Muhammad Sirajuddin dan Arifuddin Lako Jalan Pulang Mantan Napiter

Penulis: Siti Retno Wulandari Pada: Sabtu, 19 Mei 2018, 04:00 WIB KICK ANDY
Muhammad Sirajuddin dan Arifuddin Lako Jalan Pulang Mantan Napiter

MI/SUMARYANTO BRONTO

DENDAM kehilangan saudaranya saat kerusuhan di Poso 1998 tersemat lama di hati Arifuddin Lako. Ia bersama keluarga yang selamat akhirnya mengungsi, dan muncul niat untuk bergabung dengan laskar jihad. Berbagai pelatihan didapat, mulai dari paramiliter, merakit bom, hingga menyusun taktik dan strategi perang.

Ketika itu, pria yang karib disapa Iin belum tahu jika dirinya masuk dalam kelompok teroris. Baru pada 2002, Iin mendapati kabar guru yang pernah mengajarnya di Poso ditangkap karena ada dugaan terlibat dalam jaringan Jemaah Islamiyah.

Pada 2004, Iin tertangkap dan dijatuhi hukuman delapan tahun, enam bulan. Akan tetapi, Iin mendapatkan keringanan dan dibebaskan saat baru menjalani enam tahun, empat bulan, karena berlaku baik selama dalam hotel prodeo. Selama mendekam dalam tahanan, Iin mulai tersadar apa yang dilakukan selama ini bukanlah jalan baik menuju surga. Ingatannya lantas menuju sang ibu yang kemudian diyakini sebagai pintu surga.

"Penerimaan masyarakat, adanya perhatian pemerintah sejak kami dalam tahanan itu menjadi faktor penting perubahan pada diri seorang napi teroris. Tidak semua pelaku teroris itu datang karena ideologi, tetapi banyak faktor lain salah satunya dendam," kata Arifuddin.

Pascakeluar tahanan, Iin sempat melamar pekerjaan ke semua toko. Sayangnya semuanya menolak karena ia mantan narapidana teroris (napiter)

Tidak ingin berlarut-larut akan dendamnya dan menghilangan ketakutan serta stigma akan teroris, Iin bersama teman-temannya mendirikan Rumah Kita Satu (kartu). Di rumah itu ia mencoba memulihkan nama daerahnya, Poso, agar tak lagi lekat dengan kekerasan juga teroris.

Ia pun mengutip surah Al-Hujurat ayat 13 dalam Alquran, tentang asal muasal manusia dan memang diciptakan berbangsa-bangsa juga bersuku-suku untuk saling mengenal, sehingga tidak ada alasan untuk saling bertengkar bahkan membuat seragam.

Film Jalan Pulang
Selain mengabdikan diri untuk menciptakan perdamaian di daerah Poso dan sekitarnya, Iin juga membuat film pendek berdurasi 45 menit berjudul Jalan Pulang. Film yang mengisahkan tentang pengalaman sebagai mantan napi teroris ditujukan agar masyarakat bisa menerima kembali keberadaan mereka. Iin berpesan jangan hanya ingat di Poso, masih terdapat tujuh orang teroris dalam daftar pencarian orang (DPO), tetapi ada lebih dari 40 orang mantan napiter yang bisa diterima baik dan bekerja sama membangun bangsa.

Sementara Muhammad Sirajuddin, pemeran Iin dalam film pendek Jalan Pulang mengaku dulu sempat hilang kontak dengan Iin. Sempat bertemu, tetapi kala itu Iin sudah sangat berbeda karena sudah bergabung dengan laskar jihad. Sembari berkelakar, Iin mengaku meminang pria yang karib disapa Ahmad sebagai aktor lantaran tak sanggup membayar aktor kawakan Tora Sudiro.

"Dulu saat bertemu, Iin berubah tak mau menegur saya lagi. Usai kerusuhan di universitas, muslim dan nasrani dipisah, muslim di Poso dan nasrani di Tentena. Namun, semakin lama terkotak-kotak akan bahaya kita, kalah menang itu sama-sama jadi arang," tukas Ahmad yang dengan keberaniannya menyatukan kembali perdamaian antarumat di kampus.

Semua terlahir dari rahim, dari nenek moyang yang sama. Allah pun yang menjadikan kita beragam, maka hendaknya diperkuat dengan perdamaian. Begitu pesan dari Arifuddin Lako.

(M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More