KLHK Berhasil Bangun Hutan Tanaman Meranti di Gunung

Penulis: Dede Susianti Pada: Jumat, 25 Mei 2018, 13:05 WIB Humaniora
KLHK Berhasil Bangun Hutan Tanaman Meranti di Gunung

MI/Dede Susianti
Hutan tanaman meranti terhampar di Gunung Dahu, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melalui Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, berhasil membangun hutan tanaman di dataran tinggi.

Lahan seluas 170 hektare dari total 250 hektare, di Gunung Dahu, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, yang merupakan bagian atau lereng dari Gunung Salak itu, tumbuh subur tanaman Meranti.

Keberhasilan menanam atau membudidayakan meranti, di luar habitatnya (di Kalimantan) itu, diklaim menjadi yang pertama di Indonesia. Keberhasilan itu menggugurkan anggapan bahwa menanam jenis dipterokarpa yang dianggap sulit, ternyata dapat dilakukan seperti halnya dengan jenis pohon komersial lainnya.

"Kayu Kalimantan jenis-jenis dipterokarpa seperti meranti ini, umumnya tumbuh di dataran rendah. Dan dipanen dari hutan alam. Tapi kini bisa ditanam di dataran tinggi atau gunung. Ini buktinya," kata Atok Subiakto, Peneliti Madya Pusat Litbang Hutan KLHK, seraya menunjukkan area yang ditanami meranti di hutan penelitian meranti di Gunung Dahu, Leuwiliang, beberapa waktu lalu.

Atok menjelaskan, secara teknis, pengembangan hutan meranti sangat dimungkinkan. "Kita bisa nanam selama ada kemauan dan perencanaan atau manajemen yang bagus. Tentunya juga materi bibit yang bagus. Dulu kita di sini pakai stek,"katanya.

Inovasi yang digunakan saat membangun hutan tanaman meranti di Gunung Dahu adalah KOFFCO System. Ini merupakan teknologi yang dikembangkan untuk perbanyakan massal jenis-jenis meranti dan indigenous lainnya.

Pengembangan KOFFCO ini melalui teknik pendinginan rumah kaca melalui pengkabutan, proses pembuatan stek, pembuatan media, proses perawatan bibit stek pada tahap pembengukan akar, stek dan tahap adaptasi stek di persemaian.

KOFFCO System merancang agar kondisi lingkungan stek dapat dipertahankan pada tingkat yang optimal untuk proses pembentukan akar.

Atok menjelaskan, pengembangan teknik KOFFCO System ini telah menunjukkan beberapa hasil. Diantaranya, peningkatan persen perakaran Shorea leprosula dan S. selancia masing-masing sebesar 95 persen dan 92 persen. Untuk jenis pulai, bahkan dapat ditingkatkan sistem perekatan dan produksi massalnya sampai mendekati 100 persen.

Menurutnya, selain di Hutan Penelitian Gunung Dahu, hasil perbanyakan bibit dengan sistem KEFFCO tersebut telah diuji coba untuk penanaman di Perawang, Riau seluas 100 hektare.

"Di sana lahan gambut yang punya kemasaman. Tapi ternyata di lahan seperti itu, meranti juga bisa tumbuh,"katanya.

Volume kayu yang didapatkan, lanjutnya, cukup prospektif. Terlebih jika komparasi volume/hektare dikoversikan ke rupiah.

Dari data Puslitbanghut KLHK, sampai dengan umur 17 tahun, meranti di Gunung Dahu, nilai komparatif ekonominya dinilai cukup menjanjikan.

Dia mencontohkan, untuk jenis S. leprosula, dengan teknik jarak tanam 3x3 meter, harga per meter kubiknya sebesar Rp 1.5 juta. Kemudian nilai kayu per hektarenya sebesar Rp 323 juta lebih dan nilai kayu dalam setahunnya mencapai Rp 19 juta lebih.

Untuk S. selancia, dengan teknik jarak tanam yang sama, harga per meter kubik sebesar Rp 1,5 juta. Kemudian nilai kayu per hektarenya sebesar Rp 159 juta dan nilai kayu setahunnya sebesar Rp 9,3 juta lebih.

Untuk jenis Sengon dengan usia 6 tahun dan teknik menanam jarak 3x3 meter, harga per meter kubiknya sebesar Rp 800 ribu. Nilai kayu per hektarenya sebesar Rp 100 juta dan nilai kayu pertahun sebesar Rp 16 juta lebih.

Sedangkan untuk jenis akasia, dengan umur 5 tahun dan jarak tanam 3x2,5, harga per meter kubiknya hanya 500 ribu. Dan untuk nilai kayu per hektarenya hanya 50 juta. Kemudian untuk nilai kayunya setahun sebesar Rp 10 juta saja.

Terlebih dari segi ekologi dan aspek konservasi, hutan tanaman meranti sebagai jenis lokal Indonesia memiliki lebih banyak keuntungan. Hal itu jika dibandingkan dengan jenis eksotik cepat tumbuh yang berpotensi menjadi jenis asing infasif pada beberapa kondisi tertentu. Seperti halnya akasia. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More