Hidupkan Terus Nilai Gotong Royong

Penulis: Astri Novaria Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 09:45 WIB Politik dan Hukum
Hidupkan Terus Nilai Gotong Royong

ANTARA FOTO/Aji Styawan
Ketua Dewan Peng- Karah Badan Pem- binaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarnoputri

KETUA Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarnoputri mengajak seluruh tokoh agama untuk menyemarakkan sikap gotong royong kepada masyarakat sebagai nilai utama Pancasila.

"Hakikat kehidupan bangsa Indonesia yang religius ini di dalam implementasinya yaitu gotong royong," kata Megawati dalam sambutannya saat Silaturahim Kebangsaan Pembinaan Ideologi Pancasila di Masjid Istiqlal, Jakarta, kemarin.

BPIP meminta bantuan para tokoh agama dan masyarakat untuk menyosialisasikan manfaat nilai-nilai dalam Pancasila. Dia menjelaskan negara Indonesia lahir dari semangat gotong royong mencapai kemerdekaan dari penjajah tanpa memandang perbedaan suku, agama, dan ras (SARA).

Pada masa revolusi, para pejuang kemerdekaan Indonesia meneriakkan kalimat yang sama tanpa memandang ras atau agama masing-masing, yaitu merdeka atau mati.

Ia menambahkan, semangat kebersamaan dalam gotong royong tersebut terus ditanamkan kepada pemuda untuk menjaga persatuan NKRI pada masa saat ini.

Megawati mengatakan Presiden Joko Widodo berupaya menjaga keadaan di Indonesia aman dan damai untuk kesejahteraan seluruh masyarakat.

Pada acara silaturahim tersebut, sejumlah tokoh agama hadir di selasar Masjid Istiqlal, yaitu Imam Besar Masjid Istiqlal Nazaruddin Umar, tokoh agama Kristen Pdt Henriette Hutabarat-Lebang, tokoh agama Katolik Ignatius Suharyo, tokoh agama Hindu Ida Pangelingsir Agung Patra Sukahef, tokoh agama Buddha biku Pannavaro Mahathera, dan tokoh agama Khonghucu Chandra Setiawan.

Hadir pula Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan Kepala BPIP Yudi Latif.

Bersikap moderat

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mengingatkan warga nahdiyin di Tiongkok untuk bersikap moderat dan mengutamakan toleransi agar bisa diterima semua lapisan masyarakat.

"Liberal tidak sama dengan moderat. Setuju dengan LGBT termasuk liberal, tetapi belum moderat. Sikap moderat membutuhkan kecerdasan. Orang yang tidak cerdas tidak akan bisa bersikap moderat," katanya dalam acara silaturahim PBNU dengan warga NU di Tiongkok di KBRI Beijing, kemarin.

Lebih lanjut dia menjelaskan kecerdasan disebabkan ilmu dan pemahaman yang mendalam serta mengerti maksud dan tujuan.

"Tindakan seperti mengebom, menyerang, jelas tidak membutuhkan kecerdasan. Sikap moderatlah yang membutuhkan kecerdasan," ujarnya.

Kemudian dia menyebutkan bahwa dalam Islam terdapat tiga hal utama, yaitu akidah, syariah, dan ahlaqul karimah.

"Syariah ibarat atap yang dibangun belakangan karena yang terpenting adalah fondasi. Kalau bicara syariah lebih dahulu pasti bertentangan. Jangankan dengan non-Islam, sesama Islam pun pasti bertentangan," katanya menambahkan.

Menurut dia, NU membangun akhlak yang mulia (ahlakul karimah), seperti saling menghargai, jujur, penolong, dan gotong royong. "NU Tiongkok harus pandai menyampaikan nilai-nilai universal. Toleran baru bisa dilakukan kalau seseorang berakhlak mulia. Tanpa akhlak yang mulia, tidak akan ada sikap toleran atau menghormati perbedaan," tandas Said yang juga menyaksikan ikrar para Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. (Ant/P-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More