Menilik Kohesivitas Keluarga Teroris

Penulis: Henri Siagian Pada: Senin, 21 Mei 2018, 16:25 WIB Opini
Menilik Kohesivitas Keluarga Teroris

Ist
Henri Siagian

AKSI kelompok kriminal luar biasa (extra-ordinary crime) atau teroris berlangsung secara bertubi-tubi di Tanah Air. Mulai dari keributan dan penyanderaan di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba cabang Depok yang berada di Markas Komando Brigade Mobil (Brimob) Depok, pengeboman sejumlah gereja di Surabaya, Jawa Timur, dan penyerangan markas polisi di berbagai daerah.

Dari rangkaian kejahatan luar biasa itu, aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/5) dan di Markas Polrestabes pada Senin (14/5) menjadi yang paling tragis.

Pengeboman tiga gereja itu dilakukan dibom oleh enam orang yang merupakan satu keluarga batih, yakni suami, istri, dua anak laki-laki berusia 18 dan 16 tahun, serta dua anak perempuan yang masih berusia 12 serta 9 tahun.

Sang kepala rumah tangga, Dita Oepriarto melakukan aksi bom bunuh diri di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS). Sedangkan istrinya, Puji Kuswati, bersama dua putrinya beraksi di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Jalan Diponegoro. Adapun kedua putra Dita beraksi di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel.

Pada malam harinya, Anton Ferdiantono bersama istri dan seorang anaknya tewas dalam ledakan bom di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo.

Sehari kemudian, pasangan suami-istri Tri Murtono dan Tri Ernawati bersama dua anak mereka meledakkan bom bunuh diri di gerbang masuk Kantor Polrestabes Surabaya. Aksi keji itu dilakukan dengan menggunakan dua sepeda motor. Adapun seorang anak Tri lainnya yang berusia 8 tahun, Ais, selamat dari bom bunuh diri yang melenyapkan keluarganya.

Publik marah melihat anak-anak mereka yang tidak berdosa juga dilibatkan serta dikorbankan dalam aksi para anggota kelompok kriminal luar biasa itu. Yang pasti, seperti diungkapkan Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri Amriel, anak-anak yang dipakaikan bahan peledak ialah yang tengah dirampas hak-hak mereka.

Pelibatan anak-anak atau anggota keluarga dalam aksi terorisme bukan otentik para bomber Surabaya. Tetapi, seperti diungkap pengamat terorisme Sidney Jones, IS memang memberi peran bagi seluruh anggota keluarga dalam aksi mereka. Termasuk, anggota keluarga yang masih di bawah umur.

Otak pelaku teror Paris, Prancis, pada 2016, Abdel-Hamid Aba Oud, juga merekrut adiknya yang masih berusia belasan tahun untuk berangkat ke Suriah dan bergabung dengan Islamic State (IS). Abdel juga melibatkan sepupu perempuannya yang berusia belasan tahun, Hasna, untuk menjaga apartemennya di Saint Denis, Paris.

Dalam Introduction to Communication Theory (2007), Richard West dan Lynn H Turner menyatakan, kelompok dengan kohesivitas sangat tinggi berpeluang membuat keputusan yang tidak terlalu matang dan berdampak sangat tragis.

"Sebuah kelompok yang sangat kohesif sering gagal dalam mempertimbangkan alternatif untuk pengambilan keputusan perilaku mereka. Ketika anggota kelompok berpikir secara sama dan tidak memberikan pilihan jawaban yang berlawanan, mereka cenderung tidak berbagi ide-ide yang tidak populer dan berbeda dengan orang lain."

Irving Janis dalam karyanya bertajuk Victims of Groupthink: A Psychological Study of Foreign Policy Decisions and Fiascoes (1972) menggambarkan kohesivitas telah membuat orang atau anggota kelompok menekan pendapat berbeda atau pemikiran alternatif demi mencapai kesepakatan kelompok.

Kelompok dengan kohesivitas sangat tinggi juga akan mengacuhkan pendapat kelompok yang berbeda. Sebab, mereka menganggap keputusan kelompok mereka sendiri yang paling benar.

Irving mendefinisikan groupthink sebagai suatu metode berpikir yang diterapkan oleh orang-orang apabila mereka terlibat secara mendalam di dalam suatu kelompok yang kohesif, ketika para anggota yang berjuang demi suara bulat mengenyampingkan motivasi mereka untuk menilai berbagai tindakan alternatif secara realistis.

Sehingga, orang-orang yang berada dalam kondisi groupthink akan mau melakukan aksi meski dianggap tidak masuk akal atau bertentangan bagi kelompok lain.
Irving juga menggambarkan sejumlah gejala kelompok kohesif yang mengalami groupthink. Seperti, ilusi atas kekebalan. Di mana kelompok tersebut meyakini kebersamaan dalam kelompok membuat mereka istimewa dan mampu mengatasi hambatan yang sama apabila bersama.

Kelompok ini juga merasa memiliki moralitas yang alami dan meyakini sebagai kelompok yang baik dan bijaksana. Sehingga, keputusan yang diambil kelompok adalah baik.

Kelompok itu cenderung memberi rasionalisasi kolektif sendiri dan mengabaikan peringatan dari kelompok berbeda serta memberi stereotip terhadap kelompok lain sedang mengalami krisis.

Dengan groupthink, kelompok akan menekankan prinsip keseragaman. Sehingga, mereka akan meminimalisasi keraguan atau pendapat yang berbeda. Bahkan, mereka akan menomorduakan pendapat personal. Sedangkan kesunyian atau diam dianggap sebagai kesepahaman.

Sikap ketertutupan juga dianggap sebagai proteksi diri. Termasuk, dari informasi yang berbeda dari kelompok lain. Semua itu dilakukan untuk menjaga keutuhan kelompok. Bila ada anggota kelompok yang berniat menyatakan pendapat berbeda dengan suara kelompok akan menghadapi beragam tekanan.

Pelaku teror di Indonesia--senada dengan kasus teroris sebelumnya--dilihat oleh orang sekitar sebagai sosok yang pendiam dan tertutup. Jarang bersosialisasi di tengah masyarakat Indonesia yang gemar bersosialisasi.
 
Demikian juga pandangan terhadap sosok para pengganggu situasi keamanan di Surabaya dan Sidoarjo. Berdasarkan pengakuan sejumlah warga, tidak ada yang mengenal dengan baik sosok pelaku. Para pelaku dinilai tertutup.

Adapun anak-anak para terduga teroris itu, berdasarkan keterangan kepolisian, kerap tidak disekolahkan di lembaga pendidikan formal dan diwajibkan ikut pengajian. Untuk menghindari kesan anak-anak tidak bersekolah, para orangtua berdalih telah memasukkan mereka ke program home schooling.

Keluarga adalah benteng untuk melindungi anak. Sehingga, keluarga semestinya menjadi tempat berlindung atau bertahan dari serangan hal buruk, seperti ekstremisme dan radikalisme.

Akan tetapi, di sisi lain, keluarga yang terpapar justru menjadi tempat berlindung dan sarang perkembangan paham radikalisme dan ekstremisme. Pemikiran yang tidak sejalan dengan yang disepakati dalam keluarga terpapar ekstremisme dan radikalisme justru dianggap salah dan harus dihindari.

Termasuk, terhadap nilai-nilai yang sudah diyakini sebagai kearifan lokal (local wisdom) justru akan dinyatakan sebagai kelompok 'mereka' atau hal yang negatif, bukan 'kami' yang diyakini sebagai kebenaran tunggal.

Anak-anak dalam keluarga bisa berkembang menjadi karakter berkualitas atau korban semata dari perilaku atau pilihan orangtua mereka. Anak akan lebih mudah menyetujui pilihan orangtua mereka demi mencapai kondisi groupthink. Apalagi, anak-anak yang belum terpapar pemikiran yang berbeda karena tidak pernah bersinggungan dengan ide di luar keluarga.

Mengacu Irving, untuk mencegah groupthink dapat dilakukan dengan pengajaran dengan melihat persoalan secara objektif. Harus ada pemahaman sejumlah skenario yang berbeda atas beragam persoalan, bukan skenario tunggal. Apalagi, Indonesia adalah bangsa yang identik dengan keberagaman. (OL-5)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More