GMKI Dorong Pemberantasan Terorisme

Penulis: Dero Iqbal Mahendra Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 14:21 WIB Politik dan Hukum
GMKI Dorong Pemberantasan Terorisme

Ilustrasi

PIMPINAN Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) hari ini melakukan audiensi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden di Jakarta. Dalam kunjungan tersebut GMKI menyatakan dukungan kepada pemerintah untuk memberantas terorisme di Indonesia.

"Selama 2-3 hari terakhir, kawan-kawan dari kelompok mahasiswa Cipayung, GMKI, PMII, HMI sudah melakukan aksi solidaritas untuk mendukung pemerintah agar bisa memberantas terorisme hingga ke aktor intelektualnya dan bukan hanya pelakunya," terang Ketua Umum GMKI Sahat Martin Philip Sinurat di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Kamis (17/5).

Dirinya juga menghimbau kepada masyarakat untuk bukan hanya berbicara tidak takut karena masyarakat tentu merasa resah. Untuk itu pihaknya juga mendorong agar masyarakat waspada serta melawan terorisme.

Martin menjelaskan jika belajar dari kasus terorisme di Surabaya menunjukkan bahwa faktor ekonomi bukan faktor dominan untuk melakukan aksi terorisme. Sebab jika dilihat pelaku terorisme di Surabaya sudah memiliki hidup yang berkecukupan.

Untuk itu menurutnya ada pihak pihak yang mengajarkan doktrin doktrin yang salah kepada masyarakat. Sehingga dirinya berharap pemerintah, lembaga agama, pendidikan serta ormas dapat bersikap tegas kepada anggota nya untuk memastikan tidak ada anggota maupun pengurusnya yang memiliki pemahaman radikal.

''Kami meminta pemerintah, tokoh tokoh agama, pendidikan, partai politik maupun politisi untuk berhenti mengeluarkan ujaran kebencian atau hal hal negatif seperti hoax yang bisa membuat masyarakat menjadi percaya apa yang mereka sampaikan. Hal itu nantinya dapat memunculkan kebencian kita sebagai suatu bangsa terhadap saudara lainnya. Selain itu semua lembaga tersebut juga harus memastikan agar tidak ada anggota mereka yang berpaham radikal," terang Martin.

Dalam pertemuan tersebut Wapres menyampaikan bahwa aksi teror yang belakangan terjdi di Indoesia bukan hanya terkait dengan persoalan internal negara, melainkan juga faktor eksternal yang melibatkan negara lainnya.

"Seperti adanya negara-negara gagal yang kemudian orang-orang Indonesia datang ke sana, seperti Afghanistan, Suriah, dan lain-lain. Ketika mereka sampai sana, mereka melihat bom di sana, ketika mereka kembali ke Indonesia, mereka memiliki kemarahan untuk membalaskan," terang Martin.

Indonesia sendiri juga sudah berupaya untuk menyelesaikan persoalan terorisme tersebut secara internal dan eksternal. Misalnya kunjungan presiden ke Afganistan yang mencoba menyelesaikan persoalan disana.

Dalam pertemuan tersebut Jusuf Kalla juga meminta agar masyarakat menguatkan peran kelembagaan yang ada dalam rangka menanamkan semangat Pancasila, agar masyarakat terbebas dari radikalisme dan terorisme. (X-10)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More