Potret Satire Hari-Hari setelah 20 Tahun Reformasi

Penulis: Fathurrozak Pada: Minggu, 20 Mei 2018, 04:40 WIB Weekend
Potret Satire Hari-Hari setelah 20 Tahun Reformasi

MI/ FATHURROZAK

SAAT membuka pintu besar gedung A Galeri Nasional di Jalan Medan Merdeka Timur Nomor 14, Jakarta Pusat, sebuah karya seni berukuran mayor dalam tiga bidang satu kesatuan akan menarik mata siapa pun yang melihatnya.

Bidang berukuran 300 cm x 600 cm yang menempel di dinding itu memperlihatkan 12 orang dari beragam usia, termasuk bocah kecil yang berada di atas perahu kayu. Mereka duduk menghadap tembok.

Perahu yang juga mengangkut kebutuhan pangan ini berlayar di antara keringnya gurun di sela-sela bebatuan dan tanaman kaktus. Dalam visual lanskap kacau itu, tampak horizon menonjolkan bentang pegunungan, dengan biru air memanggil di bawah lereng.

Karya berbahan cat dan pasta akrilik itu dibuat Justian Jafin Wibowo berjudul Society of Spectacle in the Gold Landscape yang digarapnya sepanjang 2015-2016. Cat timbul yang disapukan ke atasnya memberi kesan lukisan bak karya kolase.

Lewat karyanya, Justian tidak sekadar mengontradiksikan lanskap kegersangan dengan pegunungan nan teduh. Ia menyertakan sarkas-sarkas di beberapa sisi lukisan.

Seperti pada salah satu kibaran bendera cokelat motif merek fesyen kenamaan Louis Vuitton (LV) yang tersemat kalimat, "Kami akan damai ketika urusan perut selesai."

Justian kembali menyimbolkan 'urusan perut' ini dengan sisipan karung beras BUMN pangan Bulog yang diplesetkan menjadi Beres Bulog, disunggi seseorang di baris paling belakang di atas perahu, yang juga menyunggi batu dan setandan pisang.

Justian tampak ingin mengabarkan pada kita, betapa ketimpangan sosial masih menjadi permasalahan utama bangsa. Urusan perut bertumpuk pada kesejahteraan dan gaya hidup manusianya di era modern.

Bisa jadi, mungkin urusan perut menjadi nomor dua setelah hajat gaya hidup terpenuhi. Namun, di sisi kehidupan lain, ada kelompok masyarakat yang masih kelaparan menontoni lanskap emas kekayaan khatulistiwa.

Sindiran Justian tak berhenti di situ. Lewat kalimat "35.947 likes, 991 comments," Justian juga mengkritisi adanya kasta sosial masyarakat yang diperlihatkan dari jejeran foto-foto yang mejeng di media sosial.

Sarkasme karya yang penuh kontradiktif ini pantas menjadi jendela pertama sebelum menengok ke beberapa karya dalam Pameran Multipolar: Manifesto 2.0, yang berlangsung hingga 17 Mei lalu.

Tahun politik
Pada sudut lain, sisi kejenakaan muncul pada potret yang lekat dengan lahirnya era reformasi. Penguasa zaman Orde Baru, Soeharto, didempul mengenakan janggut tebal komplet berjambang, dan 'udengan' serban di atas kepala bak habib atau kiai.

Di tengah berseliwerannya slogan "Penak Jamanku Tho?", teriakan betapa Soeharto 'diinginkan' kembali beberapa kalangan tertentu, direspons Zico Albaiquni dan D Ahmad dengan karya berjudul Fiksi ini.

Potret Soeharto dengan tampilan nama menggunakan aksara Arab Pegon itu, dilengkapi dengan seri peta Arab 'Lapangan Istiqlal 1527 H'. Di dalamnya, nama Monas diubah menjadi Monumen Tauhid, gedung RRI bertransformasi jadi Radio Syiar Indonesia, dan gedung Mahkamah Konstitusi menjadi Mahkamah Baswedan.

Karya ini seolah juga kembali menjadi satire akan dengung 'Jakarta Syariah' beberapa waktu silam saat masa pilkada DKI, juga fungsi Monas yang kini digunakan untuk kegiatan keagamaan.

Rekaman peristiwa politik setelah dimulainya periode reformasi pada 1998 itu disikapi dengan kreatif oleh beberapa seniman, yang mengisi ruang pamer Gedung B. Salah satunya, karya milik Adel Maulana Pasha dan Lili Adi Permana.

Karya kolaboratif mereka menggunakan sejumlah video yang sengaja dipantulkan ke tembok, saling bertabrakan dan bertumpuk. Namun, sisi kreatif diselipkan bagaimana pengunjung diajak untuk berinteraksi.

Disediakan gantungan-gantungan aluminium yang telah dipasangi sensor. Sehingga ketika tangan pengunjung menggenggam beberapa tongkat pendek yang digantung itu akan muncul video tersembunyi.

Seperti menyiratkan ada berkas dari masa lalu yang hingga kini belum terungkap ke publik, dan kita diminta untuk menemukannya sendiri lewat kode dan sandi, sembari meraba pada ruang gelap.

Di ruang pamer terakhir, Gedung D muncul mural besar bernuansa merah dengan sosok karakter mata melotot dan besar sebelah. Popo, karakter buatan The Popo atau Riyan Riyadi ini menyirat singkat pesan dalam pembagian dua kalimat. "Bilik Politik" lalu dalam balon dialog "Oh.. gini toh.. kalian.." dengan wajah seperti terimpit kaca. Popo ingin menyeru, begitulah 'bilik politik' sesak penuh hingga kita terdesak.

Popo coba mengingatkan kita akan panasnya kontestasi panggung politik pemilihan presiden dan pemilihan anggota legislatif yang sebentar lagi berlangsung. Benarkah kita telah belajar pada titik balik perpolitikan bangsa atau kita sama degilnya dengan era Orba?

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More