Ekspor Batik Sasar US$64 Juta Tahun Ini

Penulis: Erandhi Hutomo Saputra Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 15:10 WIB Ekonomi
Ekspor Batik Sasar US$64 Juta Tahun Ini

ANTARA

NILAI ekspor batik nasional pada tahun 2017 berada di angka US$58,4 juta (Rp800 miliar) atau jeblok sebesar 61% ketimbang tahun 2016 yang sebesar US$149,9 juta (Rp2,05 triliun).

Dirjen Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih mengatakan penurunan ekspor pada tahun lalu itu karena melemahnya kondisi ekonomi global.

"Tahun lalu ekspor turun karena permintaan (global) memang turun. Daya beli 2017 awal turun, baru mau naik ekonomi di akhir," ujar Gati dalam keterangan resmi yang diterima Media Indonesia di Jakarta, Kamis (17/5).

Meski demikian, Gati berharap pada tahun ini ekspor batik mulai rebound dengan target sebesar US$64,4 juta atau naik 10% dari tahun 2017. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan lebih menggencarkan promosi yang sudah dimulai sejak awal tahun.

"(Kita yakin karena) batik Indonesia tidak ada saingannya karena khas. (Batik) Tiongkok dan Malaysia tidak bisa buat yang seperti kita," ucapnya.

Menurut Gati, batik dari Tiongkok kebanyakan bersifat cetak dan motifnya kurang berkembang, begitu pula dengan batik Malaysia.
"Kreativitas batik memang dari Indonesia, khususnya dari Jawa. Batik sebenarnya cuma kita, tidak ada saingan. Malaysia coba-coba bikin batik, tapi mereka melukis, bukan membatik, beda sekali," tegasnya.

Ia menyebut Kemenperin akan gencar dalam melakukan promosi di pasar luar negeri karena saat ini pangsa pasar ekspor batik baru 10%. Sedangkan. 90% merupakan pasar dalam negeri. Ia yakin pangsa pasar ekspor batik Indonesia di Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa tidak akan hilang.

Gati menyebut industri batik Indonesia didominasi oleh sektor IKM yang tersebar di 101 sentra seluruh wilayah Indonesia. "Dari jumlah tersebut, mampu menyerap tenaga kerja sebesar 15 ribu orang," tukasnya.

Untuk mengembangkan potensi industri padat karya berorientasi ekspor. Kemenperin terus meningkatan kompetensi sumber daya manusia dan pengembangan kualitas produk. Salah satunya dengan menampilkan batik menggunakan zat warna alam sebagai upaya menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan bernilai tambah tinggi.

"Pengembangan zat warna alam juga turut mengurangi importasi zat warna sintetik. Di tengah persaingan global yang semakin kompetitif dan dinamis, preferensi konsumen terhadap produk ramah lingkungan terus meningkat. Sehingga batik warna alam ini hadir menjawab tantangan tersebut dan diyakini dapat meningkatkan peluang pasar," pungkasnya. (A-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More