Menihilkan Jarak Antarnegara

Penulis: (AT/M-3) Pada: Minggu, 20 Mei 2018, 06:40 WIB WAWANCARA
Menihilkan Jarak Antarnegara

DOK PRIBADI

KEHIDUPAN Fendry Ekel bisa dibilang nomaden alias berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Lahir dan besar dalam keluarga tentara, Fendry pun harus berpindah-pindah mengikuti lokasi tugas sang ayah. Tercatat dari 1971-1987 ia menetap di Banda Aceh, Medan, Manado, dan Jakarta.

Pertemuannya dengan seni pun saat ia berada di Jakarta. Kala itu, Fendry yang berusia 7-8 tahun bertemu seorang yang indekos di rumahnya. Ia melihat orang tersebut spesial karena penampilannya.

"Awalnya bukan tertarik pada seninya, tapi pada kepribadiannya. Ia berani menyendiri. Ia tidak berkelompok. Padahal yang lain di lingkungan (saya waktu itu) sering nongkrong, ngumpul, tapi ia berani sendiri," ujar Fendry.

Setelah tidak sengaja masuk ruang kerjanya, Fendry pun baru tahu orang itu ialah pelukis. "Kalau selesai melukis dia selalu ganti baju sehingga tetap terlihat bersih dan tertata. Waktu itu, saya belum tahu seni itu apa," celetuknya.

Pertemuan itu menjadi awal pemantik rasa seninya. Namun, kebiasaan keluarganya berpindah tempat tetap berlanjut.

Pada 1987 merupakan bagian penting dalam perjalanan hidup Fendry Ekel. Pada tahun itu dirinya ikut bermigrasi bersama ibunya ke Belanda. Saat itu, Fendry tidak hanya melihat lebih banyak kota-kota di Indonesia, tetapi juga di luar negeri.

Dengan latar belakang perjalanan yang melintasi kota, provinsi, pulau, negara, bahkan benua, bukan menjadi sesuatu hal yang biasa saja baginya. Ia pun mengakui tidak bisa tinggal di satu daerah saja.

"Travelling menjadi passion saya," kata dia mengutip bukunya yang diterbitkan Erasmus Huis, Jakarta. Dari sekian banyak tempat yang ditinggali dan jalinan relasi yang dimiliki, Fendry tetap menganggap Indonesia sebagai kampung halamannya.

Bagi Fendry, jarak bukan suatu hambatan. Terlebih di zaman sekarang ini, Berlin apabila dilihat dari Jogja rasanya seperti melihat Jakarta saja. Bedanya, di Berlin dingin, sedangkan di Jakarta panas.

"Analoginya, dari Jogja ke Jakarta naik kereta, sama lamanya dengan naik pesawat dari Jakarta ke Berlin," kata pria yang sekarang sering mondar-mandir Yogyakarta-Berlin dalam sesi wawancara di Yogyakarta.

Di era cyber space saat ini, rasanya semakin tidak ada jarak satu sama lain. Hubungan sosial pun juga semakin luas.

Saat malam, ketika di tempat tidur, ia bisa chat dengan teman di Berlin, New York, atau di manapun di belahan dunia ini. Sebagai seniman, ia berkesenian sebagai alat untuk menjalin jaringan.

Berkesenian tidak hanya menghubungkan dirinya atau keluarganya, tetapi menghubungkan dengan orang-orang di seluruh dunia.

Dengan banyak kota yang pernah ditinggali dan orang-orang yang ditemui telah memengaruhi sikapnya dalam memandang sesuatu. "Semakin besar ruang kita bergerak, semakin sadar kita betapa kecilnya kita," pungkas dia.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More