Pelajaran dari Perang Badar

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Sabtu, 26 Mei 2018, 09:00 WIB Tausiah
Pelajaran dari Perang Badar

Hidayat Nur Wahid -- ANTARA/R.Sukendi

HADIRNYA Ramadan merupakan suatu kenikmatan tersendiri khususnya bagi umat muslim. Allah menjadikan Ramadan sebagai pengingat yang menyadarkan kembali akan perjuangan kaum muslim serta tujuan dari hadirnya Islam, yakni sebagai berkah bagi seluruh umat.

"Bulan Ramadan dengan adanya kewajiban berpuasa menyegarkan kembali bahwa kita adalah makhluk bersejarah. Tidak baru hadir begitu saja, tetapi punya sejarah yang sudah lama," ujar Hidayat Nur Wahid ketika memberikan tausiah salat Tarawih di Masjid Al Azhar, Jakarta, Senin (21/5).

Sejarah yang dimaksud ialah menangnya umat Islam dalam peristiwa Perang Badar. Saat perang tersebut, umat Islam yang dipimpin Rasulullah SAW tengah menjalankan puasa, seperti dikisahkan dalam Alquran Surah Al-Anfal.

Puasa diwajibkan Allah kepada umat Islam mulai tahun kedua Hijriah dan terjadilah peristiwa Perang Badar pada 17 Ramadan di tahun itu.

"Dapat disimpulkan pada tahun pertama umat Islam diwajibkan puasa, pada tahun itu juga umat Islam menang. Sejak saat itu Islam tidak dilihat sebelah mata oleh kalangan Quraisy," kata Wakil Ketua MPR itu.

Kehadiran Ramadan dan peristiwa Perang Badar yang direkam secara abadi oleh Alquran memberi kita suatu pengingat sejarah bahwa umat Islam tidak ditakdirkan untuk sekadar menjadi umat pelengkap.

"Tapi mungkinkah Islam menjadi rahmatan lil alamin kalau umat Islam terbelakang baik dalam skala nasional maupun global? Tidak mungkin. Alih-alih menjadi rahmatan lil alamin (rahmat bagi semua umat), yang ada malah dikasihani. Bahkan juga jadi sasaran laknatan lil alamin, difitnah di mana-mana," papar Hidayat.

Muslim harus intelek

Rangakaian ayat Alquran yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW diawali dengan Surah Al Alaq dan diakhiri dengan Surah An Nasr. Itu merupakan sebuah petunjuk.

"Kita diajarkan memenangkan perjuangan umat, harus melalui mekanisme pembelajaran (seperti yang diperintahkan dalam Surah Al Alaq). Mustahil kita menang kalau kita buta huruf, tidak mempunyai ilmu. Kemenangan itu dibingkai intelektualitas yang tinggi, yang tidak menghadirkan sekularisme dan liberalisme," terang Hidayat.

Selain intelektualitas tinggi, umat Islam harus juga dilengkapi dengan akhak yang mulia. Terakhir, semua itu harus dilandaskan pada keyakinan terhadap Allah SWT.

Hidayat juga menekankan bahwa meraih kemenangan untuk kemaslahatan umat tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tetapi perlu kebersamaan. Jadi, jangan sampai kaum muslim terpecah belah.

Tujuan akhir dari perjuangan kaum muslim ialah kemenangan, tapi tanpa arogansi, seperti yang dicontohkan Rasullullah.

"Apakah beliau membumihanguskan orang-orang Quraisy musrikin? Tidak, bahkan beliau mempertahankan bentuk Kabah pada masa pra-Islam. Beliau menghormati realitas-realitas yang ada dengan sangat bijak," ujar Hidayat.

Wujud akhir kemenangan dalam konteks Islam ialah menghadirkan jiwa-jiwa mulia yang menjadi berkah bagi semua umat. Umat yang menjadi rahmat, bukan umat yang melaknat. Bukan umat yang bengis. (H-2)

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 20 Okt 2018 / Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dhuha : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK

Read More