Konsistensi Naufal Abshar Meledek Ketenaran

Penulis: (*/M-4) Pada: Minggu, 27 Mei 2018, 07:00 WIB Tifa
Konsistensi Naufal Abshar Meledek Ketenaran

MI/ FATHURROZAK

LELAKI berjas biru dengan topi feodora merah maroon menghadang saat memasuki ruangan. Dengan kamera dan lampu sorot, seolah ingin memotret siapa pun yang ada di depannya.

Tidak jauh dari sana, sesosok tubuh manusia berkepala robot dengan setelan jas dan celana biru terbaring di kasur. Selang infus menjulur, setruk-setruk keluar dari mesin menutupi sebagian tubuh manusia itu.

Pada jas dan tabung kuning di sisinya, tercecer kata haha. Dilengkapi dengan kalimat yang menghias besi ranjang tidur, Work Hard for This Bae!. Lalu, ada pula kalimat satir tersemat di sisi samping kepala robot ‘Kaya yang Dipaksakan’.

Instalasi berjudul Work-Inscurance-Bills-Repeat itu merupakan karya Naufal Abshar dalam pameran tunggal bertajuk The world of entertainment di D Gallerie, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang bisa disaksikan hingga Minggu, (27/5). Seperti tajuknya, Naufal nampak ingin menertawai sekaligus mengolok-olok gemerlap dunia hiburan.

Dalam karya itu pula nampak lelaki kelahiran 1993 ini ingin menyeru kita bekerja bak robot yang tak punya waktu istirahat demi memenuhi kebutuhan gaya hidup. Namun, tanpa sebab dan tidak sadar kita jadi sakit, akibat terlalu mengejar nafsu bendawi. Bukan saja sakit fisik, mental kita juga terganggu.

Gaya hidup mewah, sorot kamera, dan fesyen ternama merupakan beberapa ciri yang menempel pada dunia showbiz dan Naufal mampu mendedahkan di sekitar 14 karya yang dipamerkan. Separuh karyanya selalu melekatkan kata Fame. Sementara itu, pada hampir seluruh karya Naufal, ia juga selalu mengatributkan fesyen ternama.

Seperti pada karya berukuran 150 sentimeter x 150 sentimeter berjudul The High-end Runway, Naufal menyodorkan lima potret wanita berpose bak model dengan senyum lebar, tapi tatapan mata kosong.

Lulusan Lasalle College of Arts Singapore itu mengeksploitasi unsur kecil dengan membubuhkan detail 100% linen pada salah satu baju wanita tersebut dan meledek dengan bubuhan kalimat Ga boleh mingkem, juga beberapa tempelan kata yang merujuk pada makna ketenaran, nomor satu, level atas, dan bayaran mahal.

Dunia hiburan yang mungkin saja memanjakan mata saat kita menyaksikannya, saat Naufal menawarkan olok-olok apa yang mungkin dirasakan para pelaku industri hiburan tersebut seakan menjadi reflektor, bahwa tiada muncul tawa tanpa getir luka.

“Naufal berkata bahwa tawa yang hadir dalam lukisannya mencerminkan tawa dalam sebuah pesta yang dihadiri sosialita, komunitas di mana Naufal seringkali menjadi bagian di dalamnya,” kata kurator pameran Chabib Duta Hapsoro.

Publik pun merespons karya-karya seniman kelahiran Bandung itu dengan hangat. Karya-karya yang diposting Naufal menuai lebih dari 1.000 pujian. “Great one! Waiting for more. For now, wish you all the best,” ucap akun @juanitaaluthan saat mengomentari lukisan The World of Entertainment 2018 yang diunggah Naufal di Instagram-nya.

Peraih juara pertama dalam kompetisi live painting di Indonesia Art Festival 2013 itu memang ingin mengejek kehidupan sosial saat ini. Ketika manusia nampak ingin tampil mewah, terkenal di dunia maya, dan berkeringat demi gaya. Lewat karya yang mungkin bisa dibilang tidak perlu mengernyitkan dahi, Naufal ingin menimbulkan relaksasi sembari ajakan tawa haha-nya yang tercecer di hampir seluruh karya. (*/M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More