Masjid Angke Simbol Kerukunan

Penulis: Sri Utami Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 08:14 WIB Islam Nusantara
Masjid Angke Simbol Kerukunan

MI/PIUS ERLANGGA

SEHARI menjelang Ramadan, Muhammad Abyan Abdil, 40, sibuk membersihkan Masjid Al Anwar. Bersama beberapa rekannya, ia juga menyiapkan kebutuhan pelaksanaan salat tarawih pertama pada Ramadan 1439 Hijriah ini.

Di masjid yang juga dikenal dengan sebutan Masjid Angke di Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, itu mereka membentangkan terpal di halaman masjid, menambah pengeras suara, membersihkan sajadah dan kipas angin.

Tangan Abyan yang menghitam akibat debu kipas angin buru-buru dibersihkan saat sejumlah pengunjung datang ke masjid yang dibangun pada abad ke-17, tepatnya 26 Syakban 1174 Hijriah atau pada 1751 tersebut.

Setelah menghentikan aktivitas bersih-bersih masjid, sambil menyeruput kopi panas, Abyan yang merupakan keturuan kedelapan pemilik awal tanah sekaligus pengurus masjid itu menceritakan begitu berharganya Masjid Angke. "Tempatnya memang nyempil di gang sempit ini. Namun, kalau mau melihat NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) mini, ya di sini," ujarnya saat ditemui, kemarin.

Masjid Angke, katanya, dibangun dengan semangat kerukunan, perbedaan, dan toleransi yang telah mendarah daging. Nilai kerukunan bahkan tergambar jelas dalam setiap sudut bangunan masjid.

"Masjid dibangun dengan akulturasi berbagai budaya dan keberagaman. Pembangunannya pun dilakukan oleh masyarakat yang berbeda budaya dan agama, seperti Hindu Bali. Arsiteknya orang Tionghoa muslim, ada Jawa, Arab, dan Eropa," imbuhnya.

Saat menyusuri selasar masjid terlihat dinding masjid bermotif lengkungan corak arsitektur Eropa. Bangunan masjid juga dihiasi unsur kayu. Di pucuk atap masjid terdapat mestapa serta patung nanas sebagai simbol kerukunan dan persatuan.

Di pintu utama masjid berbingkai kayu dengan ukiran bunga mencirikan budaya Hindu Bali. Jendela masjid dibuat tanpa daun, hanya berjeruji kayu bubut sehingga berfungsi sebagai ventilasi udara.

Bubutan kayu jeruji jendela merupakan ciri Eropa. Kuda-kuda bangunan berciri Jawa, sedangkan ukiran dan bentuk atap masjid mencirikan budaya Hindu Bali dan Tionghoa.

"Setengah dari bangunan masjid terdiri atas unsur kayu, yakni kayu jati, meranti, dan ulin. Dahulu atapnya digunakan untuk mengumandangkan azan dan di atasnya ada simbol kerukunan, yaitu patung buah nanas," jelas Abyan.

Mulai lapuk

Namun, kayu di beberapa bagian bangunan tersebut mulai lapuk dimakan rayap, seperti terlihat pada bingkai ketiga pintu masjid, ventilasi udara, hingga beberapa penyangga bangunan.

Ia juga mengungkapkan, arsitek Masjid Angke yang merupakan seorang Tionghoa muslim bernama Syaikh Liong Tan. Inisiatif pembuatan masjid muncul dari warga sekitar yang merupakan warga Hindu Bali yang ketika itu bekerja sebagai budak.

"Pada abad ke-15 kampung ini merupakan perkampungan masyarakat Hindu Bali. Dengan berkembangnya Sunda Kelapa (Jakarta sebelum 1527), banyak warga memeluk agama Islam dan hidup berdampingan dengan warga Bali. Karena (muslim) membutuhkan tempat ibadah, dibangunlah masjid ini pada saat Tionghoa masuk ke Batavia," ungkapnya.

Keberagaman di kampung yang kini makin terdesak oleh deretan bangunan ruko itu memiliki nilai kerukunan yang menjadi dasar hidup berdampingan secara damai. (H-1)

 

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 21 Jul 2018 / Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dhuha : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK

Read More