Puasa dan Kecerdasan Sosial

Penulis: Syarief Oebaidillah Pada: Minggu, 20 Mei 2018, 08:20 WIB Tausiah
Puasa dan Kecerdasan Sosial

MI/ADAM DWI

IBADAH puasa di bulan Ramadan sejatinya tidak sekadar meningkatkan hubungan vertikal kepada sang Khalik. Ibadah di bulan suci ini juga meningkatkan hubungan horizontal dengan sesama manusia.

Sekretaris Takmir Masjid Baitut Tholibin di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Jakarta, Khamim, memaparkan Ramadan menjadi momentum yang tepat bagi umat muslim untuk meningkatkan kecerdasan sosial.

Menurutnya, dengan menahan lapar dan dahaga saat puasa, kita merasakan penderitaan kaum yang kurang beruntung, yang sering kekurangan pangan. Diharapkan pengalaman menahan lapar dan haus itu semakin meningkatkan kepedulian terhadap kaum papa.

Selain itu, wujud nyata dari pelatihan kecerdasan sosial juga ada dalam bentuk keikhlasan untuk membayar zakat fitrah sebelum Idul Fitri nanti.Khamim mengutarakan sebuah hadis Nabi menyebutkan bahwa tidak akan diterima amal ibadah puasa Ramadan yang wajib dilaksanakan sebulan lamanya jika mereka yang berpuasa belum membayar zakat fitrah.

"Nah, ajaran zakat fitrah, kendati hitungannya secara nominal kecil, mengandung hikmah kepedulian sosial kepada sesama yang kurang mampu. Zakat fitrah bisa menjadi pemberdaya ekonomi rakyat," kata Khamim pada tausiah Ramadan bada salat zuhur di Masjid Baitut Tholibin Kemendikbud, Jakarta, Kamis (17/5).

Dengan bentuk-bentuk ibadah itu, lanjut peraih doktor pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu, ajaran Islam menjaga keseimbangan manusia dalam berhubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horizontal dengan sesama manusia, melalui kepedulian kepada sesama.

"Kecerdasan sosial kita diasah melalui ibadah puasa. Dengan begitu, seharusnya, tidak ada orang muslim yang tega menyakiti orang lain, apalagi membunuh," cetusnya seraya mengemukakan keprihatinan mendalam atas tragedi bom di Surabaya dan wilayah lain oleh aksi teroris yang mengakibatkan korban meninggal dan luka-luka.

Amalkan Alquran

Khamim melanjutkan Ramadan juga menjadi bulan istimewa di antara sebelas bulan lainnya karena Ramadan menjadi bulan diturunkan Alquran, juga ada ada malam lailatul qadar di dalamnya. Ia mengutip salah satu ayat Alquran Surat Al Baqarah yang artinya, bulan Ramadan diturunkan Alquran sebagai pembeda antara yang benar dan salah.

"Maka mari kita coba semampu kita untuk membuka kitab Alquran. Kita baca, kita hayati, dan kita amalkan karena di bulan lain mungkin kita sibuk oleh urusan duniawi sehingga Alquran jarang kita sentuh dan jarang kita baca," ujarnya.

Terkait malam lailatul qadar, hadis Nabi menjelaskan kesempatan itu ada pada malam-malam ganjil di 10 malam terakhir Ramadan. Khamim berpendapat, jika memakai teori probabilitas, muslim yang berpuasa penuh 30 hari, bersedekah setiap hari, bertarawih, dan membaca Alquran, dialah yang berpeluang besar untuk meraih keberuntungan meraih lailatul qadar, yakni malam yang digambarkan lebih baik dari seribu bulan.

"Pemberian lailatul qadar ialah hak prerogatif Allah. Jika kita menjalankan semua ibadah dengan sungguh-sungguh, insya Allah akan meraihnya," imbuhnya.

Menutup paparannya, Khamim menegaskan Ramadan merupakan bulan pembakar dosa-dosa. Mereka yang berpuasa dengan sungguh-sungguh akan kembali fitrah seperti bayi yang baru lahir (tanpa dosa).

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Jumat, 17 Agu 2018 / Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dhuha : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK

Read More