Melancong Rasa di Kota Daeng

Penulis: Fathurrozak Pada: Sabtu, 19 Mei 2018, 23:00 WIB Kuliner
Melancong Rasa di Kota Daeng

IKAN-IKAN kering berukuran lebar, arang terbungkus plastik saling bergelantungan, dan tumpukan pecahan batok kelapa menjadi penghias setiap deret pelataran rumah. Mata kemudian melirik pada seorang yang sedang mengipasi lalu sesekali membalik beberapa potong ikan.

Cuaca terik dan udara laut sore segera menusuk hidung. Tidak jauh dari rumah makan yang menjadi persinggahan pertama, terdapat tempat pelelangan ikan, berada di Pelabuhan Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan. Paotere pun dicatut sebagai nama rumah makan ini.

Rumah makan Paotere ini menjadi awal Jelajah Warisan Nusantara Bango. Di restoran ini terkenal dengan hidangan ikan. Kami berkesempatan mencicipi ikan sunu atau yang dikenal sebagai ikan kerapu dan ikan cepa. Kedua ikan itu diolah dengan cara dibakar dengan tiga jenis bumbu, yakni parape, rica, dan polos.

Bagi penikmat pedas, tentunya bumbu rica patut dipilih, sedangkan yang tidak menyukai pedas bisa memilih parape yang tidak menyertai cabai. Sebaliknya parape ini menggunakan kecap manis.

Sementara itu, ikan bakar ala polos tetap lezat meski tidak ada bumbu. Pasalnya, ikan yang dipilih masih segar dan terasa manis. Biar tidak terlalu gosong, ikan dibakar berbalut daun pisang.

Berbicara kuliner Kota Angin Mamiri ini tidak lengkap tanpa asam. Tak mengherankan jeruk nipis atau raca mangga (acar mangga) wajib ada di meja makan. Tak terkecuali di rumah makan di Jalan Sabutung Paotere, 46 ini. Ikan segar berpadu dengan racikan bumbu akan lebih 'nendang' saat mulut mengunyahnya bersamaa raca mangga.

Rumah makan Paotere ini menjadi rumah makan pertama di kawasan pelabuhan ini. Pasalnya kawasan di sekitar pelabuhan Paotere ini tidak ada rumah makan. Keseharian kawasan in untuk aktivitas jual beli ikan. Ikan itu pun dibakar secara personal bagi setiap warga. Menurut pakar kuliner Arie Parikesit, disinyalir mulai muncul rumah makan di kawasan ini pada medio 1970-1980-an. Saat Makassar menjadi titik temu Indonesia bagian Timur.

Inovasi
Bergeser ke tempat lain, kali ini rombongan jelajah mencicipi racikan boga bahari tradisional ala warga pesisir di Rumah Makan Apong. Di restoran ini seafood diolah dengan cara yang sudah dimodifikasi.

Salah satu yang mencuri perhatian ialah ikan kudu-kudu goreng tepung. Ikan berbentuk kotak dan memiliki sisik seperti ular ini, dagingnya digoreng tepung, dan disajikan di antara kulitnya yang dibelah dua. Tekstur daging empuk, pas disantap bersama raca mangga. Saya juga mencoba untuk menyantap kulit ikan, yang bertesktur keras, hampir mirip keripik bila sedikit lebih renyah.

Baik Rumah Makan Paotere mau pun Apong, juga sama-sama menghidangkan telur ikan. Di Paotere, telur ikan digoreng tepung seperti bagaimana daging Kudu-Kudu disajikan di Apong. Sementara itu, Apong justru menyajikan telur ikan ala kadarnya, hanya ditambah mentimun.

Dari cara saji berbeda ini, tentu timbul perbedaan rasa juga. Saat telur ikan digoreng tepung, saya justru menemukan rasa mirip nasi jagung. Sementara itu, saat disajikan tanpa digoreng, telur ikan terasa lebih mirip ke buah beri-berian, dengan tekstur kenyalnya.

Manis
Di hari berbeda, jelajah kuliner Makassar dibuka dengan sajian songkolo dari Warung Alhamdulillah Songkolo Begadang yang ikut dalam Festival Jajanan Bango Makassar 2018. Songkolo memadukan ketan hitam dengan taburan serundeng bertekstur agak basah, dilengkapi dengan ikan teri, telur asin, dan sambal.

Gurih ketan dan serundengnya mengingatkan saya akan jajanan kue bulat asal Jawa, onde-onde. Namun, menjadi berbeda saat disantap dengan ikan teri dan telur asin. Selain menggunakan ikan teri, penggunaan ikan sunu yang dipotong kecil-kecil juga menjadi alternatif. Namun, masyarakat Makassar lebih menggemari dengan ikan teri sehingga yang sering dijumpai diberbagai hidangan.

Jelajah kuliner-kuliner legendari di Makassar tidak semata soal rasa, tapi juga sejarahnya, seperti masyarakat Makassar tidak hanya menyukai rasa asam, tapi juga manis. Salah satu tempat legendaris yang sering dikunjungi ialah Mama Toko Kue.

Di kedai yang terletak di Jalan Seruni nomor 15, Makassar, kita bisa menikmati berbagai varian kue-kue tradisional Bugis, termasuk yang dihidangkan saat perayaan adat. Ada beberapa kue dengan bahan durian, seperti duri-duriang, sejenis nastar tetapi isinya ialah durian. Ada juga adonan pembungkus luarnya dibentuk menyerupai kulit durian. Sementar itu, Bayao Nibalu, mengandalkan paduan telur dengan durian. Bentuknya hampir mirip seperti dadar gulung, tetapi berwarna kuning, dan di dalamnya ada isian durian.

Kue yang berbahan dasar pisang ada barongko. Pisang dihaluskan lalu dikukus menggunakan daun. Rasanya manis, saya lebih suka menyantapnya bila didinginkan ketimbang hangat. Barongko mungkin bila di Jawa ialah seperti nagasari, hanya saja barongko tidak menjadikan pisang sebagai isian, tetapi sudah dicampur bersama adonan. Selain barongko, ada sanggara balanda, pisang goreng tanpa tepung, dibelek bagian tengahnya, lalu diisi selai kacang.

Menurut Arie Parikesit, faktor penyebab mengapa muncul kue-kue tradisional dengan cita rasa manis bisa dikaitkan dengan kehadiran kesultanan di wilayah ini pada masa lalu.

"Adanya kue-kue manis dalam kuliner ini bisa dihubungkan dengan adanya sejarah kerajaan atau keraton, seperti Jawa, Minang, Banjar, dan Sulsel. Ini juga melihat lagi, dulunya bahan baku pembuatan kue-kue manis ini cuma kaum ningrat yang mampu buat, misal gula, telur, atau durian," terang Arie saat ditanya di tengah jelajah kuliner di Makassar, Sabtu, (5/5).

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More