Puasa Beduk

Penulis: Marwan Fitranansya Staf Bahasa Media Indonesia Pada: Minggu, 20 Mei 2018, 06:00 WIB BIDASAN BAHASA
Puasa Beduk

FOTO ANTARA/Hermanus Prihatna

MARHABAN ya Ramadan! Selamat menjalani ibadah puasa Ramadan bagi para muslim. Mari kita tambah pahala dengan tadarusan. Suara beduk pun akan semakin indah bila digaungkan. Suara beduk pun sebagai 'sinyal' bahwa waktu berbuka puasa akan datang.

Bila berbicara puasa, tentu tak sekadar menahan dahaga. Kita juga mesti mengajarkan dan memberikan contoh kepada generasi muda, terutama yang berusia belia. Salah satu metode yang paling baik dan sering digunakan ialah menyuruh mereka untuk berpuasa setengah hari. Namun, bukan puasa setengah harinya yang ingin dibahas, melainkan istilah kebahasaan yang muncul dengan bermakna demikian.

Di beberapa daerah pasti pernah mendengar istilah puasa bedug. Namun, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata bedug bukan merupakan bentuk baku. Kata bakunya ialah beduk dengan huruf k. Beduk (dalam KBBI) bermakna 'gendang besar (di surau atau masjid yang dipukul untuk memberitahukan waktu salat)'. Jadi, mari kita biasakan terlebih dahulu untuk menggunakan kata beduk. Lalu, bagaimana istilah puasa beduk ini muncul?

Untuk menjawab hal itu, lebih dulu harus dipahami, beduk digunakan sebagai penanda datangnya waktu untuk salat, terutama salat Zuhur, dengan cara dipukul. Apabila mendengar bunyi beduk atau suara azan, buruh tani naik pematang. Itu tanda untuk makan siang bagi yang bekerja seharian. Sebaliknya, pekerja setengah hari tentunya akan pulang. Dari penjabaran tersebut, muncullah istilah puasa beduk. Puasa yang dijalani anak-anak (puasa setengah hari, hanya sampai azan zuhur) agar nantinya terbiasa untuk berpuasa satu hari penuh sampai terbenamnya matahari.

Dalam istilah kebahasaan, frasa puasa beduk bermakna gramatikal, yakni makna muncul karena proses afiksasi (pengimbuhan), reduplikasi (pengulangan kata), pemajemukan kata, dan konteks. Frasa puasa beduk dibentuk dengan cara pemajemukan kata dan hasil dari gabungan kata puasa dan beduk yang bermakna puasa setengah hari (sampai azan zuhur).

Makna gramatikal yang melalui pemajemukan itu ternyata tidak 100% dapat ditelusuri dari unsur pembentuknya. Ya, itu bisa berubah-ubah sesuai dengan konteks (berkenaan dengan situasi, bisa berupa tempat, waktu, dan lingkungan penggunaan bahasa) pemakainya. Apabila kita kaitkan dengan orang dewasa, frasa puasa beduk akan menimbulkan makna yang berbeda.

Bagi orang dewasa, puasa beduk akan bermakna puasa yang hanya dijalani di awal dan di akhir Ramadan. Hal itu disebabkan kata beduk. Beduk itu dibuat dari kulit lembu atau semacamnya yang menutup di bagian ujungnya, sementara di tengah-tengahnya kosong melompong, hanya berisi udara yang terjerembap tak pernah bisa keluar.

Ternyata tidak sampai situ saja, frasa puasa beduk memiliki makna lain, terutama di kalangan para pegawai yang bekerja. Entah Anda pernah mengalaminya atau tidak, bagi para pegawai ini, mereka tetap berpuasa selama sebulan penuh. Bedanya, ketika mereka sudah di kantor, hanya mereka beserta kawan-kawan mereka yang tahu harus ke mana untuk menyantap hidangan makan siang atau sejenisnya. Wallahualam.

Terlepas dari fenomena berubah-ubahnya makna sesuai dengan konteksnya, puasa beduk harus dihindari muslim yang sudah balig. Jangan sampai kita hanya dianggap berpuasa beduk walaupun ibadah itu urusan pribadi dengan Sang Pencipta.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More