Kemensos Dampingi Anak Korban Jaringan Terorisme

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 16:40 WIB Humaniora
Kemensos Dampingi Anak Korban Jaringan Terorisme

Ist

KEMENTERIAN Sosial menyebut tim Satuan Bakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) telah melakukan langkah awal pendampingan sosial terhadap anak korban jaringan terorisme di Surabaya dan Sidoarjo.

"Kementerian Sosial telah menerjunkan Sakti Peksos untuk melakukan upaya pendampingan dengan tentunya terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan lembaga terkait," kata Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos Edi Suharto di Jakarta, Kamis (17/5).

Edi mengatakan untuk tahap awal, tim berupaya menyusun pemetaan sosial anak-anak yang menjadi korban jaringan terorisme. "Ini langkah awal penanganan cepat sambil menunggu rujukan dari pihak kepolisian. Intinya koordinasi intensif terus kita lakukan," katanya.

Seperti diberitakan, tujuh anak menjadi korban pengeboman tiga gereja di Surabaya. Mereka dirawat di RS Bhayangkara Polda, Jawa Timur. Mereka adalah anak dari terduga teroris yang bomnya meledak di Rusun Wonocolo Sidoarjo, anak dari terduga teroris yang ditangkap di Jalan Sikatan, dan anak dari terduga teroris pengebom Mapolrestabes Surabaya.

Edi mengungkapkan berdasarkan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dalam Pasal 59A disebutkan bahwa pemerintah, pemerintah daerah, dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak.

"Oleh karena itu, siapa pun kita punya kewajiban untuk melindungi karena mereka punya hak untuk hidup, berkembang, dan mendapat perlindungan," katanya.

Dia memaparkan ada empat upaya pemerintah dalam memberikan perlindungan khusus bagi Anak, sebagaimana diatur dalam undang-undang tersebut. Pertama, penanganan cepat termasuk pengobatan atau rehabilitasi secara fisik, psikis, dan sosial, serta pencegahan penyakit dan gangguan kesehatan lainnya.

Kedua, pendampingan psikososial pada saat pengobatan sampai pemulihan. Ketiga, pemberian bantuan sosial bagi anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. Keempat, pemberian perlindungan dan pendampingan pada setiap proses peradilan.

Edi menjelaskan perlindungan khusus bagi anak korban jaringan terorisme dilakukan melalui upaya edukasi tentang pendidikan, ideologi, dan nilai nasionalisme, konseling tentang bahaya terorisme, rehabilitasi sosial, dan pendampingan sosial.

Secara terpisah, Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Nahar mengatakan upaya perlindungan terhadap anak korban jaringan terorisme telah dilakukan.

Nahar memberi contoh pada 2017, Kemensos telah memberikan perlindungan terhadap 87 anak yang dideportasi dari Suriah karena terkait jaringan terorisme. Mereka, kata dia, menjalani rehabilitasi sosial di Rumah Aman milik Kementerian Sosial.

"Masa rehabilitasi sosial antara satu hingga tiga bulan. Materi yang diberikan seputar wawasan kebangsaan, nilai-nilai keagamaan, toleransi dan keberagaman. Kami bekerja sama dengan BNPT dan Densus 88," papar Nahar. (X-12)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More