Kumbakumba-Aswanikumba

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 27 Mei 2018, 08:00 WIB PIGURA
Kumbakumba-Aswanikumba

Dok MI

SUNGGUH menyedihkan. Anak-anak di negeri ini kerap diperalat sekaligus dijadikan sebagai korban oleh para pecundang dan petualangan untuk mencapai target atau tujuan tertentu. Belakangan, aksi terorisme di Surabaya, Jawa Timur. Sebelumnya, bahkan hingga saat ini, anak-anak juga masih sering dimanipulasi sebagian elite dalam panggung politik.

Praktik tidak beradab seperti ini harus diakhiri. Anak adalah insan yang memiliki hak asasi yang harus dihormati sesuai dengan usianya. Orangtua wajib mengantarkan anak-anaknya menjemput masa depannya, bukan malah menunggangi atau meracuni dan menjadikannya tumbal.

Dalam cerita wayang, orangtua yang kejam nan bengis mengorbankan anak-anak ialah Raja Alengka, Prabu Dasamuka. Dua keponakannya yang masih belia, yakni Kumbakumba dan Aswanikumba, dijadikan sebagai amunisi di medan perang demi mengejar ambisi pribadi yang meluap-luap.

Mencuci otak
Alkisah, Dasamuka gelisah dengan semakin merangseknya pasukan Rama Wijaya ke jantung pertahanan Alengka. Para Senapati andalannya satu per satu berguguran. Prajurit yaksa yang jumlahnya tak terbilang pun telah bergelimpangan. Mereka diganyang ribuan pasukan kera dari Goa Kiskenda yang dipimpin Narpati Sugriwa yang mendukung Rama.

Rama, putra mahkota Ayodya, menggempur Alengka untuk merebut kembali istrinya, Dewi Sinta, yang disandera Dasamuka di Taman Argasonya. Dasamuka berkeinginan memperistri Sinta sebagai upaya memakmurkan Alengka. Menurut keyakinan Dasamuka, Sinta yang merupakan titisan Dewi Sri Widowati, merupakan jaminan keadidayaan Alengka.

Maka, sudah menjadi tekad Dasamuka, ia akan mempertahankan Sinta dalam dekapannya apa pun yang terjadi. Ini juga karena ia merasa dengan kesaktiannya, tidak akan ada makhluk yang bisa mengalahkannya. Bahkan, dewa penghuni dari Kahyangan sekalipun.
Namun, tertekannya pertahanan Alengka membuat Dasamuka kalut. Bala tentaranya terus tergerus dari hari ke hari. Dalam posisi ini, ia teringat adiknya, Kumbakarna, yang sedang tapa tidur di Gunung Gohmuka. Kumbakarna menjalani laku prihatin itu setelah diusir sang kakak yang tidak berkenan dengan sikapnya yang menentang kesewenang-wenangannya. Kumbakarna juga kukuh mewanti-wanti, demi keselamatan Alengka, Dasamuka segera mengembalikan Sinta kepada Rama.      

Dasamuka percaya bila Kumbakarna maju ke palagan, tidak akan ada musuh yang mampu menghadang. Ia lalu mengutus putra mahkota, Indrajit, membangunkan Kumbakarna dan dengan pesan untuk segera menghadapnya karena Alengka dalam keadaan genting dan terancam lebur.

Namun, meskipun segala upaya telah dilakukan, Indrajit tidak mampu membangunkan pamannya. Kegagalan itu membuat Dasamuka murka dan jadi kalap. Ia kemudian memerintahkan lagi Indrajit menjemput dua anak Kumbakarna, Kumbakumba dan Aswanikumba, di Kesatrian Pangleburgangsa. Kedua anak tersebut sendika dhawuh dan bergegas bersama kakak sepupunya ngabyantara (menghadap) uwaknya di istana.

Secara agitatif, Dasamuka meracuni pikiran kedua keponakannya itu. Dua anak belia itu pun dicuci otaknya. Diprovokasi bahwa ada musuh yang akan menjajah Alengka. Bila itu terjadi, semua trah Wisrawa-Sukesi bakal musnah. Wisrawa-Sukesi ialah orangtua Dasamuka dan ketiga adiknya, Kumbakarna, Sarpakenaka, dan Gunawan Wibisana.  

Dijadikan sebagai korban
Dasamuka menanyakan kepada Kumbakumba dan Aswanikumba, apa yang harus dilakukannya untuk bangsa dan negara. Kedua anak ingusan itu menjawab, siap melaksanakan sabda sang raja. Dasamuka memerintahkannya maju ke palagan dengan misi membinasakan Rama dan semua balanya.

Tanpa sepengetahuan bapak mereka, Kumbakumba dan Aswanikumba terjun ke medan perang. Kakak beradik itu memiliki kemiripan dalam sejumlah hal. Kodratnya sama-sama memiliki kesaktian. Keduanya juga pemberani, setia, dan berwatak kesatria seperti bapaknya.
Menurut sanggit dalang, dalam pertempuran Kumbakumba dan Aswanikumba tidak bisa dikalahkan. Ketika Kumbakumba mati karena lawan, ia bisa hidup kembali setelah wadaknya dilangkahi Aswanikumba. Begitu sebaliknya. Inilah yang menjadikan pasukan Rama morat-marit dan ketakutan.

Keampuhan kedua yaksa itu sampai ke telinga Sugriwa. Panglima perang pasukan Rama ini lalu memerintahkan Anoman membereskannya. Semula, Anoman agak mengentengkannya. Namun, ternyata ia kewalahan meladeni pengamukan dua generasi penerus Alengka tersebut.

Gunawan Wibisana yang telah memihak Rama, memberikan saran kepada Anoman. Sejak diusir dari Alengka karena mengecam keinginan Dasamuka yang ingin memperistri Sinta, Gunawan minggat dan berbalik mengabdi kepada Rama. Dalam posisinya itu, ia banyak mengungkap rahasia kelemahan pasukan dan pertahanan Alengka.

Gunawan mengatakan Kumbakumba dan Aswanikumba hanya bisa mati jika disirnakan secara bersamaan. Anoman buru-buru kembali ke palagan. Dengan gesit ia menangkap kedua yaksa itu dan segera membenturkan dua kepala musuhnya hingga akhirnya mati seketika.    

Kabar tewasnya Kumbakumba dan Aswanikumba membuat Dasamuka gusar. Ia memerintahkan Indrajit membawa jasad kedua adiknya itu dan kemudian diserahkan kepada Kumbakarna. Sambil bersimpuh di depan Kumbakarna, Indrajit melaporkan kedua putranya telah mati dibunuh Rama.   

Seolah disambar halilintar, Kumbakarna seketika bangun dari tidurnya. Ia kemudian menghadap sang kakak. Di sanalah ia dimaki-maki Dasamuka karena anaknya saja berani mengorbankan jiwa raga untuk Alengka, sedangkan bapaknya mendengkur.   

Kewajiban bersama
Kumbakarna geram. Ia lalu menyatakan akan maju ke medan perang. Namun, ia tegaskan, bukan mendukung sang kakak, melainkan demi membela Tanah Airnya. Akhirnya, Kumbakarna gugur sebagai kusuma bangsa.

Poin kisah tragis ini ialah Kumbakumba dan Aswanikumba yang masih anak-anak dijadikan sebagai korban oleh uwaknya. Dasamuka telah menjerumuskan kedua anak itu ke jurang neraka. Dasamuka sewenang-wenang mengorbankan keponakannya yang masih ingusan demi melampiaskan nafsunya pribadi.

Sejak bapaknya tapa di Gunung Gohkarna, kedua anak itu sehari-hari hanya bersama ibunya, Dewi Kiswani. Widadari itu meng-gulawentah kedua buah hatinya dengan menanamkan nilai-nilai kesatria. Dalam konteks kebangsaan, enyahkan praktik kapitalisasi anak di negeri ini. Anak-anak mesti kita jaga dan pelihara hak-hak asasinya demi masa depannya. Ini kewajiban kita semua. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More