Biaya Pembangunan LRT Jakarta Fase II Rp7 Triliun

Penulis: Husen Miftahudin Pada: Rabu, 23 Mei 2018, 13:36 WIB Megapolitan
Biaya Pembangunan LRT Jakarta Fase II Rp7 Triliun

ANTARA

PEMBANGUNAN proyek prasarana kereta api ringan atau light rail transit (LRT) Jakarta Fase II butuh investasi sebanyak US$500 juta hingga US$600 juta atau setara Rp7 triliun sampai dengan Rp8,4 triliun (kurs Rp14.000/USD). Pembangunan LRT itu dipastikan menggunakan skema Kemitraan Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

"(Pembangunan) LRT sudah diputuskan Fase II kita launching dengan skema KPBU, Kemitraan Pemerintah dengan Badan Usaha. Kita ingin badan usaha terlibat," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno di Balai Kota DKI, Jakarta, Rabu (23/5).

Maka itu, lanjut Sandi, Pemprov DKI bersama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) sebagai pelaksana tugas pembangunan LRT Jakarta sepakat membuka proses uji publik KPBU pada awal Juni 2018.

Dalam proses itu, Pemprov DKI akan menerima masukan dunia usaha sekaligus memberi tawaran keikutsertaan badan usaha dalam pembangunan LRT Jakarta Fase II.

Menurut Sandi, skema KPBU memungkinkan pembangunan LRT Jakarta Fase II dibiayai penuh oleh investor, tanpa mengeluarkan anggaran pemerintah daerah (APBD DKI).

Namun bila hasil proses KPBU tidak mencukupi seluruh biaya pembangunan, Pemprov DKI akan menggelontorkan penyertaan modal daerah (PMD) kepada Jakpro.

"Dengan skema ini, pemerintah harus menyediakan mungkin kombinasi hybrid antara availability payment atau kita juga harus menambah PMD ke Jakpro," tutur Sandi.

Sandi berharap pembangunan LRT Jakarta Fase II segera direalisasikan. Pemprov DKI, katanya, ingin memberikan layanan yang terbaik bagi warga Ibu Kota.

"Ini infrastruktur yang sangat penting, ultimately crucial untuk membantu MRT (Mass Rapid Transit)," jelasnya.

LRT akan mendukung sekaligus sebagai feeder (pengumpan transportasi publik) MRT. Dengan begitu, yakin Sandi, setiap transportasi publik saling terintegrasi satu sama lain.

"Kita ingin agar warga menggunakan LRT, MRT, dan TransJakarta. Dan tarifnya itu harus memang bersaing sehingga masyarakat akan berpindah menggunakan transportasi berbasis rel, transportasi umum," tutup Sandi. (Medcom/OL-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More