an, kampus ini banyak melahirkan wartawan andal. Tercatat, Jakoeb Oetama juga pernah kuliah di kampus ini. Sangat mungkin, Derek Manangka juga berobsesi menjadi wartawan hebat.

Obsesinya terwujud sudah, hingga akhir hayatnya pada Sabtu (26 Mei 2018) pukul 09:30 ketika Sang Khalik memanggilnya pulang: "Anakku Derek, pengabdianmu di dunia (Indonesia) sudah cukup. Saatnya kamu pulang hidup abadi bersama-Ku".

Militansi Derek sebagai seorang jurnalis benar-benar total. Saat saya masih menjadi wartawan "unyu-unyu", Derek sudah punya nama di Sinar Harapan.

Saat kapal Tampomas tenggelam 37 tahun yang lalu -- KMP Tampomas tenggelam di perairan Masalembo --, kami sama-sama meliput untuk mencari perkembangan terbaru di kantor Pelni, Kemayoran Jakarta Pusat.

Waktu itu Dirjen Perhubungan Laut adalah JE Habibie. Kami meliput hingga larut malam untuk mengetahui jumlah korban. Karena tidak ada kejelasan informasi, saat bertemu dengan Habibie, Derek marah-marah sambil menunjuk hidung pejabat ini.

Saya masih ingat apa yang dikatakan Derek pada saat itu: "Bapak sebagai pejabat, apa yang Bapak kerjakan! Lihat itu keluarga korban menunggu sejak siang dan Bapak telantarkan begitu saja".

Dipojokkan seperti itu, Habibie pun menjelaskan duduk perkaranya. Derek langsung mencatat dan menjadikannya sebagai berita. Saya yang waktu itu belum tahu taktik mendapatkan informasi, akhirnya dapat berita juga dari cara Derek menggali informasi dari JE Habibie.

Tak dinyana delapan tahun kemudian kami, persisnya tahun 1989, kami bertemu di Media Indonesia. Di koran ini Derek pernah dipercaya sebagai koordinator liputan.

Darinya, kami para wartawan digembleng habis-habisan oleh Derek. Setiap pagi pukul 08.00 ia memimpin rapat perencanaan liputan. Setiap wartawan, tanpa kecuali, wajib hukumnya untuk melaporkan apa yang akan dikerjakan pada hari itu.

Sebelum pulang kantor, rata-rata di atas pukul 22.00, kami wajib menuliskan rencana liputan kami dalam log-book. Jika kami lalai menuliskannya, kami pasti akan kena semprot Derek Manangka.

Sebagai wartawan yang memiliki militansi sangat tinggi, Derek punya relasi luas. Ia punya kemampuan lobi tingkat tinggi. Tidak aneh jika saat ia meninggal dunia, banyak tokoh publik dan pejabat yang melayat.

Wawasan politik dalam dan luar negerinya tak diragukan lagi. Maka wajar jika pada era tahun 1990-an, ia bersama empat wartawan Indonesia diundang pemerintah Israel untuk berkunjung ke negeri itu.

Di negeri itu, Derek dan kawan-kawan diterima Perdana Menteri Israel Yitzak Rabin dan melakukan wawancara. Sebagai asisten redaktur, waktu itu saya bertanggung jawab mengedit berita-berita untuk halaman satu Media Indonesia.

Derek mengirim berita hasil wawancara dengan Yitzak Rabin via faksimili. Harap maklum waktu itu belum ada email, apalagi What's App.

Saya yang mendapat tugas mengedit berita yang ditulis Derek. Di bagian tengah naskah, Derek menulis dengan mengutip kata-kata Rabin kira-kira seperti ini: "Sampai saat ini, kami (Israel) tidak pernah membenci dan memusuhi Indonesia. Bahkan ketika kasus Timor Timur dibawa ke persidangan PBB, kami juga mendukung Indonesia. Tapi, saya tidak habis pikir mengapa rakyat Indonesia membenci kami. Terus terang saya tidak bisa menjawab jika anak dan cucu saya bertanya mengapa Indonesia membenci Israel."

Teras berita (lead) yang dibuat Derek Manangka saya ganti dengan keterangan PM Israel Yitzak Rabin di atas dan keesokan harinya tampil di halaman 1 Media Indonesia.

Berita yang ditulis Derek langsung membuat negeri ini heboh. Di Jakarta, aksi demonstrasi merebak. Ridwan Saidi memprovokasi para pengunjuk rasa dan berorasi dengan menyebut Media Indonesia koran zionis dan antek Israel. Para pengunjuk rasa menuntut Media Indonesia menyampaikan permintaan maaf kepada umat Islam.

Tidak sampai lima tahun Derek bergabung di Media Indonesia. Belakangan saya mengetahui Derek mengelola majalah Golf Indonesia.

Dia juga menjadi penulis tetap di portal berita Inilahdotcom. Analisis politik dalam tulisannya sangat tajam.

Hingga menjelang akhir hayatnya ia masih aktif menulis Catatan Tengah di Facebook. Terakhir, tulisannya ia posting pada hari Kamis 24 Mei lalu.

Tulisannya selalu mendapat komentar dari banyak orang dan memunculkan pendapat pro dan kontra.

Profesi menjadi jurnalis rupanya tak mengenal pensiun, apalagi wartawan seperti Derek Manangka yang sangat militan. Hanya Tuhan yang sanggup memensiunkan Derek Manangka.(*)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More