Tonton Kartun

Penulis: Ronald Surapradja Pada: Jumat, 25 Mei 2018, 09:17 WIB celoteh
Tonton Kartun

MI/Rommy Pujianto

SABTU pagi, waktu yang paling saya suka dalam seminggu. Saatnya bersantai menikmati me time dengan hati tenang karena tahu besok masih ada libur lagi hehe. Anak-anak bermain di ruangan mereka, istri membaca buku, sementara saya membuat tulisan ini. Seperti biasa, menulis tidak akan mulai kalau belum menemukan musik yang tepat. Sekelibat saya liat anak saya sedang menonton film kartun, langsung dapat ide untuk mendengarkan CD Saturday Morning (Cartoons Greatest Hits).

Saya lihat dua anak saya sedang menonton film kartun Oggy and the Cockroaches. Mereka tertawa sampai terbahak-bahak. Ceritanya sederhana, kucing yang hidupnya terus-menerus diganggu kecoa. Saya tahu banyak hal yang tidak masuk akal di film kartun. Nah, di film ini levelnya berkali-kali lipat. Gila. Absurdnya juara haha.

Sampai hari ini saya masih menonton kartun, apakah itu menemani anak menonton atau kartun yang memang untuk segmen dewasa seperti The Simpsons dan South Park. Sebagai orang yang bekerja di industri kreatif, menonton film kartun ialah salah satu cara saya untuk mencari ide. Tidak ada batasan imajinasi dalam film kartun karena cara berpikir para kreator bukan hanya think outside the box, melainkan think without the box. Liarkan saja imajinasimu. Selain bisa sebagai katalis berpikir kreatif, menonton film kartun juga bisa sebagai tempat kita ‘belajar’ karena sering kali mengingatkan kita akan hal-hal sederhana yang mungkin sudah kita lupakan.

Film animasi memiliki pesan nilai sosial yang tinggi, mengenai norma, dan moral. Kadang, menjadi dewasa membuat hal-hal mendasar justru terlupakan. Dengan menonton film animasi, kita akan ingat kembali mengenai dasar-dasar kemanusiaan, seperti bersosialisasi, setia kawan, mengejar mimpi, dan mengalahkan ego. Dengan menonton film kartun juga kita akan belajar setiap permasalahan bisa diselesaikan jika kita mau melihatnya secara lebih sederhana. Hakuna matata atau no worries, ucap Timon dan Pumbaa, saat menghibur Simba yang ditinggal ayahnya di film The Lion King. Dari film Kung Fu Panda kita belajar tetap percaya diri dengan segala kekurangan. Kita tahu bahwa Po si panda gemuk, pemalas, dan tidak bisa bela diri itu ternyata the Dragon Warrior. Kita juga bisa belajar tentang kesetiakawanan dari film Toys Story, kasih sayang orangtua dalam Finding Nemo, atau tetap waspada terhadap orang yang ada di sekitar kita dalam Scooby-Doo karena setiap hantu yang menjadi penjahat pasti isinya orang dan orang itu pasti muncul di awal film sebagai orang baik hehe. Ah kadang saya sering berpikir terlalu jauh hehe. Nonton kartun ya nonton kartun aja, sok dipikirin dalam-dalam amat. Ya sudah nikmati saja menonton film kartun, tertawalah terbahak-bahak, lepaskan endorfinmu dan berbahagialah. (H-5)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More