Media di Antara Kepungan Perang Virtual dan Reproduksi Kekerasan

Penulis: Fajar Kurniawan Jurnalis Pada: Sabtu, 19 Mei 2018, 03:00 WIB Opini
Media di Antara Kepungan Perang Virtual dan Reproduksi Kekerasan

thinkstock

LEDAKAN bom yang mengguncang tiga gereja dan Poltabes Surabaya serta penyerangan Polda Riau sontak membuat geger dunia maya. Kecepatan informasi yang tak terbendung sontak membuat reaksi yang beragam dalam dunia nyata. Media merupakan refleksi dari fakta sosial yang berisi wacana masyarakat (public discourse). Dialektik antara dunia maya dan nyata terus berlangsung dan mencapai sumbunya pada era digital.

Castells (2000) menyebutnya sebagai key feature of social morphology. Teknologi internet memungkinkan pengoperasian lokal sesuai dengan kehendak pribadi atau kelompok sehingga mampu meningkatkan efektivitas jaringan terhadap struktur hierarkis korporasi media. Konsekuensinya ialah terdapat ragam wacana berita terorisme yang simpamg siur.

Spontanitas informasi vs logika struktur media
Jaringan informasi memungkinkan pola komunikasi yang berjalan secara egaliter. Komunikasi seperti ini memberikan sebuah pola komunikasi yang menyebar ke berbagai arah melampaui sekat-sekat struktur yang ada pada lapisan sosial masyarakat.
Spontanitas dan banalitas di lapangan sering kali tanpa kontrol dan sensor media. Apa yang tersajikan baik berupa foto dan video terduga teroris yang ditembak aparat hingga darah korban keluar masuk ke jejaring pertemanan. Di sinilah justru reproduksi kekerasan yang nyata tanpa saringan terjadi.

Tentu saja hal itu berbeda dengan peliputan  media mainstream seperti TV One, Metro TV, I-News, Kompas TV, Detik.com, dan Viva.co.id yang menayangkan berita mengenai teroris yang relatif  proporsional dan elegan.
Beberapa kali siaran langsung dan liputan menyensor hal yang tak pantas untuk dilihat tanpa mengurangi sebuah esensi berita. Upaya sensor dan pengambilan setting lokasi ini ialah upaya untuk meminimalkan reproduksi kekerasan di dunia maya yang kian jauh dari etika dan moral.

Perang melawan hoaks dan terorisme
Beredarnya beberapa video teroris dan informasi yang ada justru dikomentari secara liar dan banal tanpa ada ujungnya. Media resmi seperti TV One, I-News, Metro TV, Kompas TV, Viva.co.id, dan Detik.com sekali lagi masih dibutuhkan dan menjadi penting untuk meluruskan berita dan informasi agar tidak terlalu melebar dan menggelinding ke mana-mana tanpa arah yang jelas.

Pemberitaan dan peliputan mengenai aksi teorisme tidak selalu menjadi hal yang buruk selama berpatokan pada platform yang jelas. Hal itu diperlukan bahwa aksi teror itu ialah nyata dan bukan sekadar pemberitaan yang dilebih-lebihkan (Selu Margaretha, 2006).
Hoaks dan pemberitaan teroris yang simpang siur, menurut Peter L Berger (2000), bisa membuat konstruksi sosial atas realitas yang ada. Dengan kata lain, informasi yang tidak jelas yang direproduksi dan disebarluaskan masyarakat menciptakan realitas sosial subjektif yang belum tentu sesuai dengan realitas yang sebenarnya.

Dengan melihat berbagai kejadian teror yang ada di Indonesia, sulit untuk menolak bahwa sudah semakin melekat antara masyarakat dan media. Meskipun berkali-kali mendapatkan informasi dari grup pertemanan Whatsapp, beberapa kali juga muncul link dari berbagai informasi media yang bisa ditebak bukanlah produk jurnalistik.

Simbiosis antara teroris dan media mungkin masih bisa diterima dalam kadar tertentu karena jaringan teroris pasti akan puas melihat penderitaan orang lain atas aksi mereka. Namun, media juga memiliki cara kerja sendiri yang tidak sepenuhnya dimanfaatkan kelompok teroris. Dengan pemberitaan yang ada, masyarakat akan cepat mengerti titik-titik mana yang berbahaya dan dianggap rawan sehingga menjadikan masyarakat lebih waspada.

Trajektori media di masa depan
Media televisi seperti TV One, Metro TV, I-News, dan Kompas TV tentu memiliki trajektori (arah yang sistematis) dan analisis berita digital yang tepat di masa depan. Pemberitaan mengenai terorisme akan selalu mewarnai pemberitaan di media digital di masa yang akan datang.  

Meskipun demikian, terdapat beberapa kalangan yang ingin menghentikan pemberitaan mengenai aksi teroris. Hal itu tentu tidak efektif karena selama ada ketidakadilan dan belum terwujudnya kesejahteraan masyarakat, teroris akan selalu ada dalam berbagai wujud dan bentuk.  

Media seharusnya mampu memberikan informasi sehingga mampu memberikan gambaran dan realitas sosial objektif. Pada saat berita hoaks dengan cepat menyebar di linimasa media sosial, media seharusnya mampu dijadikan rujukan untuk memvaliditas data dan informasi yang ada.

Akhirnya waktu jugalah yang akan menguji sejauh mana masyarakat akan percaya pada media. Selama masyarakat masih mengakses, berarti sejauh itu juga masyarakat masih percaya pada media.  Semakin beragam lintas diferensiasi dan stratifikasi sosial masyarakat yang mengakses media, semakin tepercaya dan semakin berkualitas media tersebut. Ke depan masyarakat akan semakin rasional dengan melihat fakta objektif di antara belantara informasi yang ada.

 


 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More