Maria Kezia Anugrah Persinggahan Pencapai Pendidikan

Penulis: (*/M-3) Pada: Sabtu, 26 Mei 2018, 04:00 WIB Humaniora
Maria Kezia Anugrah Persinggahan Pencapai Pendidikan

MI/SUMARYANTO BRONTO

KEHIDUPANNYA di Surabaya, Jawa Timur sudah nyaman. Namun, ia melepas semua pada 2004 dan memilih tinggal di gubuk, Sumba, Nusa Tenggara Barat (NTB). Hidup sederhana di tengah padang savana yang hingga kini belum ada sinyal ponsel, ditambah kebutuhan air yang mengandalkan hujan, dan listrik dari panel surya tidak mengurungkan niat Maria Kezia Anugrah untuk mengabdi bagi anak-anak.

Maria menyaksikan bagaimana anak-anak itu harus berjalan kaki puluhan kilometer hanya untuk bersekolah. Tidak heran bila di Sumba masih banyak anak yang putus sekolah. Maria tidak ingin angka putus sekolah meningkat, ia pun memutuskan membuat sebuah rumah singgah.

"Kondisi geografis Kabupaten Sumba Timur yang berbukit-bukit batu karang membuat warga kesulitan mengakses sekolah karena tidak ada kendaraan yang sanggup melintas di kawasan itu. Karenanya, kalau ingin berangkat ke sekolah, mereka hanya mengandalkan kekuatan otot kaki saja untuk berjalan berjam-jam dari rumah sampai sekolah," ujar perempuan kelahiran Nganjuk, 8 Agustus 1963 ini.

"Tahun 2011 kebetulan letak gereja yang saya pimpin dekat dengan SMP di Desa Napu, Kecamatan Haharu, Sumba Timur, karena faktor itu saya mendirikan rumah singgah tepat di samping gereja," ujar Maria.

Ketika melihat kendala orangtua dan anak-anak seperti itu, pada 2011 Maria tergerak untuk mendirikan rumah singgah bagi anak-anak sehingga mereka tidak harus berjalan puluhan kilometer. Tidak sebatas untuk anak SMP, Maria pun membuat mes untuk anak-anak yang melanjutkan ke SMA di Rambangaru, pusat kota Kecamatan Haharu, yang terdapat layanan pendidikan SMA.

Tidak sebatas memberikan kebutuhan sehari-hari untuk anak-anak. Maria pun mengajari mereka untuk bisa hidup mandiri. Ia memberikan sejumlah keterampilan bagi mereka, termasuk menanam sayuran yang mereka bisa konsumsi.

Kepedulian Maria tidak hanya sebatas membangun rumah singgah. Ia pun mendirikan sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) gratis bagi warga Dusun Prailangina, Desa Napu. PAUD yang dimulai pada 2012 ini setiap tahunnya memiliki 20 murid.

Selain di Prailangina, Maria juga mendirikan 3 PAUD di desa lain. Maria menyediakan kebutuhan sekolah bagi anak-anak PAUD ini termasuk antar jemput ke sekolah.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More