Mengintip Kehidupan sang Kiai

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Sabtu, 26 Mei 2018, 04:20 WIB Jendela Buku
Mengintip Kehidupan sang Kiai

Dok MI

NAMA KH Ma'ruf Amin tentu tidak asing lagi. Ia dikenal sebagai Ketua Umum Majelis Ulama (MUI) sekaligus Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Meski dikenal dengan nama besar sebagai ulama, tidak banyak yang tahu tentang bagaimana perjalanan hidup, perjuangan, dan sepak terjangnya. Tidak banyak juga referensi yang memaparkan detail langkah beliau, sampai diamanati untuk menduduki berbagai jabatan terhormat dan mendapat tempat terhormat pula di antara kalangan tokoh bangsa.

Itulah yang menjadikan pentingnya buku berjudul KH Ma'ruf Amin, Penggerak Umat Pengayom Bangsa karya Anif Punto Utomo. Buku itu memang sengaja ditulis untuk memperingati milad dari KH Ma'ruf Amin.

Buku ini mencoba merekam secara utuh seluruh perjalanan kehidupan Ma'ruf Amin. Mulai dari masa kecil di Kresek, yang hobi main bola, masa remaja yang diisi dengan menimba ilmu di pesantren-pesantren, masa awal menjejakkan kaki di Tanjung Priok, hingga menjadi pimpinan tertinggi di MUI dan PBNU.

Secara sederhana, pemilihan judul buku sudah cukup memberi gambaran tentang isi buku. Salah satu kiprahnya, Ma'ruf Amin kerap menggerakkan umat dalam gerakan nyata seperti ketika ia memimpin demo menentang pornografi dan pornoaksi pada 2006 serta aksi Bela Palestina pada 2018.

Ketika Kiai Ma'ruf berperan dalam MUI, ia sering mengeluarkan fatwa-fatwa pada masalah sensitif seperti pornografi dan pornoaksi, terorisme, pluralisme, liberalisme, sekularisme, Ahmadiyah sesat, dan bunga haram.

Buku setebal 302 halaman itu memuat delapan bab dengan masing-masing pokok bahasan. Bab pertama Fondasi Keagamaan (hal 15) bercerita tentang nasab, masa kecil, dan proses pengembaraan keilmuan. Bab selanjutnya membahas tema Keluarga (hal 45). Bab III, Pergerakan dari Tanjung Priok (hal 67), bercerita tentang aktivitas Kiai Ma'ruf di Tanjung Priok mulai memimpin GP Anshor Koja hingga menjadi Ketua NU Tanjung Priok.

Bab IV berisi tentang kiprah Kiai Ma'ruf dalam politik, mulai ia menjadi anggota DPRD, mendirikan PKB, hingga mengantarkan Gus Dur menjadi presiden. Bab V tentang Ekonomi Syariah (hal 119) membahas bagaimana cerita Kiai Ma'ruf ketika MUI melahirkan fatwa bunga haram (hal 121), lalu melahirkan Dewan Syariah Nasional (DSN).

Sisi keulamaan Kiai Ma'ruf juga mendapati bagian tersendiri yakni, dalam Bab VI Keulamaan. Bab itu memotret pendirian Pesantren Al-Nawawi, berperan dalam MUI dan PBNU, hingga menggagas Majelis Dzikir Cinta Tanah Air.

Bab VII, yakni Merajut Toleransi (hal 217) bercerita tentang sikap kebangsaan Kiai Ma'ruf. Dalam sub-bab Membangun Harmoni (hal 219) misalnya, penulis mengungkap sikap Kiai Ma'ruf ketika menyiasati pembahasan penyempurnaan surat keputusan bersama (SKB) dan mengusulkan adanya forum komunikasi antarumat beragama (FKUB) di tingkat kabupaten/kota dan provinsi.

Selain itu, masih ada subbab tentang Antara Ahok dan Jemaah 212 (hal 232), Menjaga Pancasila (hal 245), dan Merawat Kebinekaan (hal 253).

Pada bab terakhir, yakni Di Antara Dua Presiden (hal 261), buku ini menggambarkan bagaimana posisi Kiai Ma'ruf dalam pemerintahan SBY dan Jokowi. Kiai Ma'ruf dikenal sangat dekat dengan keduanya.

Buku ini merekam secara utuh seluruh jejak perjalanan kehidupan Kiai Ma'ruf dari kanak-kanak hingga sekarang menjadi pimpinan organisasi Islam terbesar di Tanah Air.

Anif Punto Utomo memotret setiap keping peristiwa dalam kehidupan Kiai Ma'ruf. Lalu, ia menyajikan hasil susunan bab dalam keutuhan buku. Narasi bertutur yang apik menjadi nilai tersendiri dalam mengarungi tiap bab.

Buku itu menjadi jendela yang mumpuni untuk melongok pada kehidupan figur ulama yang sampai saat ini masih jarang diketahui sekaligus bisa menjadi media pembelajaran tentang kehidupan. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More