Sunyata Menembus Venesia

Penulis: BUDIANA Pada: Minggu, 27 Mei 2018, 06:00 WIB Weekend
Sunyata Menembus Venesia

DOK. ARY INDRA

SEBUAH instalasi dari kertas digantungkan secara melintang di tengah Arsenale, Venesia. Gedung berarsitektur Romawi yang dibangun pada 1104 ini menjadi lokasi Paviliun Indonesia untuk Venice Architecture Biennale 2018. Instalasi kertas itu ialah Sunyata, karya instalasi dari Indonesia. Dua lembaran kertas berukuran sekitar 18 kali 21 meter tersebut sangat menarik perhatian pengunjung. Beberapa orang mencoba melintas di sisi-sisi kertas yang terbuka. “I try to enjoy the silence,” kata seorang pengunjung. Sunyata ialah penafsiran tim kurator Indonesia dalam menerjemahkan tema kekosongan atau free space yang menjadi tema ­utama pameran tahun ini.


Sebetulnya, ketika membicarakan arsitektur, apa yang ada dalam pikiran? Sering kali yang terlintas ialah bentuk dan rupa, yang terlihat dan menjadi konsumsi mata. Tim kurator Indonesia untuk Venice Biennale 2018 ternyata memberi penawaran yang berbeda soal arsitektur ini. Karya arsitektur, atau bangunan, tidak lagi hanya bisa dinikmati mata, tetapi juga jiwa. Caranya, dengan menampilkan kekosongan. Itulah yang ditampilkan Sunyata.

Tim kurator Ary Indra, Dimas Satria, David Hutama, Jonathan Aditya, Ardy Hartono, dan Johanes Adika menerjemahkan konsep kekosongan sebagai entitas aktif. Dalam instalasi yang mereka bangun dengan menjahit helai-helai kertas, mereka berupaya menampilkan kekosongan tersebut. Kerta yang dijahit menjadi lembar­an raksasa lalu dibentangkan sedemikian rupa agar menampilkan kekosongan dengan sempurna.

Kata menampilkan memang jadi tidak terlalu tepat karena untuk membuktikan bahwa bangunan bisa dinikmati oleh jiwa, karya ini harus dirasakan. Dengan berjalan dan berdiri di tempat yang telah ditentukan di sela-sela instalasi tersebut, seraya telinga mendengarkan fragmen suara yang sudah disesuaikan, disebut voice of silence, pancaindra pengunjung akan ditantang untuk menghadapi kekosongan itu.

Itulah free space yang sesungguhnya. Keheningan dalam kekosongan itulah yang bisa dinikmati pengunjung. Sesuai dengan tulisan enjoy the silence di salah satu sisi lantai.

“Arsitektur kita sudah terlalu lama terpenjara oleh mata, semua arsitektur diamati dan dirasakan dengan mata. Akibatnya kita terjebak selalu dalam diskursus bentuk, rupa, warna dan melupakan untuk bicara tentang hal esensial yang sebenarnya awal dari arsitektur itu sendiri: ruang. Paviliun indonesia kali ini mereduksi kemampuan mata dan sebaliknya mengundang pengunjung untuk ‘merasakan dan meraba’ ruang memakai indera yang lain, telinga,” terang Ary Indra saat dihubungi melalui aplikasi pesan Whatsapp, Jumat (25/5).

Makna kekosongan
Proyek Sunyata yang akan tampil dari tanggal 26 Mei hingga 25 November di Venesia ini ialah proyek eksperimental, yang ingin menunjukkan beragam cara mengapresiasi karya arsitektur Indonesia.

Sunyata sekaligus merupakan dokumentasi kekosongan-kekosongan yang sudah ada dalam karya arsitektur di Indonesia. Karya-karya tersebut, antara lain Museum Tsunami Aceh, Rumah adat Betang Nek Bindang dari Kalimantan, Stasiun Kereta Api Kota di Jakarta, Warung Boto Yogyakarta, dan Studio Jonas Bandung, tampil dalam foto-foto. Karya-karya tersebut membuktikan konsep kekosongan banyak hadir dalam bangunan-bangunan di Indonesia.

Semua berujung sama, dalam kekosongan, manusia menjadi tokoh utama. “Kami berupaya menampilkan bahwa di Indonesia, void adalah inti dari sebuah proses arsitektur. Void diciptakan melalui serangkaian perhitungan numerik tradisional, yang menghasilkan unit volumetrik,” ungkap Ary. (*/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More