Eksistensialisme dalam Berkarya

Penulis: Ardi Teristi Hardi Pada: Minggu, 20 Mei 2018, 06:20 WIB Weekend
 Eksistensialisme dalam Berkarya

DOK PRIBADI

POPULARITAS Fendry Ekel tidak hanya terkenal di dalam negeri, tapi merambah mancanegara. Surat kabar Amerika, New York Times pernah mengangkat kisahnya. Selain aktif berkarya, sekarang pria yang pernah belajar di Fine Art, Gerrit Rietveld Academy ini tengah aktif membangun seni rupa Indonesia dari balik layar.

Ditemui di Viavia Cafe, Yogyakarta, Senin (19/3) petang, Fendry pun menceritakan pengalamannya di dunia seni rupa.

Bagaimana pandangan Anda tentang seni rupa?

Seni rupa itu bukan sekadar craft, tetapi tentang kesadaran. Dalam seni rupa, kita mempertanyakan apa yang kita lakukan agar bisa mempertanggungjawabkan yang dilakukan. Sedangkan craft, tidak perlu tahu yang dilakukan, yang penting dibayar. Dalam seni rupa, kita tidak bisa berbohong dengan diri sendiri.

Dari mana inspirasi seni Anda?
Saya mengambil inspirasi dari kejadian-kejadian yang dekat dengan saya.

Mengapa kesan identitas dan nasionalisme tampak dalam karya Anda?
Sebagai seorang yang sering bermigrasi, wajar muncul kesadaran tentang identitas, nasionalisme. Saya tidak pernah secara langsung mengangkat tema identitas atau nasionalisme, karena itu sudah jadi bagian karya saya. Bisa juga, itu proyeksi orang ketika melihat karya saya. Bukan itu (identitas atau nasionalisme) sebenarnya tema saya. Tema saya adalah eksistensialisme. Tapi, saya memang mengambil elemen-elemen itu (identitas dan nasionalisme) untuk memprovokasi, mempertanyakan itu.

Bicara eksistensialisme bangsa saat ini, menurut Anda apakah gesekan-gesekan sosial yang terjadi terkait politik?
Dalam keseharian saya selalu menghargai keseimbangan antara kekuatan politik yang dibarengi diplomatik kebudayaan yang tinggi sebuah negara. Dilema negara ini adalah merdeka, bersatu, dan terbentuk karena semua bangsa-bangsa di dalamnya mempunyai latar belakang yang sama yaitu tertindas. Sekarang negara ini sedang mengolah visi baru yang bisa membuat transisi dari merdeka ke makmur dan sejahtera. Seni adalah kebutuhan primer masyarakat yang sejahtera. Setiap negara yang merasa sejahtera pasti mempunyai kebutuhan yang besar terhadap seni. Impian saya selalu bisa menjadi bagian dari masyarakat yang makmur dan sejahtera itu. Eksistensialisme suatu bangsa baiknya berlandaskan bukan pada persoalan bersama, tapi pada visi yang sama. Setelahnya, baru satu persoalan diselesaikan bersama.

Menurut saya gesekan-gesekan di dalam setiap kehidupan dari satu masyarakat akan terus ada dan bukanlah sesuatu yang harus dihindari atau ditakuti. Ini adalah bagian dari proses pendewasaan masyarakat. Pada akhirnya di setiap individu tertanam benih kebaikan.
Tugas kita semua menjaga dan melindungi benih tersebut agar gesekan-gesekan ini tidak menjadi benturan yang bisa mengorbankan individu yang lemah. Perbedaan pendapat haruslah dilihat sebagai sesuatu yang bisa memperkaya pandangan dan menantang untuk lebih kreatif meyakinkan opponent untuk mengerti dan menghormati pandangan berbeda. Untuk menghindari gesekan menjadi benturan, baiknya kita harus berinvestasi habis-habisan di edukasi sistem yang berkualitas dan kreatif. Dunia akademik yang sehat harus dibangun terus.

Menurut Anda seberapa penting bagi seorang seniman merespons pergolakan sosial dan politik dalam karya-karyanya?
Sebagai seniman, saya berusaha melatih pandangan saya untuk melihat tembus dari realitas dan retorika politik sehari-hari. Karya saya diciptakan bukan untuk menjadi pamflet dan merespons keadaan sosial secara langsung atau jalan keluar instan dari satu pergolakan di masyarakat. Tetapi menginspirasi publik melihat sesuatu yang abstrak dan keindahan dari kehidupan itu sendiri. Karya seni adalah hasil dari proses kreatif. Saya berharap karya saya bisa mengundang audience termasuk saya sendiri, untuk bisa melatih daya menciptakan pandangan pribadi yang substansial terhadap semua hal.

Sebagai seorang manusia dan bagian dari satu entitas sosial, saya tidak pernah akan luput dari efek keadaan politik dari masyarakat itu sendiri, baik itu segi sosial atau ekonomi. Peran dan tanggung jawab sosial saya sebagai seniman tidak pernah akan lepas dari peran saya sebagai seorang individu. Di aktivitas seni saya selalu berusaha menjaga jarak yang tepat terhadap semua pihak, tapi bukan berjarak. Sebuah pikiran yang naif, kerdil, dan arogan bahwa seorang seniman bisa menjadi juru selamat suatu bangsa. Keselamatan suatu bangsa tergantung dari kemampuan bangsa itu sendiri secara kolektif untuk bisa memahami, mengerti, dan merawat hasil dari kreasi seni yang baik, terlepas dari negara manapun karya itu berasal. Karya seni dengan pesonanya bukanlah sebuah produksi yang dapat dikonsumsi sebagai produk. Tapi sebuah kreasi dari seorang individu yang dapat diapresiasi di mana kita sebagai manusia, bersama belajar wawas diri dan terinspirasi, jadi bukan terpesona.

Selain membuat karya seni rupa, apa yang sedang dikerjakan?
Saya membentuk tim kerja dengan teman-teman sedang membangun platform yang memberi kesadaran, membangun sumber daya manusia. Kita cinta seni belum tentu bisa mengerti seni dan membuat karya seni. Saya sedang fokus membangun pertukaran pengetahuan dalam seni rupa, baik lewat akademi, maupun pergaulan sehari-hari dengan kolega-kolega. Di Jogja, kami ada Ofca International yang lebih mengembangkan konsep-konsep pameran, lebih di belakang layar. Selain itu, ada Organisasi Partner, berinteraksi dengan organisasi-organisasi lain untuk pelaksanaan suatu acara. Kita juga mengelola tempat pameran Sarang di Yogyakarta. Melalui itu, kita banyak ketemu generasi muda yang tertarik kesenian. Kesenian tidak hanya melukis, tetapi banyak elemen lain yang harus dilakukan.

Platform ini, target, bentuk, mekanisme riilnya seperti apa?
Sebagai seniman saya selalu berusaha menghindari perkelompokan. Karena keterikatan ini buat saya mengecilkan ruang lingkup dan berpotensi menyingkirkan sesuatu tanpa sebab yang rasional. Akan tetapi, ini berbeda dengan kerja sama. Saya selalu tertarik berhubungan dengan setiap individu selama mempunyai visi yang sama, walaupun terkadang misinya berbeda. Buat saya berkesenian bukan hanya berkreasi di studio seharian, bertemu, dan bekerja sama dengan individu lain merupakan bagian dari berkesenian. Platform seni yang saya garap bersama kolega-kolega tujuannya tidak hanya untuk melakukan sesuatu yang lebih besar atau sulit, terutama pengembangan wacana seni dan sumber daya manusia. Sekaligus mendemonstrasikan ke lingkungan bahwa kerja sama di dunia seni itu positif dan semua orang bisa, selama basisnya visi.

Media digital berkembang sangat pesat. Seberapa besar Anda dan komunitas memanfaatkan media tersebut baik menciptakan seni atau menyebarluaskannya?
Yang jelas ini (media digital) adalah alat yang sangat vital untuk menyebarkan informasi. Fenomena yang saya lihat di generasi muda adalah berani menciptakan dan menemukan kriteria terkini untuk bisa membedakan informasi dengan kenyataan. Saya sendiri fokus pada media lukis, yang bisa dianggap kuno, dilapisi dan dilandasi pikiran-pikiran kontemporer. Karya seni adalah refleksi dari sikap dan pernyataan seorang individu, jadi bukanlah benda komedi, walaupun seni sering diperlakukan dan dipromosikan seperti itu. Karenanya membangun jaringan di seni rupa lewat media digital kelihatan terkesan lugu dan pretentious. Sebagai seniman ruang lingkup dan peta pergaulan saya dan kolega saya melewati batas-batas geografi, karena itu media digital sangat membantu menjaga hubungan, sedangkan proses pengembangan jaringan itu saya lebih percaya lewat pertemuan pribadi dan sifatnya bertahap.

Bicara tentang diri sendiri, seberapa jauh seni telah mengubah pandangan-pandangan Anda terhadap kehidupan?
Seni sangat membantu saya melihat banyak hal. Antara lain, hubungan harmonis antara rasio dan rasa, perbedaan antara proyeksi dan persepsi, proses pembentukan sikap pribadi dan kompleksitas dari kehidupan itu sendiri yang terkadang kontradiktif. Berbakti buat bangsa sudah menjadi budaya dan bagian dari DNA keluarga kami. Latar belakang keluarga besar saya adalah militer, orangtua saya, oma dan kedua opa saya, kakak-adik, sepupu, dan ipar mereka adalah tentara. Mereka semua ikut berjuang dan mempertaruhkan nyawa mereka dalam kemerdekaan bangsa ini. Hubungan saya dengan bangsa ini tidak usah dipertanyakan. Saya ingin berbakti buat dunia dan lebih tertarik pada hubungan antara manusia. Dengan berkesenian saya tidak hanya bisa menghidupkan kehidupan saya, terutama untuk bisa mengerti arti dari kehidupan itu sendiri.

Apakah dengan semakin menyelami seni, Anda semakin merasa menjadi makhluk yang humanis dan menerima segala keadaan atau sebaliknya?
Karya seni yang baik terbentuk bukan dari hasil kompromi, tetapi sesuatu yang tercipta semaksimal dan optimal sesuai dengan kondisi dan keinginan senimannya. Berkesenian adalah cara hidup seorang seniman, tapi saya masih sadar ini bukan berarti seluruh kenyataan dalam kehidupan. Berkesenian dan pengalaman hidup saya sehari-hari adalah saling melengkapi. Dengan berkesenian saya ingin bisa tambah menghormati dan menikmati perbedaan antara individu dan pada saat yang sama lebih banyak lagi menemukan titik temunya, common ground.

Bicara soal diaspora Indonesia dan anak muda Indonesia berkiprah di luar negeri, sekarang ini jumlahnya semakin banyak. Di sisi lain, banyak juga yang menilai jika kiprah luar negeri itu tidak berarti banyak karena tidak berdampak pada kemajuan dan perbaikan di dalam negeri, bagaimana menurut Anda? Dan bagaimana agar ini tidak terjadi?
Salah satu motivasi utama saya menjadi seniman adalah untuk mencapai impian saya semenjak kecil untuk melihat dunia. Karya saya membawa saya berkenalan dengan banyak bangsa dan mempunyai teman, kolega dan guru di banyak negara. Indonesia adalah negara yang muda, terdiri oleh bangsa-bangsa yang tua di dalamnya dan secara geografis berada di posisi perlintasan. Sama seperti saya, mayoritas penduduk Indonesia mempunyai keluarga, kerabat atau sahabat di luar negeri. Diaspora Indonesia terbentuk dari banyak kejadian dengan motif yang berbeda-beda, antara lain efek perang dunia kedua, kebutuhan pendidikan formal yang lebih baik, alasan ekonomi, penghargaan secara profesional, meluaskan wawasan, hubungan cinta antara manusia, buronan, tertipu atau perbudakan.

Kalau ada yang menilai kiprah luar negeri sesuatu yang negatif menurut saya bisa saja. Mungkin orang tersebut pernah apes dan tidak dapat membawa ilmu apapun dalam hidupnya selama di luar negeri atau karena tidak tahu mau ngapain dan ngeri berkiprah di luar negeri karena di negeri sendiri sudah merasa besar dan sangat nyaman sekali. Kemajuan dalam negeri tidak ada hubungan dengan rakyatnya berkiprah di luar negeri atau tidak. Perkembangan suatu negara sangat berhubungan dengan kualitas edukasi formal dan hubungan internal keluarga. Dari sini lahir negarawan berakal sehat yang paham relasi antara etika dan estetika. Hidup sangatlah terlalu pendek dan suatu klaustrofobia untuk hanya menetap di satu tempat. Berkiprah di luar negeri buat saya pribadi kebetulan bukan tujuan tetapi realitas. Sebagai seniman, saya ingin berkiprah di luar zona nyaman. Hidup sangatlah terlalu pendek dan suatu klaustrofobia untuk hanya menetap di satu tempat. Berkiprah di luar negeri buat saya pribadi kebetulan bukan tujuan tetapi realitas. Untuk membangun bangsa harus memulainya dari akar. Kualitas hidup setiap individunya.. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More