Mari Melanggar

Penulis: Ronal Surapradja Pada: Rabu, 23 Mei 2018, 08:28 WIB celoteh
Mari Melanggar

MI/ROMMY PUJIANTO

PALING senang kalau ada syuting lokasinya dekat rumah karena di Jakarta ini jarak dekat tidak selalu berarti sampai cepat. Jadi, untuk menghemat tenaga karena sedang berpuasa, saya naik ojek. Ojek datang. Ketika saya mau naik, si abangnya bertanya, "Mau pake helm, Pak?" Saya kaget dan saya bilang tentu saja harus pake helm. "Kan deket, Pak, kirain nggak mau pake helm," jawab dia sambil cengengesan. Tidak mau pakai helm karena jaraknya dekat? Aneh.

Pernah juga suatu hari saya menggetok helm sopir ojek karena tiba-tiba nge-gas menembus lampu merah hanya karena melihat arah yang melintang kosong, padahal tidak. Alhamdulillah saya masih selamat. Saya tidak mau mati gara-gara perbuatan konyol, apalagi perbuatan konyol itu bukan saya yang melakukannya.

Saya sering berpikir, apa sih susahnya menaati peraturan? Saya menaati peraturan karena percaya pelanggaran ialah awal dari kecelakaan. Kalau enggak mau celaka, ya jangan melanggar. Sebagai orang yang taat peraturan lalu lintas, kadang saya sering merasa aneh sendiri. Jangan-jangan saya yang enggak 'normal' he he.

Menurut analisis sok tahu saya, ada tiga jenis pelanggar peraturan lalu lintas, yaitu orang bodoh, si pura pura bodoh, dan si masa bodoh. Pertama, orang bodoh, saya kira, meskipun sudah jarang, masih ada. Seperti di pangkalan ojek depan gedung radio saya ada seorang penarik ojek yang hobinya melanggar lalu lintas, saya sampai kapok naiknya. Akhirnya saya tahu si bapak ini buta huruf. Yang model seperti ini saya bisa memahami dan memakluminya.

Berikutnya, si pura-pura bodoh. Saya kira mereka berpendidikan cukup untuk mengetahui aturan lalu lintas, tapi sering kali 'mengakali' peraturan terutama jika tidak ada yang mengawasi. Kalau tertangkap polisi, biasanya mengaku salah dan berlindung di balik akting 'bodoh'-nya. Yang terakhir si masa bodoh. Bagi mereka, tidak ada peraturan yang bisa mengatur mereka. Karena merasa memiliki kekuatan, mereka inilah yang selalu bilang, "Peraturan dibuat untuk dilanggar."

Ada beberapa hal yang membuat miris, misalnya ketika melihat orangtua membonceng anaknya dan melanggar peraturan lalu lintas. Anak yang dari kecil sudah terbiasa melihat kebiasaan salah orangtuanya sangat mungkin akan berlaku sama saat dia dewasa. Atau pelanggaran lalu lintas yang dilakukan mereka yang mengenakan atribut agama. Saya berpikir apakah mereka tidak malu dengan atribut yang dikenakannya? Agamanya sudah pasti tidak salah, yang salah pasti orangnya.

Hal seperti ini terus berulang dan akhirnya menjadi sesuatu yang banal. Yang dimaksud banal di sini, menyadur argumen Hannah Arendt, filsuf Amerika kelahiran Jerman, berarti pelanggaran rambu-rambu lalu lintas tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang menyimpang. Sempat optimisis di bulan puasa ini jumlah pelanggar peraturan lalu lintas akan berkurang karena ini ialah bulan suci saatnya orang menahan emosi, berperilaku baik, dan memanen pahala. Ternyata sama saja. Jika peraturan pemerintah atau perintah agama tidak bisa membuat seseorang taat peraturan lalu lintas, jadi harus pakai cara apa lagi?

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More