Meditasi Perayaan Luka Tesla Manaf

Penulis: (*/M-4) Pada: Minggu, 27 Mei 2018, 07:30 WIB Weekend
Meditasi Perayaan Luka Tesla Manaf

MI/ BARY FATHAHILAH

GEBUKAN drum, alunan gitar, dan balutan efek soundscape saling bersahutan di bawah sorotan cahaya yang menampilkan visual gambar tubuh dari jarak dekat. Begitu pencahayaan mati total, perlahan terdengar bunyi bak baling-baling berputar, lalu bergeser seperti putaran tiada ujung.

Tetabuhan drum itu menjadi pengiring ke mana irama beralur. Sementara itu, petikan gitar mengekor dan semua elemen bunyi tadi terbungkus dengan tenang oleh tombol-tombol soundscape.

Selama hampir 53 menit mengalur bunyi, juga muncul gambar-gambar bagian tubuh yang ‘jelek’ dan mungkin selama ini selalu berusaha kita tutupi dari ekspose dunia luar. Jari-jari kaki lecet, komedo terlihat jelas, kulit wajah berminyak, uban, dan kuku yang digigiti.
Tesla Manaf, musikus jazz yang telah dikenal di dunia internasional, mengeksplorasi keriuhan di dalam kepalanya.

Bunyi-bunyi yang keluar malam itu, sesekali menebar teror di telinga, termasuk visual seperti pupil mata yang tajam. Namun, hampir menyiratkan kesedihan mendalam, dan kemudian menjadi terapi nan meditatif.

Tesla mungkin dikenal dengan bunyi-bunyi ‘aneh’-nya selama ini. Namun, pada panggung Alur Bunyi pada akhir April silam di Goethe Institute, Menteng, Jakarta Pusat, komposisi musik yang ia rancang ialah suara yang masih bisa diterima telinga.
Ia menyuguhkan kesedihan mendalam personalnya dalam tajuk yang ia namai Toija (baca: Toya).

“Ini tentang kehilangan seseorang yang dekat dengan saya, tetapi itu sangat pribadi,” katanya seusai manggung.

Kekosongan dan luka mendorongnya melahirkan alur bunyi meditatif ini, dengan berpangku pada nada dasar A minor. Bahkan, lelaki kelahiran 29 Agustus 1987 itu ingin mengajak pendengarnya untuk merayakan luka. Ia merepresentasikannya dalam konsep visual latar.
Tesla (gitar), Gatot Alindo (soundscape), Dita Prasista (soundscpe), dan Desal Sambada (drum) memainkan musik mereka tanpa melihat video di belakang panggung. Jadi, tidak direncanakan pada bagian mana harus menekankan nada meneror, dan pada saat gambar mana harus memainkan musik meditatif.

“Kita semua lahir dengan tanda lahir atau bagian yang mungkin tidak kita sukai, tetapi kita harus mencintai apa pun yang kita miliki saat ini,” sebut Tesla. (*/M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More