Meraih Ketenangan Batin

Penulis: Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta Pada: Jumat, 18 Mei 2018, 07:20 WIB Renungan Ramadan
Meraih Ketenangan Batin

MI/ROMMY PUJIANTO

KENYAMANAN bisa dibeli di hotel berbintang, kelezatan bisa dibeli di restoran mewah, dan keindahan bisa disaksikan di objek-objek wisata. Akan tetapi, ketenangan tidak bisa dibeli dengan uang. Uang, kekayaan, dan jabatan belum tentu menghadirkan ketenangan.

Ketenangan bukan hanya miliknya orang kaya atau pe jabat. Ketenangan juga bisa dirasakan orang-orang miskin. Ketenangan lebih merupakan akibat daripada sebab.

Ketenangan adalah pemberian (given/kasab) dari Tuhan. Ketenangan menyangkut urus-an jiwa (state of mind). Hanya orang-orang yang berani melawan dirinya sendiri yang mampu merasakan ketenangan.

Kekhusyukan Ramadan ialah menyuguhkan berbagai latihan spiritual (spiritual training/mujahadah).

Di antara latihan spiritual itu ialah berpuasa atau menahan diri tidak makan, minum, berhubungan seks, dan perbuatan-perbuatan yang berselera rendah lainnya.

Puasa mendidik jiwa untuk merasakan ketenangan batin dan kebahagiaan rohani. Orang-orang arif sering mengatakan puncak kebahagiaan ialah ketenangan batin.

Nabi Muhammad SAW juga pernah mengatakan, "Al-gina ginan nafs (kekayaan sesungguhnya ialah kekayaan batin)." Tanpa kekayaan dan kebahagiaan batin, sesungguhnya hanya kekayaan dan kebahagiaan semu.

Dengan demikian, kita tidak bisa memandang enteng orang miskin harta atau materi sebab tidak sedikit di antara mereka yang menemukan kebahagiaan batin.

Sebaliknya, kita juga tidak bisa takjub kepada para pemilik kekayaan materi sebab itu belum tentu mereka bahagia dan tenang.

Manusiawi memang jika orang-orang menghendaki kedua-duanya karena kita juga diajari doa oleh Allah SWT, 'Rabbana atina fiduunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa quna'adzabannar' (Ya Allah anugerahkanlah kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari api neraka).

Manusia ideal menghendaki kebahagiaan dunia akhirat.

Sesungguhnya Islam tidak melarang orang mengumpulkan kekayaan materi. Bahkan, Islam mengharuskan orang untuk bekerja produktif, tetapi tetap efisien dan efektif.

"Dunia adalah cermin akhirat," demikian kata Nabi.

Sulit membayangkan akhirat yang baik tanpa dunia yang sukses. Ibadah mahdhah seperti salat, zakat, haji, bahkan puasa pun membutuhkan cost. Semuanya perlu biaya dan biaya itu urusan dunia.

Kiat untuk mencapai dan mempertahankan kondisi kebahagiaan batin, menurut para arifin, ialah menggabungkan antara optimisme dan semangat juang (al-raja' wa al-mujahadah) di dalam diri.

Idealnya setiap orang perlu sesekali mengecoh kehidupan dunianya dengan melakukan khalwat atau takhannus seperti yang pernah dilakukan Nabi di Gua Hira. Ketika ia sedang hidup berkecukupan di samping istrinya, Khadijah, yang kaya dan bangsawan.

Untuk kehidupan kita sekarang ini, mungkin tidak perlu mencari gua yang terpencil atau jauh-jauh meninggalkan kediaman dan keluarga. Yang paling penting ada suasana uzlah (pemisahan diri) sementara dari hiruk pikuknya pikiran ke sebuah tempat yang sejuk dan nyaman. Bisa saja dengan melakukan iktikaf di salah satu masjid, misalnya yang sering dilakukan di dalam bulan suci Ramadan.

Di dalam masjid kita berniat untuk beriktikaf karena Allah. Di sanalah kita mengecoh pikiran dan tradisi kesehari-an kita dengan membaca Al'Quran lebih banyak, salat, tafakur dan berzikir. Niatkan bahwa masjid ini adalah Gua Hira atau Gua Kahfi, yang pernah mengorbitkan kekasih-kekasih Tuhan, Nabi Muhammad dan Nabi Ashhabul Kahfi, melejit ke atas dan mendapatkan pencerahan.

Jika suasana batin dibiarkan berlalu menghabisi dan menyita sepanjang hidup kita, tanpa pernah diselingi dengan rasa fakir (miskin di mata Tuhan), apa lagi karena deposito dan kekayaan yang begitu melimpah sampai bisa diwarisi tujuh generasi, dikhawatirkan akan melahirkan generasi lemah (daif) di mata Allah. Bahkan tidak mustahil akan membebani kita di akhirat kelak.

Kita perlu mengingat bahwa jika kehidupan di akhirat seta-ra dengan 1.000 tahunnya unia, kalau ada orang dikarunia usia 70 tahun, maka itu artinya sekitar 3 menitnya akhirat. Maukah kita menukar hanya tiga menit dengan keabadian akhirat, masya Allah.

Sesungguhnya milik kita di akhirat hanya yang pernah dibelanjakan di jalan Allah. Selebihnya berpotensi menyusahkan kehidupan jangka panjang kita di alam barzah dan di alam baqa di akhirat.

Bersihkanlah harta kita dengan zakat dan sedekah, luruskanlah pikiran kita dengan zikrullah, dan lembutkanlah jiwa kita tafakur dan tadzakkur, tangguhkanlah pendirian kita di atas rel shirathal mustaqim. Dengan demikian, semoga kita mendapatkan seruan Ilahi, La tahdzan innallaha ma'ana (Jangan khawatir, Allah bersama kita). Allahu a'lam.

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 18 Agu 2018 / Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dhuha : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK

Read More