Sawit Jadi Sasaran Hoaks, Nasib Petani Terancam

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Kamis, 17 Mei 2018, 07:35 WIB Ekonomi
Sawit Jadi Sasaran Hoaks, Nasib Petani Terancam

ANTARA/Aswaddy Hamid

KELAPA sawit telah menjadi sasaran hoaks atau kabar bohong yang cukup mengemuka di dunia termasuk di Eropa. Jika tidak diluruskan, Indonesia akan terkena dampak negatifnya, terutama 2,3 juta petani kecil di Indonesia dan 17,5 juta pekerja di sektor sawit.

“Ternyata terhadap data itu istilah halusnya banyak dilakukan distortion of fact. Nah, itu yang banyak dlakukan negara-negara di Eropa,” terang Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan di tengah-tengah kunjungannya ke Italia pada 14-16 Mei.

"Sekarang ini kita kembali menyajikan data bahwa rule nomer satu dari WTO itu keadilan, jadi tidak boleh ada diskriminasi,” imbuh Luhut dalam keterangan resmi, Kamis (17/5).

Dalam lawatan ke Roma, Luhut menjelaskan strategi diplomasi sawit ialah dengan menyatukan data dan menyampaikan fakta yang lengkap tentang industri sawit.

“Sisi lain (dari industri ini) harus diceritakan’,” dukung Kardinal Peter Turkson yang menyorot peran industri sawit terhadap pengentasan kemiskinan.

Pada acara seminar yang diselenggarakan organisasinya bersama Indonesia dan Malaysia di Pontifical Urbana University, Kardinal Turkson juga menekankan bahwa peran organisasinya adalah tidak untuk berkelahi dengan pihak manapun, tapi ingin meletakkan keseimbangan antara kegiatan ekonomi sosial manusia dengan kepentingan kelestarian lingkungan.

Selain dari Dicastery for Promoting Integral Human Development di bawah pimpinan Kardinal Turkson, dukungan lain juga didapat Luhut dari dua badan PBB yaitu Food and Agriculture Organization (FAO) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) yang terkait masalah kemanusiaan, kemiskinan, kelaparan, agrikultur, dan peningkatan taraf hidup.

“Dukungan IFAD dan FAO banyak. Nanti seperti IFAD itu akan konferensi back to back di Bali, sementara itu mereka juga akan melakukan lobi, begitu juga FAO,” kata Luhut mengutarakan rencana tindak lanjutnya untuk mengadakan pertemuan teknis di Bali Oktober mendatang bersamaan dengan penyelenggaraan IMF-WB Annual Meeting 2018.

Lebih jauh, Luhut menjelaskan bahwa dukungan itu diberikan karena semua pihak sepakat dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) yang target nomor satunya adalah pengentasan kemiskinan.

“Masalah kelapa sawit ini masalah yang harus diselesaikan secara terintegrasi, karena itu menyangkut masalah kemiskinan itu adalah kaitannya dengan SDGs itu nomer satu kemiskinan,” tukasnya.

Sebagai hasil akhirnya, Luhut berharap publik mendapatkan perbandingan tiga produk utama pertanian yang menghasilkan minyak tersebut.

“Jadi Kalau memang harus disaingkan ya tidak apa-apa, \palm oil disaingkan sunflower atau dengan soybean," ungkap Luhut yang menginginkan adanya keadilan dalam penilaian.

“Padahal biji bunga matahari dan kedelai itukan kurang efektif bila dibandingkan palm oil,” lanjutnya yang menerangkan bahwa kelapa sawit dapat menghasilkan minyak sampai 10 kali lebih banyak daripada 2 komoditi lainnya.

Masalahnya, perbandingan yang adil tidak pernah muncul karena kampanye negatif yang memberikan stereotipe bahwa minyak sawit berdampak pada kerusakan hutan, membahayakan kesehatan manusia, dan mengganggu habitat hewan yang dilindungi.

Justru fakta kontribusi industri sawit yang dapat menciptakan lapangan kerja dan mengentaskan kemiskinan di negara-negara berkembang, terabaikan.

Jika kampanye yang tidak berkeadilan ini tidak diatasi, kendala terdekat bagi Indonesia akan terjadi pada 2021, saat Parlemen Uni Eropa melarang impor sawit untuk penggunaan biofuels dan bioliquids termasuk biodiesel.

“Buat indonesia ada hasil penelitian dari Stanford itu menunjukkan memang yang paling banyak mengurangi kesenjangan kita dari 0,41 ke 0,39 itu adalah palm oil salah satunya yang paling besar. Kalau itu terganggu ini akan merusak nanti beberapa juta orang terkait masalah kemiskinan,” tutup Luhut. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More