Manusia Takwa Berdampingan dengan Damai

Penulis: Liliek Dharmawan Pada: Kamis, 24 Mei 2018, 12:11 WIB Tausiah
Manusia Takwa Berdampingan dengan Damai

ANTARA/M AGUNG RAJASA

MASYARAKAT Indonesia diajak untuk terus menjaga nilai-nilai persatuan, juga ikatan persaudaraan antarsuku, agama, dan ras. Ramadan menjadi monetum tepat untuk menjaga ketakwaan sebab jika ketakwaan terjaga, pasti akan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan toleransi terhadap sesama.

"Hiduplah menjadi manusia yang bertakwa. Manusia yang mulia, hidup dengan tolong-menolong, saling menghargai, dan hidup berdampingan dengan damai. Bersama-sama menjaga keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia)," kata Shinta Nuriyah Wahid, mantan ibu negara, saat acara sahur bersama di Pasar Segamas, Purbalingga, Jawa Tengah, Selasa (22/5).

Pada hakikatnya, ujarnya, tidak ada manusia dari agama, ras, atau suku apa pun yang paling baik, kecuali manusia yang bertakwa. Manusia yang selalu taat menjalankan perintah agamanya. Setiap ajaran agama pasti akan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan toleransi terhadap sesama manusia.

Menurutnya, akhir-akhir ini bangsa Indonesia diuji berbagai peristiwa, salah satunya aksi terorisme yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Aksi tersebut diakui sebagai ancaman nyata bagi keberagaman di Indonesia.

"Indonesia sesungguhnya adalah bangsa majemuk yang tidak dimonopoli sebuah keyakinan, suku, atau golongan tertentu. Harga yang dimiliki bangsa Indonesia ialah keberagaman. Oleh karena itu, saya mengajak untuk senantiasa menjaga persatuan dan kemajemukan serta toleransi," kata Shinta.

Secara khusus, ia mengajak warga Purbalingga menjadi contoh praktik keberagaman yang ada di Indonesia dengan menjaga kondusivitas di tengah perbedaan.

"Saya minta masyarakat Purbalingga untuk senantiasa menjaga kondusivitas. Saya juga minta warga untuk mengembangkan kearifan dalam kehidupan berbangsa serta menegaskan bahwa NKRI harga mati, tidak bisa ditawar lagi," tambahnya.

Shinta juga membawa pesan Ramadan, yaitu ajaran mengenai kesabaran, kejujuran, keadilan, dan tolong-menolong yang harus terus diemban. "Ramadan memberikan pelajaran bagi kita semua tentang arti pentingnya kesabaran, kejujuran, keadilan, dan saling menolong antarsesama," jelas istri almarhum Gus Dur tersebut.

Ajaran Gus Dur

Dalam kesempatan sahur bersama tersebut, Wakil Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi menegaskan kondisi Purbalingga tetap kondusif. Menurutnya, warga Purbalingga akan tetap solid untuk menjaga NKRI dengan kebinekaan serta mengedepankan toleransi antarsesama.

"Warga di sini tidak terpengaruh dengan isu destruktif yang berembus karena sudah cukup dewasa dalam menyikapinya," tuturnya.

Ia juga mengatakan kehadiran Shinta Nuriyah merupakan kehormatan bagi Purbalingga dan diharapkan akan meneguhkan kembali semangat ajaran Gus Dur, antara lain tauhid, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, kebebasan, persaudaraan, kesederhanaan, dan kesatria.

Hal ini karena sejarah mencatat bahwa perjuangan Gus Dur secara istikamah merawat kebinekaan dan toleransi telah menyelamatkan bangsa Indonesia dari disintegrasi bangsa akibat krisis multidimensional.

Hingga kini, ajaran dari Gus Dur masih terus relevan bagi perkembangan bangsa sehingga semangat harus terus dikobarkan untuk melawan segala tindakan intoleran, radikalisme, dan terorisme. (H-1)

 

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 23 Jun 2018 / Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dhuha : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK

Read More