Koopsusgab Jangan Jadi Teror Baru bagi Warga Negara

Penulis: Rudy Polycarpus Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 21:00 WIB Politik dan Hukum
Koopsusgab Jangan Jadi Teror Baru bagi Warga Negara

Ist

RENCANA pemerintah mengaktifkan kembali Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopsusgab) TNI didukung sepanjang masih dalam koridor Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, khususnya pasal 7.

Regulasi tersebut mengatur operasi militer, selain perang dengan memperhatikan obyek vital, skala ancaman, dan waktu.

Dengan demikian, kata Ketua Setara Institute Hendardi, pelibatan TNI bersifat sementara dan merupakan upaya terakhir (last resort) dalam skema perbantuan terhadap kepolisian.

"Koopsusgab mesti digunakan untuk membantu dan di bawah koordinasi Polri serta ada pembatasan waktu yang jelas kapan mulai dan kapan berakhir, sebagaimana satuan-satuan tugas yang dibuat oleh negara," ujarnya melalui pesan singkat, Kamis (17/5).

Koopssusgab merupakan gabungan pasukan khusus antiteror dari tiga matra TNI, yakni Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.

Ia menambahkan, peran satuan ini pun harus jelas pembatasan waktu dan satuan tugas yang diembannya. Sebab, tanpa pembatasan, apalagi di luar kerangka sistem peradilan pidana, Koopsusgab dikhawatirkan menjadi teror baru bagi warga negara.

"Pendekatan nonjudicial dalam menangani terorisme hanya akan menimbulkan represi massal. Jokowi lebih baik memastikan penyelesaian pembahasan revisi RUU Antiterorisme. Karena dalam RUU itulah jalan demokratis dan ramah HAM disediakan melalui kewenangan-kewenangan baru polri yang diperluas, tetapi tetap dalam kerangka hukum," pungkasnya. (x-12)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More