Sebab Setiap Huruf ialah Seni

Penulis: ABDILLAH M MARZUQI Pada: Minggu, 27 Mei 2018, 05:00 WIB Weekend
Sebab Setiap Huruf ialah Seni

DOK. DEPOK LETTERS

HURUF S itu tidak seperti biasa. Lekukan dasar mungkin sama dengan huruf S yang biasa dilihat di banyak tulisan. Hiasan dan variasi dari huruf S itulah yang menjadikan huruf itu berbeda. Huruf itu salah satu yang dipajang di laman sosial Komunitas Depok Letters.

Satu huruf saja bisa membuat mereka harus berlama-lama untuk menggoreskan pensil ke atas kertas. Menghitung waktu yang dibutuhkan ketika proses kreatif soal ide, konsep, dan bentuk mak proses berkarya itu kian lama.

Bagi komunitas Depok Letters, menulis memang tidak sekadar menyusun kata. “Setiap huruf adalah karya seni,” jelas Rhinaldy, penggerak Depok Letters, kepada Media Indonesia, Jumat (25/5).

Ia menjelaskan ada dua teknik seni yang digunakan komunitas, yakni lettering dan kaligrafi. Lettering merupakan seni menggambar huruf yang dilakukan dengan menggunakan pensil. Setiap huruf disketsa satu per satu.

Sementara itu, kaligrafi merupakan seni menulis indah yang dilakukan dengan menggunakan brass pen. Jika selama ini masyarakat lebih mengidentikkan seni kaligrafi dengan tulisan arab, sesungguhnya kaligrafi juga menggunakan tulisan latin. Hasil dari seni kaligrafi latin ialah yang seperti sering kita temui pada ijazah maupun sertifikat.

Kegiatan membuat seni tulisan tangan itu tidak jarang dilakukan Depok Letters secara bersama-sama. Mereka rutin mengadakan pertemuan yang mereka sebut sebagai ‘kopi darat’ satu kali tiap bulannya.

“Tiap pertemuan itu ada tema untuk dieksplorasi bersama. Tema tersebut didasarkan pada media yang akan mereka gunakan, seperti tembok, kertas, kayu, maupun papan,” jelas Rhinaldy.

Dibentuk sejak 2015 oleh Homsin, Depok Letters yang pernah vakum pada 2016 mulai bangkit lagi setelah menggunakan media sosial (medsos) untuk memublikasikan karya. Kini anggota aktif mereka mencapai lebih dari 30 orang.

Setiap anggota ialah guru
Salah satu anggota Depok Letters yang bergabung akibat publikasi di medsos ialah Desi Isya Rahmah.

“Dari awal sudah seneng nulis-nulis gitu. Awalnya juga sempat cari buat komunitas tulis di Depok itu apa? Terus akhirnya ketemu akun Instagram-nya Depokletters,” terang perempuan berusia 22 tahun yang telah bergabung sejak akhir 2017.

Anggota lain yang begitu menikmati kegiatan ialah Reza Kurnia Rinaldi. Pemuda berusia 21 tahun ini mengemukakan kegiatan bersama Depok Letter kian menyenangkan karena cara bergabung yang tidak menyulitkan.

Biarpun anggota baru tidak cakap dalam menggambar huruf pun, itu tidak jadi masalah sebab dalam komunitas tersebut mereka akan dibimbing anggota lain.

“Entah dia bisa atau tidak kan entar ada yang bimbing, ada yang sharing-sharing, ada yang bagi-bagi ilmu juga,” terang Reza.

Anggota baru hanya diharuskan membawa peralatan gambar sendiri. Untuk dasar lettering, mereka membutuhkan pensil, penggaris, dan kertas. Jika anggota tersebut sudah lancar di tingkatan dasar, selanjutnya mereka akan menentukan sendiri gaya dan model yang bakal ditekuni.

“Untuk selanjutnya, itu tergantung minat. Kalau di Depok Letters ada banyak style-style. Kalau alat tergantung kita nantinya ke apa? Mau ke kaligrafi alatnya ini, mau hand lettering alatnya ini. Tapi awal-awal basic ya tetap penggaris, penghapus, pensil, pulpen, kertas juga,” sambung Reza.

Uniknya komunitas ini tidak mempunyai instruktur. Setiap anggota ialah guru sekaligus murid yang saling berbagi ilmu dan teknik lettering. Hal itu ternyata menjadi salah satu yang membuat anggotanya nyaman.

“Enaknya bisa ketemu orang banyak. Bisa belajar bareng, kita bisa dapat ilmu baru. Karena banyak yang sudah jago, jadi kita bisa kecipratan ilmunya gitu. Mereka enggak pernah mau ajarin. Mereka bilangnya sharing sih karena masih sama-masa belajar,” terang Amaria Dwi Cahyani, 19, yang bergabung sejak Oktober tahun lalu.

Depok Letters berkembang dengan konsep kemandirian dan kesungguhan dari para anggotanya. Masing-masing dari anggotanya berperan aktif dalam menciptakan suasana yang asyik. Mereka juga saling memacu untuk menciptakan inovasi-inovasi agar komunitas itu menjadi nyaman sekaligus menarik.

“Karena kita me-manage komunitas itu sebaik mungkin. Jangan sampai orang-orang yang di komunitas itu kecewa atau enggak suka dengan cara kita sosialisasi, ngobrol, sharing. Intinya kita bikin inovasi-inovasi yang bisa bikin orang betah dan bikin orang tertarik sama kita,” pungkas Reza. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More