Perum Bulog akan Lakukan Perubahan Penanganan Beras

Penulis: Andhika Prasetyo Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 11:19 WIB Ekonomi
Perum Bulog akan Lakukan Perubahan Penanganan Beras

ANTARA/Adeng Bustomi

PERUSAHAAN Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) di bawah kepemimpinan Direktur Utama Budi Waseso mewacanakan beberapa perubahan terkait proses penanganan beras, mulai dari penyerapan hingga penyaluran.

Budi mengugkapkan, setelah melakukan evaluasi awal, beras adalah komoditas pangan yang memiliki keterbatasan usia. Artinya, bahan pangan itu tidak bisa disimpan terlalu lama apa lagi hingga berbulan-bulan.

Maka dari itu, ia mengatakan Bulog akan mulai mengubah proses penyimpanan.

"Bulog tidak akan lagi menyimpan beras, menyetok beras dalam waktu lama. Apalagi dengan kondisi penyimpanan kita yang masih tertinggal jauh dari sistem yang baik dan modern," ujar pria yang akrab disapa Buwas itu di kantornya, Jakarta, Kamis (17/5).

Sebagai gantinya, ia menyatakan pihaknya akan melakukan penyimpanan dalam bentuk gabah. Gabah yang diserap dari petani tidak akan langsung diproses menjadi beras.

"Suatu ketika kita perlu baru kita giling. Cadangan pemerintah nanti juga dalam bentuk gabah. Tapi pasti tetap ada yang siap pakai tapi tidak akan besar. Tujuannya apa? Tidak boleh ada lagi beras yang kelamaan disimpan, lalu berkutu, dijual ke saudara kita yang tidak mampu," tegas Buwas.

Dari segi penyaluran, ia mengatakan tidak akan lagi melakukan operasi pasar. Pasalnya, ia menilai kegiatan itu hanya memperlihatkan bahwa perseroan tidak memiliki perencanaan yang matang.

"Saya tidak mau ada operasi pasar. Itu kaya pemadam kebakaran. Artinya tidak ada perencanaan yang matang pada awalnya," ucapnya.

Ia mengatakan ada banyak hal yang harus mulai dibenahi dalam proses operasional perseroan.

"Maka dari itu, ke depan tentu akan ada perubahan sesuai perkembangan. Pastinya bertahap. Tidak mungkin secara langsung," tandasnya. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More