Toleransi ala Masjid Menara Kudus

Penulis: Akhmad Safuan Pada: Jumat, 18 Mei 2018, 08:21 WIB Islam Nusantara
Toleransi ala Masjid Menara Kudus

ANTARA/Yusuf Nugroho
Masyarakat melintas di kawasan wisata Masjid Menara Kudus di Kudus, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

MASJID Menara Kudus bukanlah sekadar masjid tempat beribadah kaum muslim. Masjid yang didirikan Sunan Kudus itu menjadi saksi penyebaran agama yang dilakukan tanpa pemaksaan dan kekerasan.

Demikian ditegaskan Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama Kudus, KH M Ikhsan. Ia menuturkan, masjid yang terletak di Kudus, Jawa Tengah, itu dibangun Sunan Kudus pada 1549. Saat itu, meski kerajaan Hindu-Jawa telah runtuh, mayoritas masyarakatnya tetap memegang teguh ajaran Hindu. Sebagian lagi menganut agama Buddha, Samin, dan kejawen.

Sunan Kudus yang saat itu menjadi pendakwah menyebarkan agama Islam dengan mengikuti gurunya, Sunan Kalijaga, yang sangat menjunjung tinggi toleransi, adat dan budaya yang berkembang di daerah setempat, serta mengutamakan kearifan lokal.

Karena itu, pembangunan Masjid Menara Kudus pun dilakukan dengan prinsip-prinsip penghormatan terhadap keyakinan dan budaya masyarakat setempat. Hal itu bisa dilihat dari bentuk menara masjid tidak selayaknya arsitektur masjid di Timur Tengah. Menara setinggi 18 meter dengan luas bangunan dasar 10x10 meter itu justru lebih mirip dengan bangunan candi Hindu atau pura di Bali.

“Menara yang ini difungsikan sebagai tempat mengumandangkan azan dan memukul beduk setiap datangnya waktu salat,” kata Ikhsan saat ditemui Media Indonesia di Kudus, Rabu (16/5).

Selain itu, akulturasi dan penghargaan terhadap budaya setempat juga diwujudkan arsitektur pancuran yang berjumlah delapan, mengadopsi dari ajaran Buddha yakni Asta Sanghika Marga atau Delapan Jalan Utama yang menjadi pegangan masyarakat saat itu. Pancuran yang difungsikan sebagai tempat berwudu itu dihiasi dengan relief arca sebagai ornamen penunjang estetika.

Tidak sembelih sapi
Toleransi juga diimplementasikan Sunan Kudus pada perilaku sehari-hari. Contohnya, masyarakat Kudus yang saat itu mayoritas pemeluk agama Hindu melarang menyembelih sapi. Hewan itu sangat disakralkan umat Hindu. Sapi menjadi lambang ibu pertiwi yang memberikan kesejahteraan kepada semua makhluk.

“Sebagai bentuk rasa hormat dan toleransinya kepada warga Hindu, Sunan Kudus pun melarang para pengikutnya menyembelih sapi.”

Langkah Sunan Kudus tersebut mengundang simpati masyarakat sehingga mereka berduyun-duyun mendatangi Sunan Kudus untuk bertanya banyak hal tentang ajaran yang dibawanya. Berangsur-angsur, mereka pun berhijrah ke agama baru tanpa paksaan.

“Langkah Sunan Kudus ini sangat luar biasa. Bahkan hingga sekarang warga Kudus tidak menyembelih sapi, sebagai gantinya mereka menyembelih kerbau. Jadi, di Kudus adanya soto kerbau, bukan soto sapi,” imbuh Ikhsan. (H-2)

 

Terkini Ramadan

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Selasa, 22 Mei 2018 / 6 Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : 4:25 WIB
Subuh : 4:35 WIB
Terbit : 5:53 WIB
Dhuha : 6:17 WIB
Dzuhur : 11:52 WIB
Ashar : 15:14 WIB
Maghrib : 17:46 WIB
Isya : 18:59 WIB


Read More