Menyelamatkan Tawa Abadi 80-an

Penulis: (*/M-3) Pada: Minggu, 27 Mei 2018, 00:40 WIB Hiburan
Menyelamatkan Tawa Abadi 80-an

AKSI Dono, Kasino, dan Indro dalam film-film lawas Warung Kopi (Warkop) DKI selalu menghias layar kaca saat lebaran. Aksi kocak mereka di Sama Juga Bohong (1986) kembali bisa disaksikan di layar bioskop. Penonton bisa menyaksikan film yang disutradarai Chaerul Umam ini, baik yang sudah direstorasi maupun belum.

Warna menjadi lebih hidup, ketimbang sebelumnya yang kusam. Selain itu, eksperimen ala pita film masih bisa kita jumpai, seperti yang terlihat pada adegan band menyanyi saat acara penggalangan dana. Tidak saja kualitas gambar, audio dari film yang direstorasi ini juga mumpuni.

Sama Juga Bohong bercerita tiga pemuda kampung diperankan Dono, Kasino, dan Indro yang merantau ke kota. Nasib sial menjadi sambut­an kecut untuk mereka saat diteriaki copet di tengah kerumunan dan raibnya barang-barang. Kisah kemudian bergulir pada perjuangan ketiganya untuk mengumpulkan uang berbekal seonggok robot tua di rumah indekos mereka.

Film yang juga dibintangi Nia Zulkarnaen atau kini akrab dengan nama Nia Sihasale, Chintami Atmanegara, dan Ayu Azhari ini bila disaksikan saat ini akan memberikan gambaran pada kita kondisi Jakarta tempo dulu. Bangunan, penampakan kota, dan transportasi menjadi hal penting untuk menyelamatkan aset dari masa lampau, yang memberikan kita jejak akan dunia perfilman lawas. Bukan sekadar konten produk seninya, melainkan kita juga bisa menyaksikan sisi sosio historis lewat latar dalam film.

Sama Juga Bohong menjadi bagian dari Vintage Film Festival, kerja sama Go Tix dan Flik. Sebelumnya, Pengabdi Setan menjadi film yang terlebih dahulu direstorasi untuk masuk ke jajaran film yang diputar dalam rangkaian festival film lawas ini.

Meski film yang ditulis Nano Riantiarno ini beraliran komedi, ada pesan yang hendak disampaikan. Bagaimana simbolisme robot yang hadir sebagai ejekan atas kontrol ketat pemerintah terhadap rakyatnya, maupun selipan nya­nyian ‘Tionghoa Kasino’ dalam adegan menunggu Chintami yang tidak kunjung datang di malam penggalang­an dana.

Masa orde baru tidak memberikan ruang gerak bagi para pemeluk agama kongfusian, termasuk penggunaan nama Tionghoa. Secara tersirat, nyanyian Kasino merupakan rintihan derita juga ejekan pemerintah diktator kala itu.

Namun, siapa yang tidak tertawa melihat polah ketiga trio Warkop DKI? Cara terbaik menyampaikan protes ialah lewat humor, kita tertawa sekaligus meneror. Merestorasi film lawas menjadi penting, sebagai upaya menyelamatkan aset historis dan menyelamatkan peletup tawa yang tidak pernah usang sejak era 80-an.

Anda bisa menyaksikan film ini pada akhir pekan sejak 18 Mei di lima kota, yakni Jakarta, Depok, Bekasi, Yogyakarta, dan Bandung. (*/M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More