Seni Mencari Keseimbangan

Penulis: Abdillah Marzuqi Pada: Minggu, 20 Mei 2018, 04:00 WIB Gaya Urban
Seni Mencari Keseimbangan

MI/ADAM DWI

WAJAH mereka tampak tegang. Bahkan, menarik napas pun, mereka seolah tidak berani.

Konsentrasi penuh itu dilakukan sembari menyusun vertikal batu, botol, korek api, bahkan kursi. Sepintas aksi mereka itu seperti keisengan belaka. Memang membutuhkan ketelitian dan kesabaran, tetapi mungkin banyak orang tidak menilai lebih pada kegiatan itu.

Padahal, aksi susun yang dilakukan sekelompok pria pada Rabu (16/5) di Rawa Belong, Jakarta, tersebut merupakan sebuah seni. Mereka tergabung dalam komunitas Balancing Art Indonesia (BAI).

Balancing art merupakan sebuah seni menyusun benda tanpa menggunakan media lain sebagai penyeimbang. Elemen gravitas dan fondasi ialah kekuatan seni mereka.

Februari lalu, seni ini memang sempat jadi pembicaraan dalam negeri setelah adanya batu-batu bersusun di Sungai, Cibojong, Jawa Barat. Warga sempat mengkaitkan dengan hal mistis, tetapi kemudian terungkap batu-batu itu merupakan hasil karya seorang warga yang memang memiliki hobi balancing art.

Muhammad Nurdin, salah satu anggota BAI menjelaskan jika benda yang disusun memang bisa beragam, meski batu yang paling umum. Pria yang akrab dipanggil Capoenk Sakral ini menyebut ada dua jenis utama balancing art, yakni basic balance dan fix media.

Basic balance dilakukan dengan media batu, sedangkan fix media menggunakan berbagai media yang ada di sekitar. "Jenis fix media itu memungkinkan kapan saja dan bisa bermain dengan media seadanya seperti gelas, koin, botol, ataupun kunci," ujar pria 35 tahun ini.

Perkembangan balancing art di Indonesia, menurut Nurdin, tidak lepas dari jasa Suryadi. Pria yang akrab disapa GT itulah yang mendirikan BAI dan mengenalkan seni tersebut ke berbagai daerah. "Berdiri tahun 2013, awalnya berdiri Balancing Art Indonesia itu Mas GT dari Jogja. Dia awal-awal membesarkan nama Balancing. Dia perkenalkan semua ke daerah-daerah. Disatukanlah dan terbentuklah Balancing Art Indonesia," tutur Nurdin. Hingga kini, induk dari komunitas Balancing Art Indonesia ini bermarkas di Yogyakarta.

Tantangan di luar sungai
Bermain balancing di Jakarta tentu mengundang tantangan tersendiri. Di Jakarta susah ditemui sungai berbatu. Padahal, sungai ialah medan sempurna untuk para balancer berkreasi dan bereksplorasi. Itulah sebabnya para balancer (sebutan untuk para pegiat balancing art) di Rawa Belong banyak yang menggunakan fix media.

Wahyu Pambudi, 28, misalnya, karena di Jakarta susah untuk mendapatkan sungai dan batu, ia pun masih berkutat pada teknik stacking. Balancing batu mempunyai berbagai macam teknik, yakni stacking, arch, counterbalance, rodeo, tornado, tic tac toe, combination, dan jedi, sedangkan fix media lebih mengikuti bentuk bahan.

"Saya sih kalau di rock balancing masih standar sih. Paling stacking karena selain di Jakarta susah cari sungai yang banyak batunya, jadi ya jarang main rock balancing. Lebih ke fix media-nya, kayak botol, koin," terang Wahyu yang mengaku tertarik balancing art karena tertarik dengan bentuk yang dihasilkan.

Bentuk-bentuk yang unik itu pula yang menjadi magnet bagi Rahmen Hidayat, 33, yang lebih dikenal sebagai Amink. Ia bergabung dengan BAI didorong rasa penasaran terhadap bentuk unik susunan batu dengan balancing art.

"Penasaran sama bentuk yang unik-unik itu. Bisa menarik bentuk batu. Kok bisa gini? Suka aja gitu," ujar Amink.

Wahyu dan Aming banyak bermain dengan fix media. Wahyu bermain dengan koin, sedangkan Aming dengan gelas. Keduanya punya tantangan masing-masing. Aming harus banyak merelakan gelas ketika bermain fix media. Resiko balancing art dengan barang pecah belah berisiko pecah ketika susunan itu ambruk. Ketidakseimbangan sedikit saja bisa berakibat pada runtuhnya bangun fix media.

"Banyak, puluhan malah," ujar Amink kala ditanya berapa banyak gelas yang pecah ketika balancing.

Sampai saat ini pun Amink masih merasa panik dan takut ketika berhadapan dengan gelas dalam balancing art. Meski demikian, Aming membagi sedikit pengalamannya ketika awal bermain dengan barang pecah belah. Ia menggunakan bahan yang bisa menahan benturan seperti karpet. Ia meletakkannya dibawah untuk menjaga agar gelas yang terjatuh tidak terlalu mendapat benteruan keras.

"Kita lagi awal-awalnya bawahnya kita pakai karpet, macam kambal, biar enggak pecah," terus Amink.

Sementara itu, Wahyu menganggap koin ialah bagian fix media yang paling menantang. Sebelumnya Wahyu telah mencoba bermain dengan handphone, gelas, laptop, bangku, bahkan meja. Namun, tetap saja koin punya tantangan tersendiri.

"Paling menantang koin. Selain susah ya, dia gampang goyang, kena angin sedikit jatuh. Itu saya pernah sampai 2 jam susun koin. Sudah jadi kena angin, baru berdiri sedikit jatuh," terang Wahyu.

Biarpun pilihan mereka berbeda dalam media yang digunakan dalam balancing, mereka berangkat dari hal yang sama, yakni penasaran dan ketertarikan. Selain itu, mereka juga punya tujuan yang sama, yakni mencari kepuasan ketika karya balancing mereka sudah berbentuk.

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More