Angka Konsumsi Rokok di Babel Tertinggi di Indonesia

Penulis: Rendy Ferdiansyah Pada: Jumat, 18 Mei 2018, 10:49 WIB Humaniora
Angka Konsumsi Rokok di Babel Tertinggi di Indonesia

MI/Grafik Terbit

BERDASARKAN data hasil riset kesehatan dasar (riskesdas)  2013, angka konsumsi rokok di Provinsi Bangka Belitung (Babel) merupakan  tertinggi di Indonesia yakni mencapai 18,3 batang perhari. Dengan  persentase perokok pria mencapai 40%.

Kepala subdirektorat penyakit paru kronis dan gangguan himenologi Kemenkes Theresia Chandra mengatakan di Indonesia berdasarkan data 2013, jumlah perokok hasil angka privalansi 37%.

"Di Indonesia ini ada 37% perokok, 67% di antaranya adalah  perokok laki-laki, sedangkan untuk perokok perempuan tidak ada  data," kata Theresia usai menghadiri acara Hari Hipertensi dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Hotel Bangka City.

Dari 37% perokok tersebut, lanjutnya, di Provinsi Bangka Belitung angka pengkonsumsi rokok mencapai hampir 40% atau sekitar 18,3 batang dalam sehari. Angka itu sekaligus menempatkan Babel di peringkat tertinggi di Indonesia.

"Setiap hari perokok di Babel ini menghabiskan 18,3 batang rokok. Jumlah ini luar biasa dan menjadi yang tertinggi di Indonesia," ujarnya.

"Untuk menekan angka prevalansi rokok itu. Pemprov Babel diharapkan  memperbanyak Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Bila perlu, seperti di daerah luar, perangkat desanya melarang merokok di dalam ruangan. Bagi yang ingin  merokok di sediakan tempat khusus di luar rumah

Sekda Pemprov Babel Yan Megawandi mengakui dari data Riskesdas itu Babel memegang dua hasil negatif, yakni penderita hipertensi tertinggi dan perokok tertinggi.

"Kita evaluasi, apakah kebijakan menurunkan penderita penyakit tidak  menular dengan melakukan kebijakan memperkuat KTR di Babel, terus diskusi, nanti akan sempurnakan strategi untuk makin memperkuat kawasan tanpa rokok, kita ingin mewariskan lingkungan jauh lebih baik," kata Yan.

Pajak rokok kan diatur di pusat, sambungnya, Babel hanya mendapatkan bagi  hasil saja dan ini menurutnya harus dipertimbangkan secara komprehensif.

"Kalau dari sisi pendapatan dapat satu sementara yang keluar dua, meski pajak rokok menyumbang pendapatan tetapi kalau yang sakit lebih banyak ya jadi bahan pemikiran," imbuhnya.

Sementara.itu. Kadinkes Babel Mulyono Susanto menambahkan, tahun ini akan ada riset kesehatan dasar lagi yang dilakukan dan datanya akan diperoleh pada 2019. Ia berharap angka ini bisa menurun.

"Salah satu upaya kita melakukan sosialiasi dan pencegahan merokok menerapkan kawasan tanpa rokok (KTR) dan kampanye tanpa rokok," ujarnya.

Adanya iklan di kotak rokok, menurutnya, juga menjadi upaya menurunkan perokok, karena setidaknya dengan melibat gambar bisa membuat perokok menjadi menguranginya. (OL-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More