Korut: Jika AS Menyudutkan, Kami Tak Tertarik Lagi Berdialog

Penulis: Denny Parsaulian Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 18:00 WIB Internasional
Korut: Jika AS Menyudutkan, Kami Tak Tertarik Lagi Berdialog

AFP
Pemimpin Korut Kim Jong-Un (kiri), Presiden AS Donald Trump (kanan)

KOREA Utara mengancam menarik diri dari pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump akibat adanya tuntutan mereka harus menyerahkan senjata nuklirnya. Korut menyatakan tidak lagi tertarik pada dialog jika AS mencoba untuk menyudutkan mereka.

"Jika AS mencoba untuk menyudutkan kami untuk memaksa pengabaian nuklir sepihak kami, kami tidak akan lagi tertarik pada dialog tersebut dan tidak bisa melanjutkan KTT Kort-AS," tegas Wakil Menlu Pertama Korut Kim Kye-gwan pada Rabu.

Akhir pekan lalu, ketika penasihat keamanan nasional Trump John Bolton dan Menlu AS Mike Pompeo, berbicara dalam talkshow Minggu (14/5), bahwa kebijakan Trump tentang tekanan maksimum telah memaksa Kim ke meja perundingan. Namun, keduanya memberikan versi yang berbeda atas posisi negosiasi AS.

Bolton sempat menyebut pejabat Korea Utara telah berulang kali menjadikan kematian mengerikan Mohammad Gaddafi, sebagai alasan untuk tidak menyerahkan senjata nuklir Korut. Kim membantah membantah keras hal itu.

“Ini bukan ekspresi niat untuk mengatasi masalah melalui dialog. Pada dasarnya ini adalah manifestasi dari gerakan yang sangat menyeramkan untuk memaksakan negara kami yang terhormat. Takdir Libya atau Irak yang telah runtuh adalah karena menyerahkan seluruh negara mereka kepada kekuatan besar," kata Kim.

Menanggapi pernyataan Korea Utara, Bolton mengatakan kepada Fox News Radio, pada Rabu, bahwa pihak AS berusaha untuk optimistis dan realistis pada saat yang bersamaan.

Bolton mengatakan bahwa serangan pribadi terhadapnya itu, menimbulkan pertanyaan: 'apakah ini benar-benar tanda bahwa Korut tidak mengganggap denuklirisasi dengan serius?'

Juru bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, mengklaim administrasi Trump benar-benar mengharapkan sikap positif Korea Utara dan membiarkan pintu terbuka untuk melanjutkan pembicaraan.

“Jika mereka ingin bertemu, kami akan siap dan jika mereka tidak, itu tidak masalah,” kata Sanders.

Dia menjauhkan Trump dari komentar Bolton tentang model Libya. "Saya tidak melihat itu sebagai bagian dari diskusi apa pun sehingga saya tidak tahu bahwa itu adalah model yang kami gunakan," ujar Sanders.

Dia menambahkan bahwa dirinya belum melihat bahwa itu adalah hal yang spesifik. "Saya tahu bahwa komentar itu dibuat. Tidak ada model cookie cutter tentang bagaimana ini akan bekerja. Ini adalah model Presiden Trump. Dia akan menjalankan ini sesuai dengan yang dia inginkan. Kami 100% percaya diri, seperti yang telah kami katakan berkali-kali sebelumnya, karena saya yakin Anda semua sadar, ia adalah negosiator terbaik dan kami sangat yakin akan hal itu."

Korea Utara sebelumnya telah ragu untum hadir di Singapura sebagai akibat digelarnya latihan gabungan oleh pasukan AS dan Korea Selatan. Pyongyang mengatakan latihan itu melibatkan pesawat tempur B-52 dan F-22. Keduanya mampu membawa bom nuklir.

Korut berpendapat itu mewakili isyarat permusuhan yang melanggar perjanjian April antara para pemimpin Korea Utara dan Korea Selatan. Sedangkan Pentagon mengatakan pada hari Rabu bahwa tidak pernah ada rencana untuk memasukkan pembom B-52 dalam latihan perang Max Thunder. Hanya pesawat tempur F-22 yang telah ambil bagian. (Guardian/OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More