Tak Henti Menebar Aksi Nyata

Penulis: RIZKY NOOR ALAM Pada: Minggu, 27 Mei 2018, 08:30 WIB Weekend
Tak Henti Menebar Aksi Nyata

MI/ BARY FATHAHILAH

BULAN suci Ramadan identik sebagai ladang amal yang luas bagi umat muslim. Berbagai ritual ibadah dan amalan dilakukan guna meraih pahala sebanyak-banyaknya, termasuk membayarkan zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

Fakta bahwa sebagian besar masyarakat memiliki pemahaman yang terbatas menjadi aral yang melintang. Padahal, potensi ZIS dan wakaf amat besar, hingga ratusan triliun.

Inilah yang menjadi penyemangat Dompet Dhuafa (DD), salah satu lembaga filantropi Islam, untuk terus berkiprah. Bagaimana strategi DD dalam mengumpulkan donasi di era para milenial dan disrupsi saat ini?
Berikut petikan wawancara Media Indonesia dengan Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi, Imam Rulyawan, di kantornya, Jakarta, Selasa (8/5).

Apa yang saat ini fokus dikerjakan DD?
Ramadan tahun ini kita mengusung konsep 25 tahun Dompet Dhuafa membentang kebaikan, dengan melakukan tindakan nyata satu hari satu kebaikan. Pada 2 Juli 2018 nanti, usia Dompet Dhuafa 25 tahun, kami sebagai lembaga filantropi Islam berkhidmat pada pemberdayaan duafa.
Melalui pendekatan budaya dengan kegiatan charity, empowerment, filantropis dan  social enterprise, kita menginginkan pengentasan terhadap kemiskinan bisa lebih bermakna lagi. Pengentasan kemiskinan tidak hanya dengan pendekatan charity, tapi juga pemberdayaan atau  social enterprise yang sumber dananya menggunakan dana zakat, infak, sedekah (ZIS), dan wakaf.
Yang wajib di bulan Ramadan adalah zakat fitrah, tantangannya 70% masyarakat Indonesia tahunya zakat itu hanya zakat fitrah, yaitu zakat beras 3,5 liter. Padahal, ada zakat penghasilan, zakat perniagaan, zakat profesi, zakat pertambangan, bahkan ada zakat perhiasan yang disimpan.
Menurut kajian dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, potensi zakat lebih dari Rp200 triliun, tapi belum teroptimalisasi karena masyarakat kita masih memahami zakat sekadar zakat fitrah yang setahun sekali di bulan Ramadan.

Apa bedanya infak dan sedekah?
Kalau infak itu berbentuk materi, sedangkan kalau sedekah bisa materi dan nonmateri. Yang berikutnya itu wakaf. Kalau wakaf itu naik lagi ke level berikutnya, yaitu melepaskan kepemilikan harta, dari milik sendiri menjadi milik Allah.
Bedanya wakaf dengan zakat? Kalau zakat wajib muslim, sedangkan wakaf tidak harus orang muslim. Jadi saudara-saudara kita yang nonmuslim bisa berwakaf juga bisa berbuat satu hari satu kebaikan.

Berapa nilai donasi yang diterima dan dari tahun ke tahun? Apakah besaran donasi yang diterima menggambarkan sisi kemanusiaan masyarakat yang semakin meningkat?
Tren peningkatannya ada, kisarannya rata-rata 5% dari ZIS dan wakaf kalau ditotal. Contoh misalnya untuk kategori wakaf, dalam satu bulan dari total penghimpunan yang dikelola oleh DD rata-rata Rp1,5 miliar, sebesar 48%-nya berasal dari kelompok usia 25-35 tahun dan mereka berwakaf uang.
Wakaf uang adalah bagian investasi kebaikan yang memberikan contoh bahwa berwakaf tidak harus punya tanah berhektare-hektare atau punya ruko sedemikian banyak. Tapi, cukup dengan Rp10.000 satu bulan berwakaf uang. Jika ada 1 juta orang yang berwakaf, maka akan memiliki uang Rp10 miliar. Makanya, kami dengan Gerakan Sejuta Wakif (orang yang sadar berwakaf), maka potensi wakaf di Indonesia yang setahun Rp180 triliun bisa dicapai.
Tahun lalu, total penghimpunan di DD itu Rp340,78 miliar dan 43%-nya dari zakat, 20%-nya dari infak, penghimpunan kurban 10%, kemudian wakaf tunai 6%, wakaf nontunai sekitar 5%. Kami menargetkan kenaikan penghimpunan setiap tahun itu 10%. Target tahun ini kami berharap bisa terkumpul Rp400 miliar. Dari dana yang terhimpun itu 75%-80%-nya kami gunakan untuk di dalam negeri.

Ke mana saja dana disalurkan?
Penyaluran yang terbesar itu yang pertama di bidang kesehatan, kedua di bidang pendidikan, dan ketiga di bidang ekonomi dan sosial untuk tahun 2017, sedangkan untuk pertumbuhan donaturnya dari 2016 ke 2017 itu 15%. Jadi di 2016 itu ada 160 ribu donatur dan 2017 menjadi 180 ribu donatur.
Untuk 2016 kami juga sudah diaudit oleh Paul Hadiwinata and Partners sebagai audit independen dengan kategori WTP (Wajar Tanpa Pengecualian).  

Bagaimana DD mengelola donasi yang diterima agar tepat sasaran?
Untuk bencana misalnya, maka maksimal 8 jam sudah harus ada di lokasi. Untuk mendapatkan bantuan bagi pihak yang misalnya terlilit rentenir dan keadaannya mendesak, maka disurveinya kurang dari 24 jam.
Itu bisa dilakukan survei cepat di bawah 24 jam. Kami sudah ada datanya. Jadi, kami akan mencari dan memastikan semua penerima yang menerima dana zakat adalah kelompok yang benar-benar membutuhkan seperti fakir miskin, ghorimin (golongan berhutang), fisabililah (berjuang di jalan Allah), amil, orang yang teraniaya, mualaf, ibnu sabil (musafir).
Contohnya, untuk ibnu sabil ini adalah dia orang yang kaya, namun kecopetan dalam perjalanannya, maka boleh dibantu dengan dana zakat. Kalau fisabililah misalnya guru yang mengajar di pesantren maupun SD boleh diberikan dana zakat, bahkan dokter yang terlibat untuk melayani kaum duafa itu dia termasuk golongan fisabililah.
Demikian juga dengan jurnalis yang berkerja membuat reportase potret kemiskinan di pelosok daerah bisa mendapatkan dana zakat dengan kategori fisabililah. Butuh transporasi dan lain sebagainya, maka bisa dibayar dengan dana zakat karena jasanya sebagai seorang profesional juga harus ditunaikan.
Orang tahunya zakat itu hanya untuk fakir miskin, tapi bagaimana fakir miskin itu bisa dilayani pengobatannya tanpa ada dokter? Lalu, apakah dokternya dibayar? Tentunya dibayar. Jadi semua profesi bisa.

Bagaimana dengan wakaf? Apakah ada prosedur khusus?
Saat ini, kami sedang menggelontorkan wakaf kombinasi. Prof Aziz Dahlan--dosen UIN Jakarta-- membagi 3 jenis wakaf, pertama adalah wakaf kebaikan, maka seorang wakif (orang yang mewakafkan asetnya) untuk dikelola dan menyerahkan semua hasilnya untuk kebaikan kaum duafa dari pengelolaan surplus wakaf tersebut.
Yang kedua, ada wakaf zuri, yaitu seorang wakif mewakafkan asetnya kepada nazir (sebutan lembaga wakaf yang dipercaya) dan kemudian dalam ikrar wakafnya berpesan masih membutuhkan penghasilan dari hasil pengelolaan wakaf tersebut. Misalnya, yang diwakafkan adalah ruko 4 pintu dan wakif berpesan dengan mengikrarkan 50% dari keuntungan pengelolaan ruko tersebut untuk dirinya dan sisanya untuk kaum duafa.
Yang ketiga, wakaf kombinasi di mana wakif di awal bilang sebagian besar keuntungan untuk kaum duafa dan dia tetap mendapatkan haknya sedikit.
Jadi perbedaannya, kalau wakaf zuri mayoritas keuntungan untuk si wakif dan ahli warisnya sisanya baru untuk kaum duafa. Tapi, kalau wakaf kombinasi mayoritasnya malah untuk diberikan, sedangkan minoritasnya untuk ahli waris.
Ini yang sedang kita gaungkan bahwa wakaf itu berpindah kepemilikan, tapi yang mewakafkan asetnya masih bisa mendapatkan manfaat, itulah yang namanya bisnis akhirat dunia bukan dunia akhirat, itulah yang dikenal dengan endowment fund atau trust fund, kalau di ajaran Islam namanya wakaf.

DD juga sering membeli rumah sakit (RS) yang mangkrak dan dikelola dengan sistem tanpa kasir. Perkembangan dari program tersebut saat ini seperti apa?
Sejarah kami mengelola Rumah Sehat Terpadu (RST) yaitu RS tipe C, yaitu dimulai membangun dari nol itu tahun 2009 dengan pembebasan lahan. Proses bangunnya di 2010 dan di 4 Juni 2012 diresmikan. RST di Parung, Bogor, sebuah RS pertama berbasis wakaf yang dikelola oleh DD. Saat itu, dalam waktu 2 tahun kami berhasil kumpulkan dana lebih dari Rp30 miliar.
Semakin ke sini, semakin banyak rumah sakit yang ‘sakit’. Dengan konsep wakaf produktif, kami menawarkan solusi yang berkah akhirat dunia bagi saudara-saudara kita yang punya RS yang ‘sakit’ dengan konsep wakaf kombinasi.
Model kedua ada RS yang mangkrak di Lampung Timur selama 3 tahun lebih dan rumah sakit itu dijual, maka DD mengumpulkan wakaf uang dari para donatur kemudian dibelikan RS ini.
Kami selaku nazir dan penerima aset wakaf yang dibeli dengan dana wakaf tadi membentuk badan pengelola perseroan terbatas pengelolaan RS, dengan kepemilikan saham Yayasan Dompet Dhuafa 51% dan publik 49%. Di sinilah terjadi proses bisnis seperti biasa pengelolaan RS pada umumnya.
Lalu model yang ketiga, ada orang yang mewakafkan RS di Jakarta Timur. Selama rumah sakit dikelola pemilik RS mendapatkan bagi hasil sekian persen sesuai dengan kesepakatan melalui pengelola yang ditunjuk.
Yang keempat, ada RS di Pekanbaru, Riau dan ada saham yang ditawarkan kepada DD dan kami masuk dengan wakaf uang dan membeli saham dengan wakaf uang, tapi mempunyai hak kelola 25 tahun terhadap RS itu.
Yang kelima, aset wakafnya sudah dipegang oleh Badan Wakaf Indonesia, kemudian mengajak DD untuk menjadi pengelola RS yang kemudian sekarang menjadi RS mata pertama di Serang, Banten, yang managed by (dikelola) DD.
Jadi Dompet Dhuafa ini mengelola rumah sakit ada yang bentuknya owned by (dimiliki oleh) dan managed by.

Bagaimana cara DD memperkenalkan dan menjaring donasi dari para generasi milenial?
Ternyata hari ini generasi milenial adalah generasi yang mudah berbagi dan generasi yang ingin melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan dengan nyata. Itu menunjukkan memang tren filantropi menjadi gaya baru yang menjadi ruang aktualisasi. Bahwa mereka ingin berbagi apapun profesi yang dijalaninya. Trennya filantropi ke depan ini kan semakin positif.
Di sisi lain, anak-anak tadi bisa kita lihat penyebabnya mengapa mereka mau berwakaf uang? Ada dua penyebabnya, yang pertama adalah orangtuanya sudah mendidik dan sudah menjadi donatur DD dan yang kedua mereka sudah terpapar oleh-oleh kisah-kisah inspiratif di media sosial maupun kampanye.

Apa inovasi dan pengembangan yang tengah dipersiapkan DD untuk menghadapi tantangan ke depan?
Hari ini kita tantangannya bukan hard selling, tapi harus soft selling, jadi orang kalau sudah tersentuh hatinya, maka akan ikut. Soft selling sekarang menjadi pendekatan baru DD dengan mengampanyekan kebaikan.
Tren di era disrupsi adalah tren berbagi, tidak punya motor tapi bisa mengoordinasi motor, tidak punya uang tapi bisa mengoordinasi orang yang mau menginvestasikan uangnya. Kita juga ingin DD ini berbagi dengan banyak orang dengan berbagai macam cara. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More