Stan Lee

Penulis: Ronal Surapradja Pada: Sabtu, 26 Mei 2018, 09:10 WIB celoteh
Stan Lee

Ronal Surapradja -- MI/ROMMY PUJIANTO

SALAH satu kegiatan yang saya senangi untuk ngabuburit menunggu waktu berbuka ialah membaca buku. Pada saat ada pameran buku terbesar di Indonesia, Big Bad Wolf, saya mendapatkan buku bagus dengan harga yang supermiring. Tema kesukaan saya selalu ada di sekitar musik, sejarah, religi, dan komik superhero.

Ada buku musik U2 The Definitive Biography, biografi Prince The Purple Reign, I Am The Walrus tentang John Lennon, Remembering George Harrison, I'll be Watching You-Inside The Police 1980-1983 tulisan Andy Summer sang gitaris, The Story of World Religions, dan beberapa buku lainnya. Namun, dari semua buku tadi, yang paling menarik perhatian saya ialah sebuah graphic novel yang berjudul Amazing Fantastic Incredible-A Marvelous Memoir of Stan Lee. Buku yang lain belum ada yang saya baca, buku tentang kisah Stan Lee ini malah sudah tamat saya baca dua kali, hehehe.

Menarik sekali rasanya membaca kisah hidup seorang penulis komik dalam bentuk komik. Stan Lee lahir dan tumbuh di era The Great Depresion melanda Amerika. Hobinya hanya satu, membaca. Dengan cara itulah dia mulai memiliki imajinasi yang luas saat berkenalan dengan karya-karya Mark Twain, Jules Verne, Edgar Allan Poe, Victor Hugo, Charles Dickens. Untuk membantu keluarganya, dia melakukan pekerjaan apa saja. Hidupnya berubah ketika diterima di sebuah perusahaan penerbitan dan berkenalan dengan Jack Kirby yang bersama Joe simon merupakan penulis dan pelukis komik Captain America. Apa dia langsung menulis komik? Oh tidak. Tugasnya ialah menghapus coretan pensil sang seniman sebelum diberikan kepada engraver di percetakan. Karena tugasnya itu, dia menjuluki dirinya The Human Eraser, seorang superhero yang tugasnya menghapus pensil. Untung karakter ini enggak jadi dilanjutkan karena bingung juga bagaimana caranya menghadapi Thanos dengan kekuatan hanya bisa menghapus pensil, haha.

Yang menarik dari Stan Lee ialah dia menciptakan karakter superhero yang manusiawi. Seperti halnya di balik segala 'kesempurnaan' Tony Stark yang merupakan seorang yang genius, billionaire, playboy, dan filantrop, dia adalah seorang alkoholik. "Lee put the human in the superhuman." Sejak itu cerita komik tidak pernah sama lagi.

Saya kira bukan saya saja yang menunjuk layar bioskop dan berteriak bahagia ketika Stan Lee muncul sebagai kameo di film-film Marvel. Dia muncul sebagai penjaga museum di film Captain America:Winter Soldier, sebagai penjudi di film Black Panther hingga yang paling terakhir sebagai supir bis sekolah Peter Parker di film Avengers:Infinity War. Memang sebagai kameo dia hanya tampil beberapa detik, tapi saya melihatnya sebagai perlambang kasih sayang seorang bapak terhadap anak-anak (karya superhero)-nya yang ingin memastikan mereka semua tumbuh berkembang dan dicintai.

Waktu berlalu dan saya yakin semua setuju bahwa karya Stan Lee bisa dibilang merupakan warisan budaya pop dunia. Usia kariernya yang lebih dari 70 tahun telah memberikan banyak imajinasi indah kita akan Spider-Man, X-Men, the Incredible Hulk, The Fantastic Four, Iron Man, dan banyak karakter lainnya. Dia adalah the godfather of comic book industry. Imajinasi, tangan dingin, dan visi bisnisnya telah menghasilkan banyak keuntungan bagi perusahaan dan juga kebahagiaan bagi para pembaca komik dan penikmat film.

Stan, you're more amazing than Spider-Man, more fantastic than The Fantastic Four and more incredible than The Hulk. You're the real hero!

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More