Al Baitul Qadim, Masjid Pemersatu di Kupang

Penulis: Palce Amalo Pada: Rabu, 23 Mei 2018, 08:25 WIB Islam Nusantara
Al Baitul Qadim, Masjid Pemersatu di Kupang

MI/PALCE AMALO

MASJID Agung Al Baitul Qadim berdiri tegak. Namun, sebagian cat dindingnya yang putih mulai retak-retak dan mengelupas. Begitu pula daun pintu dan jendela, terutama di lantai 1, rusak dan berlubang karena dimakan usia.

Masjid yang terletak di bantaran Kali Dendeng, Jalan Trikora, Kelurahan Airmata, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, itu memang telah berumur karena dibangun pada 1806-1812.

Bangunan tempat ibadah berbentuk joglo dan beratap genteng dengan ukuran bangunan 10 x 10 meter itu terakhir kali direnovasi pada 1984 dengan menambah satu lantai sehingga masjid memiliki dua lantai.

Secara menyeluruh, masjid berumur 112 tahun tersebut memiliki arsitektur perpaduan antara Jawa, Tiongkok, Flores Timur, dan Arab.

Masuknya unsur arsitektur Jawa pada bangunan tersebut tidak lain disebabkan adanya peran tokoh pergerakan Banten bernama Kyai Arsyad yang dibuang Belanda ke Kupang.

Bersama Sya'ban bin Sanga Kala, ulama asal Kampung Mananga, Pulau Solor, Flores Timur, ia membangun masjid tersebut.

"Masjid ini adalah salah satu dari 100 masjid tertua di Indonesia," kata Wakil Ketua Badan Kemakmuran Masjid Agung Al Batiul Qadim, Muslihi Balich, Kamis (17/5).

Menurutnya, sebetulnya Sya'ban bin Sanga Kala ialah ulama penyebar agama Islam keturuanan Pelembang, Sumatra Selatan. Ia menjadi orang pertama yang menyebarkan ajaran agama Islam di Pulau Timor.

Ketika masjid dibangun, sebagian besar pekerjanya adalah umat Kristen dari Suku Rote, Sabu, dan Timor, yang ketika itu ditempatkan Belanda di sekitar lokasi pembangunan masjid. "Saat itu ada tiga suku yang ditempatkan Belanda di samping masjid," ujar Muslihi.

Menurutnya, masyarakat dari tiga suku tersebut juga diberi sebutan 'pagar' atau orang-orang yang bertugas melindungi umat muslim yang ketika itu jumlahnya hanya puluhan orang.

Sejak itu, umat Islam dan Kristen di daerah tersebut terus berkembang bersama.

Selain penganut Islam bertambah, hubungan kekerabatan antarwarga semakin erat karena adanya perkawinan antarsuku.

Saat Masjid Al Baitul Qadim dipugar, sejumlah keturunan dari orang-orang yang pertama kali membangun masjid tersebut juga datang. Catatan sejarah itu membuat masjid tersebut menjadi simbol pemersatu umat Islam dan Kristen di wilayah itu, selain sebagai masjid tertua di Kota Kupang.

Muslihi mengatakan, bersatunya umat Islam dan Kristen juga disebabkan kekejaman penjajah. Mereka bangkit bersama-sama dan melawan.

Kepedihan yang diderita masyarakat dari penjajah itu pula yang kemudian membuat kawasan sekitar masjid diberi nama wilayah Air Mata. Selanjutnya wilayah bernama Air Mata dijadikan nama Kelurahan Airmata.

"Nama Air Mata diubah disambung menjadi Airmata, untuk menghilangkan kesan sedih," ujarnya.

Kelurahan Airmata menjadi salah satu dari 51 kelurahan di Kota Kupang dan juga tercatat sebagai kelurahan dengan penduduk muslim terbanyak, atau sekitar 85% dari jumlah penduduk 2.543 jiwa yang berasal dari Suku Flores, Alor, Lembata, Timor, Rote, dan Sabu.

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 20 Okt 2018 / Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dhuha : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK

Read More