Robert Ramone Rumah Penjaga Tradisi

Penulis: (M-3) Pada: Sabtu, 26 Mei 2018, 03:40 WIB Humaniora
Robert Ramone Rumah Penjaga Tradisi

MI/SUMARYANTO BRONTO

PELATARAN berlantai batu yang diselingi rumput itu diapit dua bangunan tradisional Sumba yang berhadapan. Di tengah lantai pelataran tersebut tersemat huruf C. Kehadiran huruf itu bukan tanpa arti. C mewakili Cor dalam bahasa latin berarti hati.

"C itu bisa berarti center, culture. Cobalah Anda berdiri persis di situ sambil menghadap depan. Kita harapkan semua yang datang membawa cinta, pergi, lalu datang lagi juga dengan membawa cinta," kata Robert Ramone, 54, pendiri Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba yang terletak di Weetebula, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bangunan itu berfungsi sebagai museum peninggalan tradisi Sumba. Di antaranya ada totem, menhir, perhiasan, peralatan masak, termasuk foto-foto alam dan ritual Sumba karya Robert, yang dikenal sebagai fotografer.

Salah satu kamar di museum itu merupakan tempat tinggal dan ruang kerja Robert. Tataannya tak beda jauh dari ruang tamu dan ruang makan sebuah rumah tinggal.

Terlahir dari keluarga petani di desa terpencil Gallu Wawi, Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya, Robert Ramone besar dengan didikan orangtua yang kental budaya Sumba. Tak mengherankan pastor Katolik itu paham detail budaya Sumba.

Karena itu pula ia terpanggil untuk membenahi pariwisata sekaligus melestarikan budaya tanah leluhurnya dengan membuka Lembaga Studi dan Pelestarian Budaya Sumba. Kecintaannya kepada alam dan budaya Sumba semakin kuat kala mendapatkan hadiah kamera dari sepupunya. Sejak itu Pater Robert mulai mengabadikan keindahan alam dan budaya Sumba.

Sejumlah karya pria yang 24 tahun terakhir aktif di dunia fotografi itu diabadikan menjadi kartu pos, termasuk diterbitkan di majalah National Geographic Irlandia dan pameran foto. Alam dan tradisi Sumba yang kerap menjadi objek fotonya lalu menggelitik Robert.

"Lebih baik diadakan lembaga untuk studi dan pelestarian budaya Sumba, lestarikan nilai-nilai positif, juga kearifan lokal," tuturnya.

Meski sudah mengungkapkan cita-citanya ke banyak orang, bukan berarti Robert tidak mendapatkan tantangan. "Bayangkan saja, orang dengan latar belakang fotografi ini mau membuat lembaga pelestarian budaya. Ah, paling-paling cuma mau memamerkan foto-fotonya saja, ya kan? Hahaha," kenangnya.

Namun, ia bergeming dan mulai merancang denah bangunan untuk menjadi wadah lembaga studi itu. "Selama 30 tahun pula saya mengumpulkan barang koleksi, yang sekarang termasuk di antara 1.000 item di museum itu. Sebagian juga sumbangan orang lain, ada pula yang dibeli," jelasnya.

Izin
Terkait perizinan, Robert harus menunggu enam tahun guna mendapatkan izin dari keuskupan yang menaunginya untuk bergiat di budaya dan mendirikan lembaga itu. "Jadi, kegiatan ini sebagai kegiatan gereja yang bermanfaat bagi umat manusia," kata dia.

Bantuan dari swasta pun didapatkannya untuk membangun museum itu, termasuk kontak Rp1 miliar dari sponsor. Ternyata untuk mewujudkan bangunan impiannya, ia harus mengeluarkan biaya Rp2,5 miliar.

"Bantuan itu merembet, luar biasa sangat suportif. Saya melihat semangat pelestarian budaya ini sesungguhnya hebat," kata Robert seraya menambahkan pusat budaya yang dia dirikan itu murni swasta.

Koleksi dalam museum ini lebih bernilai jika dibandingkan dengan bangunan yang menaunginya. Ia masih ingat mendapatkan telepon dari temannya di Ubud, Bali, yang melihat banyak barang peninggalan Sumba di sana. "Totem dan aksesori untuk menari. Lebih memprihatinkan lagi, ada menhir sumba itu dipotong, lalu ditawar oleh orang Prancis, Anda tahu berapa? Rp16 miliar!" ungkap Robert. Padahal, yang diupayakan untuk dilestarikan Robert sesungguhnya jauh lebih berharga daripada itu.

Akhirnya lembaga studi dan pelestarian budaya Sumba itu dibuka pada 22 Oktober 2011. Tidak semata museum, berbagai kegiatan dilakukan di situ. Seperti pentas seni atau diskusi budaya. Ada juga pelestarian budaya untuk anak-anak sekolah sehingga nilai-nilai kearifan leluhur tetap dipertahankan.

Kepercayaan
Budaya Sumba, tambah Robert, tidak terlepas dari Marapu, kepercayaan warga setempat yang mengagungkan arwah leluhur. Kepercayaan itu di antaranya masih terlihat dari penempatan kuburan batu di muka rumah sebagai penghormatan kepada leluhur. Atau ritual 'membaca' petunjuk dari hati ayam atau babi yang dilakukan pemuka Marapu guna menyelesaikan konflik. "Marapu memengaruhi segala sisi dan nilai kehidupan masyarakat Sumba," tegas Robert. Sayangnya anak muda Sumba terserabut dari akar budayanya.

Ia ingin upaya yang dirintisnya mampu menarik masyarakat luar Sumba menikmati keindahan pulau mereka. Bahkan banyak dari mereka yang sudah datang tergerak untuk berdonasi dalam pelestarian budaya dan aktivitas hidup masyarakat sehari-hari.

Melalui rumah budaya itu Pater Robert membantu para donatur menyalurkan bantuan mereka ke berbagai komunitas masyarakat adat dan sanggar tari tradisional. Paling tidak sudah ada 150 rumah adat Sumba yang berada di wilayah Sumba Barat Daya dan Sumba Timur yang dapat dilestarikan.

Berkat upayanya melestarikan budaya dan memperkenalkan Sumba ke Internasional, Robert diganjar sejumlah penghargaan. Di antaranya NTT Academia Award 2010, Promotor Pariwisata Sumba dari Wakil Presiden RI 2011, Pelestari Budaya dari Corporate Social Sustainable, School of La Tofi, Jakarta (2011), penghargaan kategori Pelestari Cagar Budaya dan Permuseuman dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (2014), dan terakhir penghargaan dari Pemerintah Provinsi NTT sebagai pelaku pariwisata pada HUT NTT pada 20 Desember 2016. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More