Bunga Lima Warna

Penulis: D Inu Rahman Abadi Pada: Minggu, 20 Mei 2018, 05:20 WIB Weekend
Bunga Lima Warna

BUNGA Mangas, Kecubung, Jengger Ayam, Mawar, Matahari; bunga-bunga milik petani macam kita ini. Macam kita ini, sudah terbiasa dengan bunga-bunga itu. Dan sudah biasa bagiku, bahkan mungkin hanya bagiku, bila bunga lima warna mewakili rasa yang melilit-lilit membuat kepala, dada, juga perut menjadi sakit. Sebab pada hari yang kutentukan sendiri, menyambut malam dan memeluk kesunyian.

Dan hanya bunga-bunga itu, milikku. Apalagi selain itu? Hm, tidak ada selain itu.

***
Aku tahu perihal perempuan itu suka memetik sendiri bunga-bunga lima warna. Hanya lima warna yang diperlukannya. Dia tidak menginginkan bunga-bunga lain selain hanya bunga-bunga yang dikenal namanya itu.

Biasanya pagi hari, sebelum matahari muncul di sisi rumahnya, dia mengajakku memulai aktivitas tidak biasa itu. Tidak biasa karena bukan setiap hari. Hanya pada hari yang sudah ditentukan atau diperhitungkan sebelumnya. Begitulah, dia akan memetik satu-satu bunga. Dan aku hanya menyertainya tanpa sedikit pun bertanya, apalagi mempermasalahkan. Apa yang bisa dilakukan keranjang kecil butut sepertiku selain hanya diam dan menerima takdir yang sudah dipilihkan perempuan itu? Setidaknya tak harus menyesali, kenyataan tetaplah kenyataan. Ya, kenyataan, seperti dia kerap berujar.

"Petani macam kita ini, tidak memiliki bunga-bunga seperti yang ditanam orang-orang besar. Bunga-bunga bagus macam itu hanya memungkinkan tumbuh dalam mimpi." Kata perempuan itu, sambil tangannya memetik bunga Mangas yang bermekaran di sembarang pinggir jalan. Dia memetik yang berwarna merah muda, bukan oren. Merah muda yang pelai, pucat. Seperti wajah pada tubuh kurang darah.

Tangannya terus menyusur, cekatan memetik bunga yang mudah gugur itu. Kelopak, jika bisa dikata kelopak karena memang terlalu kecil, berhambur pasrah meruapi tubuhku dengan bau has milik seorang petani yang lelah dan menguarkan segenap campuran bau. Mata perempuan itu akan menengok untuk selanjutnya menakar, dan gegasnya menuju tempat lain untuk bunga lain.

"Dulu, aku bermimpi menanam bunga-bunga yang bagus itu. Dulu, aku kesakitan karena memimpikannya. Rupanya bermimpi saja sudah masalah. Masalah karena tidak bertanggung jawab terhadap mimpiku. Tapi memang, orang kecil sepertiku tidak punya banyak cara."

Aku mendengarkannya, hanya begitu saja. Terus mendengarkannya, meski dia tidak menyadari setiap ucapannya telah didengarku.

"Mimpi itu menyedot semangatku. Kesehatan menurun, kandunganku terganggu. Kekurangan darah, pucat, hilang semangat. Aku kehilangan janin di perut." Perempuan itu menata langkah dengan pandangan mengabur. Jelas sekali, matanya ditutupi bintik-bintik air.

Terus saja dia terbungkuk-bungkuk menyusur jalanan agak menanjak lalu sampailah di bibir hutan. Memasuki hutan dengan ingatan penuh mengenai letak rumpun bunga Kecubung. Kelopak bunga Kecubung yang bagai terompet didominasi warna ungu itu, dilihatnya agak tinggi lantaran tangkai-tangkainya meliliti pohon. Ada tangga tidak jauh di tegalan sana. Dia naik setelah menyandarkan tangga itu. Tangga rompal, dia terjatuh di sela baru saja tangannya memetik Kecubung. Tubuh merebah tanah dan aku tersungkur tertimpa pinggangnya. Bunga di tubuhku bertumpahan. Perempuan itu, mengurut tubuhku seperti tak hirau pada diri sendiri. Tangannya juga sibuk mengumpulkan bunga yang berserak.

Perempuan itu tersenyum sinis. Matanya mengerjap seperti baru saja dihinggapi debu.

"Sakit ini tak sesakit saat itu. Iya, cuma terjatuh dari tangga. Sementara waktu itu, dua gadis kembarku lelah menangis kelaparan. Tiga hari tak dapat makan. Keduanya tertidur dan tak bangun lagi. Ubi kayu hampir saja matang di tungku." Sedunya, "Sungguh, orang kecil sepertiku kerap diburu. Dulu orang-orang memburu karena kami bertahan memperjuangkan lahan. Ancaman demi ancaman bertubi. Teror mulai menyergap mata kami. Aku mencari aman di dalam hutan setelah pembunuh gelap berkeliaran di perkampungan, dan untuk sekian lamanya tidak kembali. Kemudian aku putuskan kembali dengan sisa-sisa harapan. Rupanya belum terjadi sesuatu, entah kenapa. Rumah masih teronggok, belum rata dengan tanah. Tapi, oh, gadis kembarku jauh di dalam hutan."

Aku baru tahu perihal itu. Sebelumnya, sebelum dia terjatuh ketika memetik beberapa bunga Kecubung, tetes kesedihannya tak pernah kumengerti.

Setelah bangkit dan bunga Kecubung dirasa cukup, kembali dia menata langkah menuju rumah. Rumah kecil di sebuah simpang agak keluar dari hutan yang susah payah dibangun kembali setelah jadi puing-puing. Rumah-rumah tetangga berjejal di sekitarnya, yang nasibnya sama-sama dihantui kemiskinan. Kemiskinan itu menggerogoti rumah-rumah dengan bengisnya.

Di muka pintu setelah meletakkanku di meja, dia mengawasi tiga bunga yang tumbuh di halaman.

"Nasib buruk, tidak ada yang tahu akan terjadi. Kali itu aku sedang di ladang menanam apa yang bisa ditanam. Ya, aku bersama gadis ke tigaku. Lakiku pergi entah ke mana sebelum keguguran itu. Setelahnya aku tak pernah hamil lagi." Napasnya memberat ketika dia mendekati Jengger Ayam, Mawar, Matahari. Dia juga sekilas memandangi atap. "Rumahku bergetar. Remuk diterjang angin. Gadis ke empatku yang lelap di kamar, tak sempat melarikan diri. Aku sempat mendengar jeritnya. Tidak ada yang bisa aku selamatkan. Orang-orang dengan ketakutannya masing-masing. Melihat sekian rumah remuk begitu saja." Lagi-lagi aku menyaksikan leleh air matanya.

Aku seolah bergetar merasakan kegetirannya. Dia belum juga memetik ke tiga bunga itu. Jengger Ayam, aku tahu dia membawa tunasnya dari hutan. Mawar dan Matahari didapatnya dari rumah tetangga berbeda tapi sama-sama melaratnya.

Tangan keriput itu, membelai-belai satu-satu kelopak bunga.

"Mungkin aku juga bisa seperti mereka--orang yang punya bunga bagus dalam pot dan terawat pula. Yang baunya pasti berbeda dari bunga kampung. Tapi sayang sungguh sayang." Tangan itu memetik bunga Matahari setelah barusan meletakkan Mawar dan Jengger Ayam. Tubuhku bergoyang-goyang selaras tubuh perempuan itu guncang. "Seorang lelaki dari kota mencari orang macam kami untuk kerja ke luar negri. Oh, Bunga kampungku yang mulai rekah, bertahun aku kehilangan baunya, tak terberitakan nasibnya. Yang berkembang hanya omong tetangga yang entah dapat dari siapa. Bahwa, bungaku diculik orang. Diperkosa beramai-ramai lalu dibunuh dan mayatnya dibuang tempat sampah. Oh, tidak mungkin! Itu tidak mungkin!" Tubuhnya makin guncang. Dan tak terasa, tangannya bukan hanya memetik bunga, tetapi daun-daun itu diremasnya sampai rontok. Dia belum sadar sampai sedikit reda tangisnya.

Daun-daun dikumpulkannya dengan perasaan bersalah. Setelah itu dia duduk di kursi dengan tatapan berarti pada bunga-bunga di tubuhku. Sambil bersandar, sesekali memijat pinggangnya yang ngilu akibat terjatuh itu.

Mungkin dia sudah sangat lelah dan tidak ada lagi yang mengharuskannya untuk segera dikerjakan. Mungkin dia ingin istirahat jika pada akhirnya kembali masuk kamar setelah meletakkanku di meja dekat ranjang. Mungkin dia sudah ingin hari segera pergi lalu malam menjelang. Mungkin, mungkin dan entah apa lagi. Wajahnya begitu pucat.

***
Dahulu, pada suatu siang perempuan itu pergi ke pasar. Dia menemui seseorang yang menyediakan bunga-bunga. Dia menukar beberapa kelopak Mawar dengan setandan pisang. Dan ketika hendak membawa kelopak-kelopak itu, matanya menemukanku. Lalu dia membawaku setelah berjanji menebusku jika kembali lagi. Untuk pertama kalinya tubuhku bertabur bunga dan menyertai perempuan itu mencari sisa bunga yang diinginkannya. Lambat laun aku mengerti. Ketika tangan itu mulai memetik bunga-bunga, saat itu juga dia telah memetik kesedihannya sendiri. Kesedihan yang dititipkannya padaku, sebelum kemudian dia merayakannya sendirian, dalam kesepian malam.

Pada tengah malam itu, dengan penerangan seadanya, dia akan menuang bunga-bunga pada sebuah wadah. Lantas wadah itu diletakkan di kepala. Pelan-pelan langkahnya mengitari ruang kamar. Sedikit-sedikit gurat senyum di bibirnya. Pada putaran ke sekian, wadah itu diturunkan, dibawa ke ranjang untuk kemudian dikeloninya cukup lama sambil diperdengarkannya dendang serupa tembang yang tak kutahu maknanya. Dia terus begitu sampai malam larut. Dan untuk terakhir kalinya, dia akan menjumput bunga-bunga itu. Dia mengunyah sampai halus, mengisi perut yang seharian sengaja dibiarkan kosong. Tidak akan berhenti, sebelum bunga-bunga habis dilahapnya.

***
Maka perempuan itu telah duduk di kursi kamar dengan tatap matanya terus lekat padaku. Segera saja setelah itu, tangannya memindah bunga-bunga pada wadah, meletakkan wadah di kepala, membawanya berkitar di ruang kamar, mengeloninya cukup lama di ranjang sambil mengalunkan tembang, lalu pelan-pelan mengunyah bunga-bunga itu. Tapi dia tak bernafsu menghabiskannya, bahkan sedikit sekali bunga-bunga yang berhasil melewati kerongkongannya. Wadah dan bunga-bunga itu teronggok di sisi tubuh tanpa disentuh lagi.

Selanjutnya dan selanjutnya hanya beku. Kelopak-kelopak bunga layu. Kelopak-kelopak bunga susut, kering bagai tubuh di sampingnya itu.

Karangcempaka, 2018. D Inu Rahman Abadi, pria kelahiran Sumenep 1995. Mahasiswa Stiqnis Karangcempaka, penikmat kopi, senja, dan sastra.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More