Zhafira Loebis Bayi Senang, Orangtua Tenang

Penulis: Siti Retno Wulandari Pada: Kamis, 24 Mei 2018, 02:00 WIB Humaniora
Zhafira Loebis Bayi Senang, Orangtua Tenang

MI/MOHAMAD IRFAN

DENGAN bekal hasil pencarian di laman daring, Zhafira Loebis mulai membuat daftar perlengkapan bayi yang harus dibeli. Ia mulai bimbang saat daftar belanja menjadi panjang, apalagi harganya tidak murah dan hanya dipakai sebentar. Perempuan yang karib disapa Fira itu memperlihatkan daftar itu ke suaminya, Arlo Erdaka Temenggung, untuk didiskusikan. Mereka sepakat membeli beberapa saja. Bedside crib, stroller ukuran kabin pesawat, penutup telinga, gendongan, serta mainan bayi terpilih untuk dibeli. Untuk perlengkapan yang lain, Fira dan suami bersepakat menyewa.

Persoalan datang saat tempat persewaan tidak menghadirkan barang dengan kategori premium, sedangkan Fira tak mungkin membelinya karena harganya mahal dan tidak memiliki tempat penyimpanan di rumah. Delapan barang yang sudah lebih dulu dibeli pun dianggap Fira menambah penuh isi rumah. Dua persoalan, yaitu tak ada persewaan barang bayi standar premium dan penuhnya rumah dengan barang bayi justru menghasilkan satu solusi, membuka jasa persewaan. Dengan nama yang mengacu ke kerajaan Babilonia, lalu ditambahkan imbuhan a menjadi Babyloania, ia membukanya di 2014.

"Kami terpikir untuk membuka persewaan barang bayi, dari barang-barang milik kami yang memenuhi rumah ini hahaha... Semua dilakukan autodidak, termasuk membuat website dengan mengikuti kelas coding terlebih dahulu," kata Fira dengan mata yang membulat bercerita awal mula usahanya berdiri, Bekasi, Senin (30/4).

Demi fokus membangun usahanya, Fira dan Aldo memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya. Mereka bergotong royong membangun usaha penyewaan dengan membersihkan peralatan bayi, mengantarnya ke penyewa, hingga menjadi kontak layanan pelanggan.

Komunikasi dari mulut ke mulut membesarkan nama Babyloania. Uang hasil sewa dipergunakan menambah inventaris perlengkapan.

Titip sewa jual
Pengalaman Fira juga dialami kebanyakan orangtua lain, yaitu ingin memberikan yang terbaik untuk buah hati, tapi terkendala dana dan keterbatasan tempat, hingga misi utama Fira membantu para orangtua agar bisa mewujudkan impian, bayi senang, dan orangtua tenang.

Demi wujudkan impian itu Fira harus menambah inventaris barang yang disewakan. Ibu dua anak itu pun memberanikan diri mengetuk pintu distributor, mulai mengirimkan surel, menelepon, hingga mengajak bertemu. Berbagai penolakan didapatkannya, tapi Fira tetap gigih mengajak distributor bekerja sama dan membeli barang dengan harga grosir.

Pada 2016, model bisnis Babyloania mengalami perubahan. Perubahan itu terinspirasi oleh banyaknya pelanggan yang mengeluhkan barang yang bertumpuk di rumahnya. Sebuah ide terlintas di pikiran Fira. Ia mengajak mereka untuk menyewakan barang-barang mereka. Respons positif pun diterimanya.

Ide itu menjadi solusi yang saling menguntungkan. Babyloania mendapatkan tambahan inventaris yang beragam. Pelanggan pun terbantu karena rumahnya tidak lagi sempit, bahkan mendapatkan pemasukan dari barang yang mereka sewakan melalui Babyloania.

Setelah satu tahun muncul model bisnis baru, yakni titip jual. Semua berdasarkan hasil analisis. Hasil analisis itu menunjukkan perbedaan kebutuhan pelanggan yang ingin kembali pakai konsep titip sewa dan yang mendapatkan kado berupa barang dengan kuantitas lebih dari satu bisa menggunakan konsep titip jual.

"Memang tujuan awal kita itu membantu orangtua. Mereka bisa mendapat penghasilan, sementara kami bisa memiliki banyak tambahan inventori dalam waktu cepat. Mereka memiliki akun, bagi yang titip sewa bisa lihat perkembangan grafik barang, dan uang sewa akan ditransfer di awal bulan," ujar perempuan yang sempat berprofesi sebagai corporate lawyer.

Terkait dengan pendapatan, Babyloania menerapkan sistem bagi hasil. Pemilik barang titip sewa mendapatkan 45% dan 55% untuk Babyloania. Sementara itu, untuk titip jual, 75% diperuntukkan pemilik, sedangkan Babyloanian menerima minimal Rp150 ribu.

Pelanggan pun mengaku puas karena mereka seperti memiliki bisnis. Sebabnya, Fira selalu terbuka jika ditanya barang apa yang banyak dicari pelanggan karena ingin menambah barang yang mereka sewakan. Fira pun senang bisa membantu perempuan lain menjadi mandiri dan kuat secara ekonomi.

Berdasarkan rekapitulasi, Babyloania telah menyewakan 2.000 barang dalam 5.000 transaksi bagi keluarga di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Pelanggan cukup membayar sekali dan Babyloania akan menanyakan kesiapan pelanggan saat pengiriman atau dijemput. Moda transportasi pengiriman menggunakan outsourcing sehingga tidak ada biaya tetap yang ditanggung.

"Kenapa kami lebih besar, karena ada biaya penyimpanan, bersih-bersih barang, pemasaran, serta operasional. Kalau mau titip sewa atau jual, ada formulir berupa data dan foto barang. Nanti akan kami tentukan apakah masih layak atau tidak. Kami tidak menerapkan sistem deposit karena misi kami untuk membantu, tidak ingin memberatkan, pun saya yakin orangtua pasti menggunakan barang untuk anaknya secara baik-baik," tukasnya.

Jika terjadi kerusakan, Fira akan mempertemukan pihak pemilik dengan penyewa untuk berdiskusi. Biasanya penyewa akan langsung memberi tahu Babyloania apabila terdapat kerusakan pada barang yang disewa. Biasanya penyewa akan mengganti seharga nominal tertentu atau membeli barang tersebut. Namun, jika barang tidak sesuai dengan permintaan penyewa, cacat atau kurang bersih, Babyloania akan mengganti dengan barang lain atau kembali uang.

Tempat sewa lain
Belakangan tempat penyewaan barang bayi pun menjamur, baik di media sosial maupun situs. Alih-alih tersaingi, Fira mengajak mereka untuk berkolaborasi. Total ada 126 rental di Jakarta yang bekerja sama dengan Babyloania. Dengan konsep saling menguntungkan, Fira tak segan menginformasikan kepada penyewa barang yang diinginkan habis dan bisa didapatkan di rental lain.

"Ini berarti pasarnya besar, kenapa harus takut, dengan kolaborasi kita pasti akan semakin besar. Kerja sama seperti ajak mereka membuat playground juga. Mereka titip barang nonmainan di kami, atau jika barang di kami tidak ada akan kami arahkan ke rental rekanan," imbuhnya.

Sementara itu, terkait dengan pendanaan, hingga kini Babyloania masih menggunakan uang pribadi Fira dan Aldo. Ia merasa belum ada urgensi melakukan penggalangan dana ataupun menerima pendanaan dari pemodal karena misinya akan berubah bila ada kebutuhan pemodal yang harus diakomodasi. Hingga saat ini Fira menjadikan penyewa dan pemilik barang sebagai teman sehingga bisa mendapatkan banyak pemasukan dari mereka. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More