Mainan Zadul

Penulis: Ronald Surapradja Pada: Jumat, 18 Mei 2018, 08:23 WIB celoteh
Mainan Zadul

MI/Rommy Pujianto
Ronald Surapradja

SUATU Minggu sore kami sekeluarga berbelanja di supermarket. Saat menuju kasir, perhatian saya tertarik oleh sebuah rak yang berisi makanan dan mainan tradisional. Istri saya langsung berbinar matanya melihat permen karet masa kecilnya yang berhadiah sepeda jika bisa mengumpulkan huruf merek si permen karet itu. Namun, sayang pasti ada satu huruf yang susah dicari. Zaman sekarang sih enak. Kalau mau sepeda tinggal menyebutkan nama-nama ikan hehe.

Dua anak saya dapat mainan kapal. Sesampainya di rumah, kedua anak saya langsung heboh mencari baskom dan mengisinya dengan air. Mereka ingin secepatnya melihat kapal perang yang terbuat dari seng berputar sambil mengeluarkan suara klotok-klotok dan mengeluarkan asap yang terkesan sedang menembakkan amunisi padahal itu asap dari kapas yang dibakar di dalamnya. Mainan dan cara kerjanya memang sederhana, tapi berhasil membuat dua anak saya jongkok dan memandangi kapal yang berputar-putar itu selama hampir 30 menit. Saya tersenyum dan yakin ini senyum yang sama saat orangtua saya melihat saya melakukan hal serupa berpuluh-puluh tahun lalu.

Mainan atau permainan masa kecil memang akan selalu menjadi kenangan indah. Pegalnya punggung ketika harus menggendong teman saat kalah dalam permainan gatrik, bangga karena mampu mengumpulkan berkaleng-kaleng kelereng atau gambar dari hasil adu bukan karena membelinya di pasar, merasa kaya saat memiliki banyak rumah dan hotel saat bermain monopoli atau tertawa terbahak saat teman main kita bertemu ular saat main ular tangga.

Karenanya, saya dan istri berusaha memperkenalkan mainan dan permainan masa kecil kepada anak-anak kami. Saya yakin ada nilai kebaikan di dalamnya meski hanya berbentuk ‘mainan’, dan tanpa sadar akan diserap mereka.

Keseimbangan
Ada filosofi sederhana tapi penuh makna dalam permainan congklak.  Ada 7 lubang dan masing-masing berisi 7 biji. Angka 7 ialah jumlah hari dalam satu minggu. Artinya tiap orang mempunyai jatah waktu yang sama dalam seminggu. Ketika biji diambil dari satu lubang, ia mengisi lubang yang lain termasuk lubang induknya. Saya kira filosofinya dari tiap hari yang kita jalani akan memengaruhi hari-hari kita selanjutnya, dan juga hari-hari orang lain.

Biji diambil, kemudian diambil lagi ini berarti bahwa hidup harus seimbang, memberi dan menerima. Kita tidak bisa mengambil terus kalau tidak memberi. Biji diambil satu per satu, tidak boleh semua sekaligus yang artinya sedikit asalkan jujur lebih baik daripada banyak tapi tidak jujur.

Satu per satu biji yang diisi juga bermakna kita harus rajin menabung setiap hari untuk hari-hari berikutnya agar kita mempunyai ‘tabungan/simpanan’, yaitu biji yang berada di lubang induk. Permainan ini membutuhkan strategi agar biji kita tidak habis diambil lawan, artinya hidup persaingan, tapi tidak berarti kita harus bermusuhan.  Setiap orang juga punya tujuan dan kepentingan yang (mungkin) sama dengan kita, jadinya kita harus cerdik dan ber-strategi. Pemenang ialah yang jumlah biji di lubang induk paling banyak, yang berarti pemenang ialah mereka yang paling banyak amal kebaikannya.

Menunggu waktu berbuka ialah tantangan buat puasa si kecil. Yuk dicoba televisi dimatikan dan gadget disembunyikan. Lalu ajak mereka bermain permainan saat kita kecil dulu. (H-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More