Gendang Sahur Penyemarak Ramadan

Penulis: Siti Retno Wulandari Pada: Minggu, 20 Mei 2018, 02:50 WIB Weekend
Gendang Sahur Penyemarak Ramadan

Ebet

JARUM jam baru menunjukkan pukul 02.30 WIB, tapi suara nyaring tetabuhan dan senandung selawat riuh terdengar. Tak lama muncul sekelompok remaja terdiri atas delapan orang berjalan beriringan. Satu per satu wajah mereka muncul di antara pekatnya pagi.

Di tangan, mereka membawa peralatan musik ala kadar mulai panci, kaleng, hingga galon air. Dua remaja terlihat duduk di dalam gerobak sambil mengetuk-ngetuk galon dan kaleng bekas, sedangkan empat lainnya menarik gerobak tersebut sembari bersenandung selawat dan meneriakkan ajakan sahur. Dua lainnya mengiringi di belakang gerobak sembari menabuh pantat panci.

Terkadang, suara lantang kerap berpadu dengan tawa saat ada anggota yang salah membuat ketukan bunyi sehingga tidak seirama.

Setiap pagi selama Ramadan mereka berkumpul di halaman masjid pada jam yang telah disepakati dengan membawa peralatan dari rumah masing-masing. Dengan gerobak inventaris masjid mereka berkeliling kompleks membangunkan setiap orang untuk sahur.

Ada dinamika dalam tradisi tersebut, dulu peralatan yang digunakan berupa beduk yang ditaruh dalam gerobak, kemudian sempat tanpa alat tetabuhan, dan kini berganti dengan alat musik khas dapur rumah.

"Ini sangat menyenangkan. Berkumpul dengan teman sekaligus membantu mengingatkan waktu sahur," ujar Agung, salah satu remaja masjid di wilayah Kunciran, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Banten, Kamis (17/5).

Agung mengaku sudah bertahun-tahun ikut berkeliling kompleks rumahnya untuk membangunkan sahur saat Ramadan.

Apa pun alat yang ditabuh, Agung mengaku tak masalah. Terpenting kegiatan ini terus berlangsung. "Jangan putus, apalagi sampai hilang," imbuhnya.

Tradisi membangunkan warga saat sahur hampir ada di seluruh daerah, dengan beragam nama. Masyarakat Betawi di Jakarta, Depok, Tangerang, menyebutnya ngarak bedug. Sementara itu, masyarakat pantura mengenalnya dengan istilah obrog-obrog.

Alat musik yang digunakan berupa paduan, tradisional dan modern, seperti kentongan, kendang, juga rebana. Alat musik modernnya bisa berupa gitar listrik hingga penggunaan mikrofon sebagai pengeras suara.

Iringan musik tradisional sembari berselawat menjadi senandung wajib saat berkeliling membangunkan sahur, tapi kini banyak juga kelompok yang justru memutar lagu-lagu dangdut kontemporer.

Keunikan lain juga terjadi di daerah Gorontalo dengan tradisi ketuk sahur. Selain sebagai sarana membangunkan warganya untuk sahur, tradisi ini sekaligus menjadi wujud syukur karena dipertemukan kembali dengan Ramadan.

Masyarakat Gorontalo menggunakan pentungan bambu dan iringan lagu religi saat melakukan ketuk sahur, setiap hari selama Ramadan. Pada hari pertama, biasanya pawai akan diikuti banyak orang. Jumlahnya bisa mencapai ratusan.

Syiar dan solidaritas
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Fahmi Prihantoro, menyebutkan belum diketahui rujukan pasti kapan tepatnya tradisi gendang sahur muncul. Namun, hubungan yang rekat antara Indonesia dan negara-negara Timur Tengah diduga ikut membawa pengaruh pada tradisi-tradisi islam di Indonesia.

Seperti diketahui, hubungan Indonesia dan Timur Tengah melalui ulama dan haji sudah dimulai sejak abad ke-17.

"Penggunaan alat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, tetapi itu menunjukkan esensinya tetap muncul, yaitu semangat menolong dan syiar puasa meskipun dengan peralatan yang sederhana," tukas Fahmi saat saat dihubungi Media Indonesia, Kamis (17/5).

Para pelaku tradisi gendang sahur berlomba-lomba untuk tetap sejalan dengan jaman tanpa meninggalkan budayanya. Selain nilai syiar dan semangat menolong, ada nilai solidaritas dan kreatif estetika di dalamnya.

Pada akhirnya, kata Fahmi, mereka akan berlomba-lomba memberikan suguhan unik tanpa mengurangi kandungan nilai dan peruntukan dari tradisi tersebut. Fahmi pun berharap tradisi gendang sahur tidak akan tergerus dengan perkembangan teknologi agar selalu ada penurunan nilai-nilai baik kepada anak cucu.

Terkait dengan panduan bebunyian yang tidak mengganggu, umumnya masyarakat sudah terbiasa hidup bertoleransi sehingga tidak akan menimbulkan kegaduhan yang berlebih.

"Tradisi ini harus dilestarikan karena memiliki nilai-nilai yang baik. Saya pikir semua masyarakat pasti terbantu dan senang. Umumnya semua masyarakat maklum dan terbantu dengan tradisi membangunkan sahur, mungkin hanya sedikit yang menimbulkan gangguan," pungkas pengajar mata kuliah arkeologi Islam Indonesia itu.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More